Rabu, 31 Mei 2017

Media Hibernate

Chris C. Anderson, LinkedIn
4 years as a #journalist, almost half my age as #PR person, and now spesifically working in the realm of #mediamonitoring and #predictiveanalysis, all of which unfortunately become my 'curse'. Ironically, and much frequently, "news" become one of the things that I avoid just to stay sane. Then I really understand what Chris C. Anderson means in this post. Though questions about keeping the equilibrium still popping here and there ..

Chris said:


The news has been overwhelming lately. The terrorist attack on children in Manchester, the barrage of Trump revelations, Chris Cornell suicide and more. It's exhausting. While we should all strive to be informed, there's no shame in tuning out for a bit. Unless of course you work in a newsroom. Whenever you feel the news dragging you down, I recommend stepping back from it for a while. Take a breather. Turn off your news app and social media alerts for a couple days or weeks, only browse the Internet when necessary and generally try to remember there's so much in the world that you can't control. But you can control your daily life, if you spend time with your family and friends, impacting your local community or taking time to focus on yourself. The news will always be there when you're ready to jump back into the tornado. Now please excuse me as I'm going to spend the day with my wife and daughter.
Share:

Minggu, 21 Mei 2017

Diskursus Pengukuran 7 Juta Status


Posting di blog ini berisi penjelasan lanjut dari posting-posting sambil lalu di medsos dan kompasiana. Untuk menyanggah dan berkomunikasi tentang isu terkait, semua kanal komunikasi dipersila; untuk terhubung di FB, path, atau google+, di versi desktop langsung aja pencet button di sebelah kanan atas screen.

Kalau ada yang belum ngeh dengan isu yang dibahas ini, karena masih mabok honeymoon misalnya ;p , monggo tengok grafis di bawah. Ada beberapa varian, tapi beberapa hari itu seliwar seliwir posting gerakan 7 juta status atau sejenisnya.

***

Ga ngajak berdebat di wilayah ideologis atau keberpihakan (jika kepo soal keberpihakan pun, sila gulir/scroll linimassa saya di FB).

Semata buka diskusi soal teknis.

Keseharian kami di Departemen Riset dan Media Monitoring - bersama teman-teman di Departemen Media Baru - adalah "mengukur" dan "memantau". Jadi: analisis tone, google trend, metrik, digital clip n doc, valuasi berita, update rank, update pageviews, dan sejenisnya sudah menjadi 'siksaan' tersendiri (haha).

Ketika sejumlah posting Gerakan 7 Juta Status bermunculan di facebook - sekali lagi facebook, ya - dengan akhir kalimat begini: kopas, jangan share agar tercapai 7 juta; saya sempat bertanya-tanya, itu ngukurnya pake apa, ya?

Graph API yang bisa mengukur impresi pun hanya bisa dipakai di fanpage dan iklan, bukan akun reguler. Dan yang bisa baca nilai impresi itu kan hanya yang meng-admin-i fanpage. Terlihat misalnya dari "views": People who saw this post.

Untuk fanpage yang ga kita adminin ya ga bisa.

*dalam kasus ini nilai impresi yang dimaksud misalnya: berapa banyak yang malam Minggu ini update status dengan keyword "galau" (haaaatchim ..). Kita pengen tahu berapa banyak orang yang nyebutin kata "galau" di postingan hari itu, jebret lalu keluar datanya.

Ga bisa, facebook belum menyediakan layanan macam itu.

[impresi jenis ini juga disebut PTAT - People Talking About This. Sampai saat ini - tolong koreksi kalau saya salah - belum ada aplikasi berbayar sekalipun yang bisa membaca impresi ini di facebook. Di facebook lho, ya.

Ada sih layanan facebook trend, tapi cuma bisa dipakai di region-region tertentu dan Indonesia ga termasuk di antaranya :((]

Yang rada-rada dekat dengan metrik macam itu di facebook, mungkin dari banyak-banyakan jumlah anggota grup. Dulu kan sering tuh: Gerakan 10 Triliun Facebookers Tuntut Akhiri Pembullyan Jomblo, misalnya - yang sekarang kecenderungannya sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan twitter yang lebih mudah masuk jaring metrik dengan ataupun tanpa hashtag/tanda pagar dan bukan hanya dilihat dari trending topic, facebook sampai saat ini tampaknya belum menyediakan layanan seperti itu. Twitter yang konon mulai redup pamornya masih sangat kepake untuk kebutuhan metrik dan analisis.

Apalagi kalau pakai mesin monitoring premium berbayar.

Kalau ada yang pernah lihat di debat pilkada baru lalu ada tv yang nampilin hasil monitoring persepsi dan preferensi netizen. Nah itu pake twitter. Saya pernah tanya ke Mba Rustika Herlambang, yang perusahaan monitoringnya dipake tv itu, apakah ada hasil persepsi dan preferensi dari facebook, dia ga bisa jawab.

Ya, karena memang enggak/belum ada. Seriously, kalo ada aplikasi atau mesin monitoring macam itu, seriously, mau saya jadiin bahan tesis dah.

Ini ada beberapa metrik di medsos beserta beberapa aplikasi gratisannya (eh, kebaca ga ya. Kecil memang pixelnya. Atau boleh search di pinterest). Btw, aplikasi yang ada di infografis ini ga ada yag bener-bener bisa baca PTAT. Quintly sebagaimana yang disebut di situ, useless. Agorapulse -versi gratisan - juga cuma bisa monitoring fanpage.

Monggo coba aja download dan trial sendiri.



Lalu ada juga yang keukeuh soal hashtag/tagar # di facebook. "Di facebook juga ada kok hashtag, makanya posting statusnya jangan lupa pakai hashtag #kamibersamahrs dst ..".

Well, Mba. hestek di facebook itu nyaris macam jadi asesoris saja. Ga seperti hestek di twitter yang secara algoritmis masuk dalam bacaan tren, sehingga ada yang disebut trending topic. Itu adanya di twitter. 

Kalo di fb, postingan-nya mau pake hestek mau engga, ya ga ngaruh. 

***

Thus, bagus juga mungkin ini jadi inputnya Mas Zuckerberg. Buat orang-orang monitoring macam sayah, jelas layanan metrik macam itu di facebook bagai musim semi setelah paceklik .. ga nyambung yess..

Ke Surabaya nyeruput rawon (jauh amat), Yang ga setuju ya sumonggo mawon.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/detti.febrina/diskursus-pengukuran-7-juta-status_5920ef929397738b048b4568

Keren jika dibully karena mempertahankan prinsip (bela ulama misalnya) lalu dengan percaya diri menunjukkan keberpihakan kita di publik, tapi kan sedih kalau dibully karena metodologi dan logika yang naif. Sekali lagi maaf. Ga ada lain, semoga posting ini manfaat; dan masih suangat terbuka terhadap kritik.
Salam monitoring. 

Share:

Kamis, 06 April 2017

Pengendalian Diri (Mujahadatu Li Nafsihi)


Pengendalian diri tidak linier dengan kemampuan akademis. Bisa saja ada orang yang secara akademis sangat luar biasa, namun tidak bisa mengendalikan diri. Ini karena pengendalian diri memang lebih terkait dengan kecerdasan emosional.

Ada profesor yang kalau marah kebun binatang keluar semua. Tapi ada lulusan SD yang ekspresi marahnya bisa jauh lebih bijaksana. Dan kecerdasan emosional ini ga begitu saja terbentuk saat lahir. Harus diasah. Tentu yang terbaik jika kecerdasan intelektual bisa bersanding dengan kecerdasan emosionalnya. Cerdas intelektual maupun emosional.

Marshmallow experiment - di Stanford Univ. USA thn 1960-an sering jadi rujukan eksperimen pengendalian diri. Para peneliti menguji anak-anak umur 4 tahun/usia TK untuk melihat ketahanan mereka mengendalikan keinginan. Masuk satu per satu ke dalam ruangan, jika bertahan 1/4 jam bisa menahan ga makan marshmallow, maka jatah marshmallow-nya ditambah 2x lipat. Yang berhasil menahan diri cuma 1/3 dari jumlah subyek penelitian.

Ini memang eksperimen ability to delay needs; eksperimen kemampuan menunda keinginan.

Lalu subyek penelitian ini diteliti lagi 14 thn berlalu kira-kira mereka lulus SMA mau masuk kuliah - SAT scholastic assesment test nya lbh tinggi 200 poin. Diteliti lagi pada usia 30 tahun. Jauh lebih sukses. Dan sebaliknya terjadi pada anak-anak yang ga bisa mengendalikan diri.

Ini antara lain menjadi dasar bahwa kesuksesan tidak semata-mata dari kesuksesan akademis tapi justru lebih karena kecerdasan emosional. Self control.

Secara umum, PENGENDALIAN DIRI didefinisikan sebagai tindakan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya di masa kini maupun masa yang akan datang.

Definisi agamanya adalah menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama dan senantiasa taat pada Allah SWT. Terjaga dari maksiat dan bersungguh-sungguh melakukan kewajiban-kewajiban.

Di Quran Surat At Tahrim ayat 6 jelas bahwa tujuan pengendalian diri supaya kita tetap dlm koridor ketaatan pada Allah SWT.

Orang yang bisa mengendalikan diri - mampu meletakkan potensi-potensi ruhiyahnya di atas potensi nafsunya. Di terminologi nafsul insan - jiwa manusia, ada yang ruhnya didominasi hawa-nya, disebut NAFSUL AMARAH. Ada yang ruhnya senantiasa bertarung dengan hawa, disebut NAFSUL LAWWAMAH. Ada yang ruhnya mendominasi hawanya - yang seperti ini yang disebut NAFSUL MUTHMAINNAH, jiwa yang tenang.

Dan untuk mencapai nafsul muthmainnah ini tentu bukan gampang.

Maka Allah turunkan nabi dan rasul sebagai contoh bagaimana cara mengendalikan hawa tadi. Indikator capaian kita ya tentu saja menjadi nafsul muthmainnah walaupun secara ideal belum bisa sampai betul-betul ke situ. Kalau kita petakan posisi kita mungkin ada yang masih nafsul lawwamah. Insya allah di sini ga ada yang termasuk nafsul amarah, ya.

Pengendalian diri ini memang masuk dalam mujahadatun nafs - mujahidu li nafsihi. Kesungguhan untuk mengendalikan diri sendiri.

HR Muslim dari Hudzaifah ibn Yaman: Kata Rasul SAW, fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran.

Jadi nafsu yang hitam dan yang putih itu saling anyam menganyam. Yang menang terlihat dari mana yang dominan. Hitam, putih, atau abu-abu?

Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan oleh Wahab Bin Munabbih: “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakaria a.s, lalu Nabi Zakaria berkata kepada iblis: “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu iblis menjawab:
1. Golongan pertama dari manusia ialah yang seperti kamu ini (para nabi dan rasul). Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).
2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerahkan diri mereka bulat-bulat kepada kami.
3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdaya dan mencapai hajat kami, tetapi ia segera mohon ampun dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai."

Jadi untuk golongan pertama ini mereka - iblis - ga terlalu tertarik menggoda karena golongan ma'shum. Golongan kedua ga usah digoda juga sudah lebih dari iblis. Sampai ada pameo: Iblis sendiri aja udah ngeri ngeliat dosa-dosa manusia. Dan iblis justru takut melihat golongan ketiga. Yang bertarung antara benar dan salah, melakukan kesalahan, tapi lalu bertobat.

Beberapa bentuk pengendalian diri:

1. Pengendalian diri terhadap rasa marah.
Rasul mencontohkan bahwa rasa marah itu bagian dari fitrah manusia, tapi bagaimana agar rasa marah itu tidak keluar dari ajaran islam. Kata rasul SAW saat marah maka sesungguhnya setan sedang bersama kita. Coba kalau sedang merah bercermin atau difoto, wajahnya ya kira-kira seperti yang membersamai itu. Makanya ganjaran bagi orang yang bisa mengendalikan marah itu luar biasa. Laa taghdob fa lakal jannah. Surga.

Kata Rasul SAW kalo lagi marah: 1. Diam. 2. Berganti posisi yang lebih rendah: duduk atau berbaring. 3. Berwudhu atau mandi sekalian.

2. Mengendalikan rasa frustasi atau kecewa
Kalau hidup ga ada kecewanya mungkin kita ga bakal tahu bagaimana kenikmatan hidup itu. QS Ar Ra'du: 28 - banyak-banyak ingat Allah, akan menghilangkan rasa frustasi/gundah. Frustasi berasal dari jiwa yang kosong, ga bahagia. Makanya kita diajarkan agar menyucikan jiwa. Thariqat shufiyah. Membiasakan berdzikir seperti sufi. Berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring.

3. Mengendalikan syahwat.
Kalau wanita misal: syahwat lisan. Kalau laki-laki syahwat pandangan.
Pangkal terjerumus pada maksiat adalah karena ga bisa menahan syahwat pada saat pertama. Dulu kakek saya sering mengingatkan, "Sebelum berbuat, coba banyak pikir dulu." Tapi karena masih kecil belum mengerti. Setelah SMP, SMA baru saya pikir-pikir petuah kakek saya banyak benarnya.
*merasakan muraqabatullah, pengawasan Allah setiap saat.

4. Mengendalikan emosi saat informasi simpang-siur. Misal ada isu apa di media. Langsung merespon. Padahal jauh dari kebenaran. - tabayyun, cek dan ricek. Harus punya kecerdasan literasi. Jangan langsung dipercaya.

Apa saja sarana yang bisa kita lakukan dalam pengendalian diri:
1. Sholat. Sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Orang yang benar-benar menjaga sholatnya pasti terjaga dari hal-hal lain. Sholat yang bukan hanya hadir fisik, tapi juga hatinya.
2. Shaum. Salah satu tujuan puasa yang utama adalah pengendalian diri baik dari maksiat secara keseluruhan maupun dari yang mubah atau syubhat. Shaum juga membantu menundukkan pandangan dan mengendalikan nafsu bagi yang belum mampu menikah.
3. Dzikir. Bukan hanya dengan lisan. Dzikir juga bisa dengan amal-amal, dengan kerja-kerja. Berdoa juga termasuk dzikir. Diam pun bisa dzikir. Dzikir itulah yang membuat kita tenang.
Indikator keberhasilan pengendalian diri:
1. Wara - menjaga diri - dari yang syubhat dan mubah. Misal: makan itu mubah, tapi kalau berlebihan tidak baik. Berpakaian itu mubah tapi kalo ujub, untuk bermegah-megah, berbangga-bangga, ya ga dibolehkan.
2. Bersabar atas prilaku buruk orang lain terhadap kita, khususnya terhadap saudara sendiri. Salamatus shadr - selemah-lemah ukhuwah: berlapangdada pada kesalahan saudara kita. Kalau semisal ada saudara kita membuat tersinggung, ikhlaskan saja. Semoga menjadi kafarat bagi dosa-dosa kita.
3. Mampu mengendalikan emosi secara umum. Apalagi bagi da'i. Da'i kok temperamental ya bukan da'i.
4. Merendahkan suara; bukan berarti kalo ngomong harus pelan-pelan terus, tapi ini lebih terkait dengan adab berbicara. Dengan siapa kita bicara. Meninggikan suara karena menganggap diri lebih benar, lebih pintar, sangat tidak diperbolehkan apalagi terhadap guru dan orangtua, terlarang dalam agama.
5. Mendorong diri senantiasa berinfak. Ini bentuk pengendalian diri dari ketamakan atau kikir terhadap harta. Shodaqoh dan infak salah satu cara meniadakan kikir dan tamak harta.
6. Membiasakan diri melakukan dzikir harian.

[]

Taujih "Pengendalian Diri"
Oleh Dr. Amrul, S.T., M.T.
Taklim jalasah ruhiy PPM-DH B. Lampung, Sabtu 23 Januari 2016

pict: AyoLebihBaik
Share:

Habibie: Jangan Sekali-kali Berharap Jadi Pahlawan


Transkrip LEADERSHIP TALK Presiden ke-3 RI BJ. Habibie
@Milad18PKS, Minggu, 24 April 2016, Kartika Chandra, Jakarta
Pimpinan PKS yang saya hormati dan sayang.

*uhuk2* (eyang lagi sakit)

Para tokoh dan pimpinan yang hadir di sini yang tak bisa saya sebutkan satu per satu, yang saya hormati dan sayang.

Saya diminta memberikan pengarahan mengenai kepemimpinan. Saya dalam hal ini bukan ahli dalam kepemimpinan. Orang tahu semua Habibie ahlinya apa (audiens grr). Tapi dalam kehidupan saya yang insya allah kurang dari 2 bulan lagi berusia 80 tahun dan saya telah melalui banyak sekali masalah-masalah yang harus diselesaikan dengan baik.

Satu saya pelajari: HARUS KERJA KERAS.
Kedua, HARUS RASIONIL.
Ketiga, HARUS PROFESIONAL DALAM BIDANGNYA.
Dan akhirnya JANGAN SEKALI-SEKALI MAU JADI PAHLAWAN. Kepahlawanan itu mahal. Kita tidak mau dan penting menjadi pahlawan. Yang penting kita menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Tugas apa saja. (applause ..)

Saya mau sampaikan sama Anda. Anda bisa cek di buku Detik-Detik Yang Menentukan, Habibie dan Ainun. Banyak sekali buku-buku. Satu yang jelas. Semua tahu bahwa yang namanya Baharuddin Jusuf Habibie ditinggal ayahnya ketika ayahnya sedang menjadi imam dan memimpin sholat isya. Saya usianya ketika itu 13 thn. Saya melihat saat ayah sujud. Dia imam di depan. Allahu akbar. Heart attack. Meninggal di atas sajadah.

Tapi sebelumnya waktu saya umur 5 tahun. Ayah saya itu ahli pertanian. Dia bekerja di tempat yang sekarang menjadi IPB Bogor. Dulu namanya Landbouwschool. Punya balai percobaan. Waktu saya umur 5 thn: "Sini nak, kamu ikut dengan bapak lihat balai percobaan. Lihat itu ada mata air. Apa yang kamu lihat di mata air itu?" "Apa, pak? Indah, pak. Hijau. Kupu-kupu." "Lihat, beberapa meter dari sini ada orang mengambil air untuk dibawa ke rumahnya. Mengerti apa artinya?"

Anak 5 tahun. "Saya tak tahu kamu nanti besar jadi apa. Tapi saya harapkan kamu jadi kepala keluarga yang baik, perilakumu seperti mata air itu. Keluargamu, saudara, semua melekat."

Saya yakin itu berlaku untuk Anda, sama seperti berlaku untuk Habibie. (applause ...)

Saya tidak tahu. Tidak pernah bercita-cita jadi menteri. Saya hanya ingin jadi insinyur dan membuat kapal terbang. Anda catat. Dari situ ambil kesimpulan.

Saya datang ke Jerman umur 18 thn. S1 masuk pusat keunggulan teknologi di Jerman. Semua yang top di situ bagian teknologi masuk di situ. Saya masuk di situ susah (audiens ketawa). Yang diuji 5 persen dari yang datang. S1 di situ, S2 di situ, S3 di situ. Selesai umur 28 thn, tahun 1964. Saya cerita ini ada maksudnya. Waktu 1964, September Ilham sudah lahir. Saya sudah menikah dengan Ainun. Masalah rumahtangga. Tapi di benak saya jadikanlah mata air dari keluargamu.

Saya waktu di Jerman jika mau S3 Anda tidak bisa melamar. Yang mau melamar misal untuk konstruksi pesawat terbang hanya ada 4 tempat. Yang melamar waw banyak. Ditender. Kalo anda yang dipilih anda ga bayar. Anda digaji. Gajinya 10 persen lebih tinggi (dibanding) kalo anda kerja di industri.

Saya beruntung diterima, Dik. Waktu itu belum nikah, Dik, dengan Ainun. Diterima salah satu dari 4 itu. Lalu saya pulang, nikah. Dan seterusnya Anda sudah liat filmnya.

Waktu saya selesai S3, bidang saya adalah hypersonic float. Saya cerita, Dik. Sebelumnya saya bekerja mengadakan riset untuk kapal selam yang selam lebih dalam di 300 meter. Yang lain ga bisa karena tekanan air makin dalam makin besar. Dan kalo terlalu berat ga bisa naik lagi. Saya kembangkan. Tiba-tiba yang saya kembangkan itu bisa dikembangkan oleh Departemen Pertahanan (Jerman), karena dia yang bayar.

Belum ada laptop, belum ada yang seperti itu dan pekerjaan saya harus diteruskan orang lain. Karena waktu itu menjelang tahun 1960 tahulah keadaannya di Indonesia tidak kompatibel dengan cara berpikir di Eropa dst. Saya paspor Indonesia. Saya boleh meneruskan jika saya ganti paspor Jerman. Saya ga mau. No way. (Applause).

Ok. Ambil pekerjaan saya. Saya tanya sama prof, lalu saya ngapain? "Habibie, kamu ngajar aja mengenai irreversible aerodinamica." 1001 macam yang mentok-mentok waktu itu. Mahasiswanya paling 20 waktu itu. Saya ngajar. Dibayar sih (ketawa).

Sekarang apa yang terjadi. Profesor datang. "Habibie, ada masalah. Tahu ga kalau balistic misile kalo ditembak ke atas. Udara makin tipis-tipis, tapi kemudian udara makin tebal menjadi shockwave sehingga peluru roket itu panas. Bagaimana itu (solusi)nya?"

Saya bilang. Prof, saya pelajari dulu. Setelah itu dipanggil kamu dah pelajari? Sudah. Kamu bisa selesaikan? Bisa, tapi syaratnya saya dapat S3 dan tidak boleh laksanakan seperti waktu kapal selam saya (ketawa). Harus berani.

(Penelitian) harus rahasia. Ga boleh publish. Habibie ga boleh publish, hanya yang penting-penting saja. Beberapa tahun kemudian saya bisa selesaikan. Teorinya bagaimana, menghitungnya bagaimana sampai dengan bisa diterapkan. Ketika itu terjadi, tawaran datang. Habibie ditawari jadi guru besar di Aacheen. S3 28 thn. 29 thn jadi guru besar. Kamu maunya apa? Mau buat kapal terbang. Untuk apa? Untuk rakyat saya (applause).

Datang tawaran dari industri. Amerika. Eropa. Saya bilang saya tidak mau. Yang saya pilih industri pesawat terbang yang paling kecil, letaknya di Hamburg, hanya 3000 orang. S3 hanya 3 orang. Saya seperti Anda, wajah Indonesia 28 thn dikira 18 thn (ketawa). Wajah muda tidak berjenggot (ketawa).

Datang. Sekarang. Anda catat nanti kita ambil kesimpulan.

Directornya bawa kertas-kertas. "Anda kemari mau jadi direktur atau kepala bagian? Mau apa?" Saya mau buat pesawat terbang, ga mau (jadi) direktur. "Ga mau jadi kepala atau pemimpin?" Tidak. Saya mau buat kapal terbang. Saya ditanya tentang kapal terbang. "Apa syaratnya supaya kamu bisa kita terima?" Saya punya anak istri. Barang tidak banyak. Kamu harus bayar tiket dan biaya pindah. Saya minta flat, tidak mau rumah, mau yang lingkungannya berpendidikan. Karena anak saya akan masuk kindergarten. "Tapi mahal." Kalo ga mau ya ga usah (ketawa). "Mau mobil?" Ngga usah, saya naik bus.

Saya dijanjikan akan digaji 1300 deustche mark (DM). Waktu itu banyak. Saya minta ditingkatkan supaya jadi 1500 DM. "Oke kapan kamu bisa mulai?" Saya masih kontrak mengajar. Lalu kembali ke institut . Ditanya kamu melamar ya di perusahaan kecil itu? Kamu jangan merusak pasar, dong. Itu terlalu rendah. Tidak diberi 1500 DM. Tapi akhirnya 2500 DM.

Kesimpulan. Saya tidak kejar duite (beneran ngomongnya duite, not.). Saya kejar pekerjaan yang bisa menjadikan saya unggul, tapi pekerjaan itu halal (applause).

Sekarang kita bicara mengenai KEUNGGULAN.

Anda itu saya anggap sehat. Sehat keluarganya. Bangsa ini kita perjuangkan semua sehat. Tadi bagus tandatangani keluarga anti narkoba (sebelumnya ada acara penandatanganan MoU PKS dengan Ketua BNN RI Budi Waseso untuk program Keluarga Anti Narkoba bekerjasama dengan Rumah Keluarga Indonesia-RKInya PKS, not.).

Dalam hal ini kita akan ikut berantas narkoba.

Sekarang keunggulan itu anda harus mengalami proses pembudayaan yang nilainya outputnya iman dan takwa yang bernilai tinggi. Itu setiap kali saya bilang budayanya jitu. Agamanya jitu. Agama anda dan saya sama. Al Quran dan sunnah jitu. Budayanya berbeda. Ada orang Jawa, Sumatra, batak, bugis. Berbeda.

Nah tetapi budaya itu harus bersinegi dengan agama. Oke? Itu menghasilkan iman dan takwa. Sehingga budaya dan agama tidak cukup, Dik. Anda harus trampil dalam bidangnya sehingga bersinergi: budaya, agama, iptek, ketrampilan. Outputnya produktivitasnya meningkat. Tapi kalo produktivitas sudah meningkat dan Anda nganggur bagaimana mau jadi unggul?

Anda hanya bisa jadi unggul kalau sudah melalui proses pemberdayaan pribadi yang merupakan sinergi positif agama, budaya, dan iptek. Anda baru jadi unggul kalau Anda diberi kesempatan menyelesaikan masalah-masalah kompleks. Mulai dari yang sederhana, sistematis, makin kompleks.

Kesimpulan. Kita harus perjuangkan pendidikan.

Hei, Bung, pendidikan dimulai dari rumah, dari ibu-ibu. Bapak-bapak juga harus ikut. Kalau itu sudah, kita baik ibu dan bapak, memberikan yang sesuai ketrampilan, sesuai dengan interest anak atau cucu, pendidikan yang tepat. Setelah itu anda lepaskan dan nikahkan.

Anda harus perjuangkan agar semua produk yang kita beli di bumi Indonesia itu adalah sebagian besar karya Anda-Anda sendiri.

Kita bicara soal jam kerja. Maka saya harapkan partai dimanapun berada tiap jam kerja harus ada bagian dari anak cucu kita. Kalau Anda tidak begitu tidak mungkin anak cucu kita menjadi unggul, Dik. Saya bicara sebagai eyang dan bapak anda yang mengalami itu.

Sekarang soal proses nilai tambah pribadi, oke. Proses budaya iman takwa dan iptek oke. Tingkatkan produktivitas, maka anda akan jadi unggul. Apakah sudah dilaksanakan?

Jadi tidak masalah jika Anda juga perjuangkan lapangan kerja. Ada yang lapor, kami industri, lapangan kerja, tapi kita harus datangkan orang dari negara tersebut untuk melaksanakan. Saya katakan itu salah, tidak boleh walau debatnya 1000 macam. Begini aja, kamu ekspor barang dan bawa pekerjanya dari negara dia. Ga akan bung! (Applause)

Itu anda harus perjuangkan.

Tempat kerja yang kecil itu Hamburg, sekarang apa? Sekarang Airbus (audiens: wow, more applause..). Ide Airbus sudah sejak 1965 Desember. Saya di antara anak muda yang masuk perusahaan itu dulu. Belum Airbus namanya. Hanya ada 3 PhD saja. Saya paling muda. Produksi Boieng 737 yang besar. Airbus A300. Saya masih punya fotonya dengan direktur utamanya waktu launching itu.

Ainun baru selesai buat rumah tahun 1972 tiba-tiba saya disuruh pulang. Setinggi-tingginya kembalilah di sini. Anda jadi besar karena orangtuamu, lingkunganmu, masyarakatmu.

Jangan harapkan orang lain yang membangun bangsamu. (Applause..)

Saya ini eyang untuk sebagian besar di sini. Saya tidak tahu masih berapa lama saya berada bersama Anda. Watik Pratiknya 13 tahun lebih muda dari saya. Sejak Ainun meninggal, dia selalu mendampingi saya. Saya titip pesan ini itu padanya. "Iya, Pak." Kata dia. Tiba-tiba 2 bulan kemudian dia dipanggil Allah.

Jadi Saudara-Saudara, saya kalau pergi ke Hamburg, kamar saya dulu jadi mesin. Kalau saya datang ke situ, itu datang semua karena saya dilligent. Tapi waktu saya datang membuat airbus, pikiran saya hanya satu: pulang dan membuat kapal terbang. Tidak ada di kepala saya jadi menteri apalagi presiden.

Tadi waktu saya lihat demo film itu (sebelumnya ada pemutaran film ilustrasi kelahiran PKS sejak 1998, not.) PKS usianya persis Habibie jadi presiden 1998.

Saya cerita waktu itu Jendral Feisal Tanjung datang sama saya. Pak, saya harus cerita sebelumnya. Pak Harto lengser tanggal 21 hari Kamis. Saya tidak diberi apa. Maksudnya kalo timbang terima apa kan harus sudah ada kertas-kertas. Nothing. Oke. Walau Pak Harto itu guru saya. Dia bilang, kalau saya tidak ketemu kamu, maka yang rugi bangsa Indonesia.

Dalam sejarah Republik Indonesia kita tidak merubah dan tidak akan merubah UUD 1945 itu. Dan tidak perlu karena UUD 1945 itu padat dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tiap sila secara eksplisit, tanya sama ahli hukum. Di tiap kata itu selalu ada, selalu dengan Allah SWT. Kenapa? Karena UUD itu adalah UUD dari rakyat ini. Masyarakat ini mengandalkan pada sumber daya manusia dan bukan sumber daya alam.

Anda tahu islam di Eropa? Coba pergi ke Spanyol, Andalusia. 800 tahun Islam di semenanjung itu berkuasa. Kordoba. Granada. Anda masih bisa lihat jejak-jejaknya sekarang. Kalau punya waktu pergi ke situ. Tapi coba apa? 800 tahun itu islam tidak pernah SARA. Dia buka pintu agama apa saja. Dia berpegang agama Anda adalah agama Anda. Agama saya, agama saya.

Granada, Kordoba mekar akar ilmu pengetahuan. Saya bilang bukan di Greek. Okelah filsafat dsb, tapi akar engineering mekar di Italia (Spanyol mungkin maksudnya?, not.).

Dik, kita negara Pancasila walau 87 persen rakyatnya bernafaskan alQur'an dan asSunnah dan sebelum tidur atau sebelum makan bismillaahirrohmaanirrohiim, kita toleran. Tidak SARA.
...

[Tak terlepas dari kekurangan indra pendengaran, atau ada sinaps yang mungkin kurang nyambung di otak, atau jempol kegedean untuk mentranskripkan pidato ini, regretfully lebih dari separuh notulensi saya ga sengaja terhapus dan ga bisa di-undo. *sedih, tapi tak perlu pake emot nangis lebay-lah ya ..

Banyak cerita tentang kejadian 1998. Kembalinya demokrasi lewat pemilu 1998 serta respon dan apresiasi beliau tentang kemunculan Partai Keadilan yang kala itu diketuai teknokrat yang ia sebut sebagai "anak"nya: Nurmahmudi Ismail. Bagaimana saat diamanati sebagai Presiden, beliau hanya ingin membawa Indonesia keluar dari krisis dan kemelut sekalipun banyak tawaran untuk memperpanjang usia presidensialnya.

Juga trik tetap bugar walau menjelang 80 tahun - a.l. membiasakan berenang minimal 1 jam tiap pekan, kesamaan pendapat dengan Presiden PKS M. Sohibul Iman - notulensi lengkapnya juga tersedia - soal money politic sebagai bentuk kegagalan membangun demokrasi substansial, dan banyak lagi. Ga bosen dengerinnya.

Apapun, saya kira BJ Habibie sebagaimana harapan sang ayah, memang sejatinya adalah mata air bagi negeri ini.

*Ke Tanah Karo membeli coklat - jauh amat ..
Walau cuma separo, well semoga bermanpaat*

Grafis @pksart]

note: yes #archive yes 
Share:

Semut, Cicak, dan Keberpihakan


Ketika Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke kobaran api yang disiapkan oleh Namrud, konon ada dua ekor binatang yang berperan. Kedua binatang tersebut adalah semut dan cicak.

Semut berlari-lari dengan susah payah berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as dengan membawa butiran air di ujung mulutnya. Perilaku semut tersebut membuat semua binatang heran dan bertanya-tanya, sehingga seekor gagak bertanya.

Gagak: "Wahai semut, kamu mau apa di sekitar kobaran api itu?"

Semut : "Aku mau memadamkan api agar Nabi Ibrahim as tidak terbakar!"

Gagak: "Semut bodoh, tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu."

Semut : "Mungkin setetes air tidak akan bisa memadamkan api, tapi agar di hadapan Allah SWT aku dapat membuktikan di pihak mana aku berada."

Karena jawaban semut akhirnya seluruh hewan melata ikut membantu membawa air, kecuali cicakCicak justru ikut meniup api yang dibuat oleh Namrud agar semakin berkobar.

Tiupan cicak tentu tidak akan bisa membesarkan kobaran api. Lalu mengapa cicak melakukannya? Ternyata sama dengan semut. Cicakmelakukan itu agar semua tahu di pihak mana ia berada.

***

"Dahulu ia (cicak) meniup api yang membakar Nabi Ibrahim as." (~ HR. Bukhari sahih dari Ummu Syarik). Kisah fabel semut dan cicak diolah dari berbagai sumber.

***

Allah Maha Tahu bagaimana rasa hati ini tak bisa berangkat di momen 212 karena harus menemani dua buah hati yang ujian akhir semester. Tapi sungguh bersyukur sangat abi mereka ada di barisan itu.

#archive 
published di instagram & facebook 5 Desember 2016
pict dari futurism.com
Share:

Pupuk Kandang

PUPUK KANDANG

@dettife

"Jangan anti terhadap kritik."

Bahkan kritik, caci-maki, dan segala bentuk bully, jika dikelola dengan baik mampu mengokohkan jiwa. Menempa diri menjelma dewasa.

Syahdan begitulah satu pendapat.

"Lihat bagaimana kotoran bagi tanaman bisa menjadi pupuk yang menyuburkan."

Begitu analoginya.

***

Yang saya percayai - dan begitu saya diajarkan - jika dikritik, harus siap dengan rupa kritik sekejam apapun. Namun jika mengritik, upayakan dengan laku dan bahasa terbaik, juga pada waktu dan tempat yang baik.

Pilih kata yang berbekas, jika perlu. Qawlan baligha, sebut Al Qur'an.

Namun lebih penting lagi, tunjukkan argumennya. Paparkan letak benar dan salahnya. Tidak menyerang persona, jika semata dari kelihatannya kelihatannya .. (karena bukankah persangkaan kita amat mudah tertipu ilusi).

Teliti dulu. Teliti lagi.

Meniadakan ad hominem. Tidak gebyah uyah. Mampu melihat nuansa di atas hitam dan putih. Jika kata-katanya benar, sebenci apapun atau semerendahkan apapun kita pada penyampainya, maka akui bahwa ia benar.

Sebab bahkan kritik bisa jadi dakwah.
Nahnu duat qobla kulli syai'.
Qobla kulli "kritikus" ..

***

Dan mungkin tak sesederhana itu juga menganalogikan kritik dengan kotoran; atau jiwa manusia dengan tanaman.

Di sana juga ada banyak perumpamaan. Bagaikan cambuk, seperti obat atau jamu pahit, bak bapak-anak naik keledai, ular di bawah kursi, dan banyak lagi ...

Tapi jika ingin menyerupakan kotoran, perlu diingat bahwa ia - kotoran itu - baru benar bermanfaat jika sudah terdekomposisi. Sudah terurai melalui proses dan waktu; dengan bantuan mikroba dekomposer; pada titik rasio karbon-nitrogen (C/N ratio)-nya tepat. *tsaah.. sukur masih ada yang nempel matkul agronomi dulu.

Kalau masih "produk segar", hangat, bulat-bulat, maka sunnatullah menyatakan ... hanya tanaman yang benar-benar matang dan tangguh yang sanggup bertahan, duhai Sobat.

Sebagian besarnya, mati.

Noni Belanda pergi ke kota, berbaju batik belanja kebaya.
Jika ada salah-salah kata, gak papa kritik saja saya. ■

#archive
dipublish di laman path dan facebook pada 7 Januari 2016 di sini
Share:

Senin, 03 April 2017

Perempuan Yang Diuji (Tafsir QS Al-Mumtahanah (60)) Part II

Tafsir Fii Zhilal Al-Qur'an


Surat Al-Mumtahanah

Artinya : Perempuan yg Diuji (The Examined Women)
Surat ke 60 = 13 Ayat   (diwahyukan di Madinah) 

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (QS. 60:1)
  2. Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 1 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ (1) 

Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Imam-imam yang lain bahwa telah datang ke Madinah dari Mekah seorang wanita bernama Sarrah untuk suatu keperluan. Waktu itu orang-orang musyrik Mekah baru saja melanggar perjanjian Hudaibiyah, suatu perjanjian damai yang dibuat mereka dengan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sedang mempertimbangkan suatu batas waktu tertentu, sebagai masa berpikir bagi orang-orang musyrik Mekah. Rasulullah bermaksud, jika batas waktu yang ditentukan habis dan orang-orang musyrik tetap pada sikap mereka semula, maka Rasulullah bermaksud menyerbu kota Mekah. 

Sarrah disuruh tinggal oleh Rasulullah bersama keluarga Bani Abdul Mutalib, dan mengharapkan agar Bani Muttalib memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi Sarrah. Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, maka Sarrah bermaksud kembali ke Mekah. Maka Hatib bin Abi Balta'ah seorang sahabat Rasulullah yang ikut perang Badar menemui Sarrah mengirimkan sepucuk surat kepada keluarganya yang masih tinggal di Mekah, dengan memberikan kepada Sarah sepuluh dinar sebagai tanda terima kasihnya kepada Sarrah. Dalam surat itu Hatib menerangkan kepada keluarganya bahwa Rasulullah akan mengambil tindakan kepada orang Musyrik Mekah, setelah habis masa yang ditentukan itu. 

Kejadian itu disampaikan Jibril kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun menyuruh Ali bin Abi Talib, `Ammar, Talhah, Az Zubair, Al Miqdad dan Aba Marsid menyusul Sarrah dan mengambil darinya surat yang dikirimkan Hatib itu. Semua sahabat yang disuruh Rasulullah itu adalah dari pasukan berkuda. Nabi berkata kepada mereka: "Segeralah pergi ke Khakh (suatu lembah yang terletak antara Mekah dan Madinah) di sana ada seorang perempuan dalam usungan. Dia membawa surat untuk penduduk Mekah. Maka ambillah surat itu dari padanya, dan biarkan dia itu pergi ke Mekah. 

Maka para sahabat itu memacu kudanya hingga sampai ke tempat wanita itu dan meminta suratnye. Mula-mula wanita itu enggan memberikannya. Setelah didesak dengan keras, barulah ia memberikan surat itu yang dikeluarkan dari sanggulnya Setelah para sahabat kembali, maka Hatib dipanggil Rasulullah dan menanyakan sebab ia menulis surat itu. Hatib menerangkan bahwa ia bermaksud untuk melindungi keluarganya yang ada di Mekah, seandainya kaum muslimin memasuki kota Mekah nanti. bukan bermaksud untuk membukakan rahasia itu kepada kaum musyrikin. Rasulullah SAW. dapat membenarkan alasan Haub itu, tetapi Umar bin Khattab berkata: "Ya Rasulullah, serahkanlah orang munafik itu agar aku pancung lehernya". Rasulullah berkata: "Hatib adalah sahabat yang ikut perang Badar". Maka turunlah ayat ini. 

Ayat ini memperingatkan kaum muslimin agar mereka tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan orang-orang musyrikin yang menjadi musuh Allah dan musuh muslimin. Karena dengan adanya hubungan yang demikian itu dengan tidak sadar, mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum muslimin menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah SAW. kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah. Janganlah sekali-kali dilakukan yang demikian itu sekalipun mereka kaum kerabatmu. 

Menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang, tidak mungkin dilakukan selama orang-orang kafir itu berkeinginan untuk menghancurkan agama Islam dan kaum muslimin. Karena itu dilarang kaum muslimin bertolong-tolongan dengan orang kafir yang seperti itu. 

Kemudian diterangkan sebab Allah melarang untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu: 

1. Karena mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah. Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada Alquran. Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan sebagai penolong-penolong dan teman setia? Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasiamu. yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin ? 

2. Mereka, orang-orang kafir itu telah mengusir Rasulullah dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka, karena beriman kepada Allah bukan karena sebab yang lain. 
Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah SWT: 

وما نقموا منهم إلا أن يؤمنوا بالله العزيز الحميد 
Artinya: 
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S Al Buruj: 8) 
Dan firman Allah SWT: 

الذين أخرجوا من ديارهم بغير حق إلا أن يقولوا ربنا الله 
Artinya: 
(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tenpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". (Q.S Al Hajj:40) 

Allah memperingatkan kaum muslimin bahwa jika kamu keluar dari negerimu atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolongmu. Cukuplah kaum muslim menderita dengan tindakan-tindakan mereka itu, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada orang-orang kafir menambah penderitaan kaum muslimin. 

Bagaimana mungkin ada di antara kaum muslimin melakukan seperti yang dilakukan Hatib menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir, kenapa bertolong-tolongan dengan mereka? 

Allah SWT Maha Mengetahui segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya, karena itu Dia menyampaikan hal itu kepada Rasul-Nya, sehingga Rasulullah segera dapat mengambil tindakan, sehingga kaum muslimin tidak dirugikan. 

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka sebagai penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus yang telah dibentangkan Allah, yang menyampaikan mereka ke dalam surga, tempat yang penuh kenikmatan

2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 2
إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ (2)
Dalam ayat ini diterangkan sebab-sebab yang lain, sehingga Allah SWT melarang kaum muslimin berteman akrab dan bertolong-tolongan dengan orang-orang kafir, tu:
1. Jika suatu waktu mereka menangkapmu atau mengalahkan kamu, pastilah mereka akan melakukan sesuatu yang tidak kamu kirakan kezalimannya. Mereka berteman . dengan kamu sekalian semata-mata mencari keuntungan bagi diri dan sokongan mereka. Bila tidak ada keuntungan yang diharapkan darimu, mereka akan menjauhkan diri darimu bahkan akan menghancurkan kamu.
2. Mereka selalu berusaha menjelek-jelekkan dan memusuhi kamu. Bagaimana mungkin kamu membukakan rahasia-rahasia kepada mereka atau berteman erat dengan mereka. Orang yang dapat dijadikan teman itu hanyalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita, bukan orang yang menginginkan kesengsaraan untuk kita.
3. Mereka mengharapkan kamu mengingkari kebenaran dan kafir kepada Allah, sehingga, keadaan mereka seperti kamu pula, yaitu sama-sama kafir. Karena itu mereka hanya mau berteman erat atau bertolong-tolongan dengan mereka selama kamu mungkin memenuhi keinginan-keinginan mereka.

3Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. 60:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 3
لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (3)
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa pada Hari Kiamat setiap orang mempertanggungjawabkan diri mereka masing-masing kepada Allah. Karib-kerabat, teman setia, anak-anak atau orang tua sekalipun tidak dapat menolong seseorang di Hari Kiamat sedikit pun. Yang dapat menolong seseorang dari siksa Allah hanyalah iman dan amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia.
Kemudian Allah SWT menerangkan sebab karib-kerabat, teman Setia, anak-anak dan orang tua tidak dapat dijadikan penolong di Hari Kiamat sebelum selesai hisab, tiap-tiap kamu berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang akan menimpa, sehingga tidak sempat memikirkan kerabat dan temannya itu. sebagaimana firman Allah SWT:

فإذا جاءت الصاخة يوم يفر المرء من أخيه وأمه وأبيه وصاحبته وبنيه لكل امرئ منهم يومئذ شأن يغنيه
Artinya:
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya dari ibu dan bapaknya dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. ( Q.S 'Abasa: 33-37)
Pada akhir ayat ini Allah SWT memberi peringatan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan-Nya, karena itu Dia akan memberikan balasan yang seadil-adilnya. Maka itu berhati-hatilah dan jagalah dirimu sebaik mungkin.

4Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:` Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: `Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah`. (Ibrahim berkata): `Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,(QS. 60:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 4
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (4)
Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin mencontoh Nabi Ibrahim A.S. dan orang-orang yang beriman besertanya, ketika ia berkata kepada kaumnya yang kafir kepada Allah dan menyembah berhala: "Hai kaumku, sesungguhnya kami berlepas diri daripada, dan dari apa yang kamu sembah selain Allah".
Kemudian diterangkan bahwa yang dimaksud Ibrahim dengan berlepas diri itu, yaitu:
a. Ibrahim A.S. mengingkari kaumnya, tidak mengacuhkan tuhan-tuhan mereka dan tidak membenarkan perbuatan mereka yang menyembah patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepada siapa pun, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:

ياأيها الناس ضرب مثل فاستمعوا له إن الذين تدعون من دون الله لن يخلقوا ذبابا ولو اجتمعوا له وإن يسلبهم الذباب شيئا لا يستنقذوه منه ضعف الطالب والمطلوب
Artinya:
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amal lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah". (Q.S Al Hajj: 73)
b. Ibrahim A.S. mengatakan bahwa antaranya dan kaumnya yang ingkar itu telah terjadi permusuhan dan saling benci-membenci selama-lamanya. Ibrahim menyatakan akan tetap menantang kaumnya itu sampai mereka meninggalkan perbuatan syirik itu. Jika mereka telah beriman barulah hilang permusuhan itu.
Terhadap ayahnya yang masih kafir ia tidak mengambil sikap yang tegas seperti sikapnya terhadap kaumnya. Ia berjanji akan mendoakan kepada Allah agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa ayahnya itu. Dalam hal ini Allah SWT melarang kaum muslimin mencontoh Ibrahim, sekalipun Ibrahim akhirnya berlepas diri pula terhadap ayahnya, setelah nyata bagi beliau keingkaran bapaknya itu.
Benar ada di antara orang-orang yang beriman mendoakan ayah-ayah mereka yang meninggal dalam keadaan musyrik. Mereka beralasan dengan perbuatan Ibrahim itu. Maka Allah SWT membantah perbuatan mereka itu dengan menurunkan ayat:

ما كان للنبي والذين ءامنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم وما كان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه إن إبراهيم لأواه حليم
Artinya:
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Q.S At Taubah: 113-114)
Selanjutnya Ibrahim A.S berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku aku tidak mempunyai kesanggupan sedikit pun menolong engkau, selain berdoa kepada Allah agar engkau diberi-Nya taufik, sehingga engkau beriman. Tidaklah aku sanggup melakukan lebih dari itu. Jika Allah SWT berkehendak mengazab karena kekafiran engkau itu tidaklah aku sanggup melepaskan engkau dari azab itu.
Sebelum Ibrahim A.S. berpisah dengan kaumnya yang tidak mau menerima seruannya itu, ia berdoa kepada Allah dengan hati yang tunduk dan menyerah diri kepada-Nya, "Wahai Tuhan kami, kami telah berusaha melaksanakan tugas yang Engkau bebankan kepada kami, tetapi kaumku bertambah ingkar kepadaku, karena itu segala sesuatu yang berhubungan dengan tugasku itu aku serahkan kepada Engkau memberikan penilaiannya, hanya kepada Engkaulah kembali kami dan kepada Engkau kami bertobat dengan sebenar-benarnya tobat Pada hari Engkau membangkitkan kami dari kubur, kemudian Engkau kumpulkan kami untuk berhisab, hanya kepada Engkaulah waktu itu kami mohon pertolongan, karena kepada Engkaulah kembali semua makhluk.

5` Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana `.(QS. 60:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 5
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (5)
Selanjutnya Ibrahim A.S. berdoa yang artinya "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai suatu percobaan, yaitu Engkau azab kami dengan tindakan-tindakan mereka, hingga timbul keyakinan pada hati mereka, bahwa mereka orang-orang yang benar, sedangkan mereka menganggap kami berada di pihak yang salah". Dengan perkataan lain arti ayat ini ialah : "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menangkan mereka atas kami, Lalu mereka memfitnah kami dengan kemenangan itu, sehingga timbullah keyakinan pada orang-orang kafir itu bahwa mereka berada di jalan yang benar sedangkan kami berada di jalan yang salah.
Ibrahim A.S. berdoa yang artinya : "Wahai Tuhan kami, ampunilah dan maafkanlah dosa kami, sehingga perbuatan dosa itu seakan-akan tidak pernah kami kerjakan, Engkaulah tempat kami berlindung, tuntutan Engkau sangat keras, Engkau melakukan dan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya".

6Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji.(QS. 60:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 6
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (6)
Ayat ini mengulang perintah menjadikan Ibrahim A.S. dan orang-orang yang beriman besertanya sebagai suri teladan yang baik dengan maksud agar perintah itu wajib diperhatikan orang-orang yang beriman. Sikap Ibrahim as terhadap orang-orang kafir itu adalah sikap yang benar. Allah SWT menegaskan : "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah Ibrahim A.S. dan orang-orang yang beriman besertanya sebagai suri teladan, terutama bagi orang yang yakin akan bertemu dengan Allah di akhirat nanti, dan mengharapkan pahala serta balasan surga sebagai tempat yang penuh kenikmatan.
Orang-orang yang tidak mengikuti perintah Allah, tidak mengambil suri teladan kepada orang-orang yang saleh, maka hendaklah mereka ketahui, bahwa Allah sedikitpun tidak memerlukannya, karena Allah Maha Terpuji di langit dan di bumi, dan Ia tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya dalam melaksanakan kehendak-Nya.
Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah SWT:

وقال موسى إن تكفروا أنتم ومن في الأرض جميعا فإن الله لغني حميد
Artinya:
Dan Musa berkata: "jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S Ibrahim: 8)

7Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 60:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 7
عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (7)
Diriwayatkan bahwa Ahmad menceritakan kepada beberapa imam yang lain dari Abdullah bin Zuber, ia berkata: "Telah datang di Madinah (dari Mekah daerah kafir) Qutailah binti Abdul `Uzza' bekas istri Abu Bakar sebelum beliau masuk Islam kepada putrinya Asma' binti Abu Bakar dengan membawa hadiah-hadiah. Asma' enggan menerima hadiah itu dan tidak memperkenankan ibunya itu memasuki rumahnya. Kemudian Asma' mengutus seseorang kepada `Aisyah, agar Aisyah menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Maka turunlah ayat ini yang membolehkan Asma' menerima hadiah dan mengizinkan ibunya yang kafir itu tinggal di rumahnya.
Menurut Al Hasan dan Abu Saleh: ayat ini diturunkan berhubungan dengan Khuza'ah, Bani Haris bin Kaab, Kinanah, Khuzaimah dan kabilah-kabilah Arab yang lain, mereka minta diadakan perdamaian dengan kaum muslimin dengan mengemukakan ikrar tidak akan memerangi kaum muslimin dan tidak menolong musuh-musuh mereka. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan kaum muslimin menerimanya.
Ayat ini menyatakan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman bahwa mudah-mudahan Allah SWT akan menjalin rasa cinta dan kasih sayang antara kaum muslimin yang ada di Madinah dengan orang-orang musyrik Mekah yang selama ini membenci dan menjadi musuh mereka. Hal itu mudah bagi Allah, sebagai Zat Yang Maha Kuasa lagi menentukan segala sesuatu. Apalagi jika orang-orang kafir itu mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah mereka lakukan sebelumnya. yaitu dosa memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin.
Isyarat yang terdapat dalam ayat ini, terbukti kebenarannya pada penaklukan kota Mekah oleh kaum muslimin tanpa terjadi pertumpahan darah. Sewaktu Rasulullah memasuki kota Mekah. karena orang-orang musyrik melanggar perjanjian mereka dengan kaum Rasulullah, mereka merasa gentar menghadapi tentara kaum muslimin, mereka bersembunyi di rumah-rumah mereka. Karena itu Rasulullah mengumumkan : barangsiapa masuk Baitullah, maka dia mendapat keamanan. barangsiapa masuk Masjidilharam maka ia mendapat keamanan, dan barangsiapa masuk rumah Abu Sofyan, ia mendapat keamanan. Perintah itu ditaati oleh kaum musyrikin dan mereka pun burlindung di Kakbah, di Masjidilharam dan rumah Abu Sofyan. Maka waktu itu bertemulah kembali kaum muslimin yang telah hijrah bersama Rasulullah ke Madinah dengan keluarga musyrik yang tetap tinggal di Mekah, setelah beberapa tahun mereka berpisah. Maka terjalinlah kembali hubungan baik dan kasih sayang antara mereka.
Karena baiknya sikap kaum muslimin kepada mereka, maka mereka berbendong-bendong masuk Islam, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah SWT:

إذا جاء نصر الله والفتح ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجا فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا
Artinya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (Q.S. An Nasr: 1-3)
Hubungan kasih sayang yang terjalin antara mereka itu setelah terjadi perselisihan digambarkan dalam firman Allah SWT

واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذلك يبين الله لكم ءاياته لعلكم تهتدون
Artinya:
Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S Ali Imran: 103)
Dan firman Allah:

وإن يريدوا أن يخدعوك فإن حسبك الله هو الذي أيدك بنصره وبالمؤمنين وألف بين قلوبهم لو أنفقت ما في الأرض جميعا ما ألفت بين قلوبهم ولكن الله ألف بينهم إنه عزيز حكيم
Artinya:
Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu) Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S Al Anfal: 62-63)

8Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(QS. 60:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 8
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)
Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia tidak melarang orang-orang yang beriman berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong dan hantu-membantu dengan orang-orang kafir selama mereka tidak mempunyai niat menghancurkan Islam dan kaum muslimin, tidak mengusir dari negeri-negeri mereka dan tidak pula berteman akrab dengan orang-orang yang hendak mengusir itu.
Ayat ini merupakan ayat yang memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama orang-orang kafir itu bersikap dan ingin bergaul baik terutama dengan kaum muslimin.
Seandainya dalam sejarah Islam terutama pada masa Rasulullah dan masa para sahabat, terdapat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum muslimin kepada orang-orang kafir, maka tindakan itu semta-mata dilakukan untuk membela diri dari kelaliman dan siksaan-siksaan orang-orang kafir.
Di Mekah, Rasulullah dan para sahabat disiksa dan dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy, sampai mereka terpaksa hijrah ke Madinah. Sesampai mereka di Madinah, mereka pun dimusuhi oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan orang-orang kafir Quraisy, sekalipun telah dibuat perjanjian damai antara mereka dengan Rasulullah, sehingga terpaksa diambil tindakan kekerasan. Demikian pula di kala kaum muslimin berhadapan dengan kerajaan Persia dan Romawi, orang-orang kafir di sana telah memancing permusuhan sehingga terjadi peperangan.
Jadi ada satu prinsip yang perlu diingat dalam hubungan orang Islam dengan orang-orang kafir, yaitu : "Boleh mengadakan hubungan baik, selama pihak yang bukan Islam melakukan yang demikian pula". Hal ini hanya dapat dibuktikan dalam sikap dan perbuatan kedua belah pihak.
Di Indonesia prinsip ini dapat dilakukan, selama tidak ada pihak agama lain bermaksud memurtadkan orang Islam atau menghancurkan Islam dan kaum muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Mumtahanah 8
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)
(Allah tiada melarang kalian terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian) dari kalangan orang-orang kafir (karena agama dan tidak mengusir kalian dari negeri kalian untuk berbuat baik kepada mereka) lafal an tabarruuhum menjadi badal isytimal dari lafal alladziina (dan berlaku adil) yaitu melakukan peradilan (terhadap mereka) dengan secara adil. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah untuk berjihad melawan mereka. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil) yang berlaku adil.

9Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS. 60:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 9
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah SWT hanyalah melarang kaum muslimin bertolong-tolongan dengan orang-orang yang menghambat atau menghalangi manusia di jalan Allah, dan memurtadkan kaum muslimin sehingga ia berpindah kepada agama lain, yang memerangi, mengusir dan membantu pengusir kaum muslimin dari negeri mereka. Dengan orang yang semacam itu Allah melarang dengan sangat kaum muslimin berteman dengan mereka.
Pada akhir ayat ini Allah SWT mengancam kaum muslimin yang menjadikan musuh-musuh mereka sebagai teman bertolong-tolongan dengan mereka, jika mereka melanggar larangan Allah ini, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.

10Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. 60:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 10
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (10)
Ayat ini menerangkan perintah Allah kepada Rasulullah SAW. dan orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus diambil, jika seorang wanita beriman datang menghadap atau minta perlindungan yang berasal dari daerah kafir, Allah mengatakan : "Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu seorang wanita beriman yang berasal dari daerah kafir, sekalipun mereka telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak tampak padanya tanda-tanda keingkaran dan kemunafikan, maka periksalah dan ujilah keadaan mereka, apakah mereka benar-benar telah beriman, atau melarikan diri dari suaminya atau mereka datang karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Periksa benar-benar mereka itu"
Allah SWT memerintahkan yang demikian itu bukanlah karena Dia tidak mengetahui hal ikhwal mereka. Allah SWT Maha Mengetahui hakikat iman mereka, bahkan mengetahui semua yang tergores dalam hati mereka. Tetapi untuk kewaspadaan dan berjaga-jaga di kalangan kaum muslimin yang sedang berperang menghadapi orang-orang kafir, maka usaha-usaha mengadakan penelitian itu harus dilakukan, walaupun orang ini kerabat sendiri.
Jika dalam pemeriksaan itu terbukti mereka adalah orang-orang yang beriman, maka jangan sekali-kali kamu mengembalikan mereka ke daerah kafir, sebab wanita-wanita yang beriman tidak halal lagi bersuami orang kafir, sebaliknya orang-orang yang kafir itu tidak halal pula bagi orang-orang yang beriman.
Dari ayat ini dapat ditetapkan Suatu hukum yang menyatakan, bahwa jika seorang istri telah masuk Islam berarti sejak ia masuk Islam itu telah bercerai dengan suaminya yang masih kafir, karena itu ia haram kembali kepada suaminya. Ayat ini juga menguatkan hukum yang menyatakan bahwa haram hukumnya seorang wanita muslimat kawin dengan laki-laki kafir.
Kemudian Allah SWT menetapkan agar mas kawin yang telah diberikan dikembalikan kepada suaminya.
Menurut Imam Syafi'i wajib istri mengembalikan mahar itu jika pihak suami memintanya, jika pihak suami tidak memintanya, maka mahar itu tidak wajib dikembalikan. Sebagian ulama berpendapat bahwa mahar yang wajib dikembalikan itu jika suaminya termasuk orang yang telah melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin, sedang bagi suami yang tidak ter-masuk dalam perjanjian damai dengan kaum muslimin tidak wajib dikembalikan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum pengembalian mahar itu bukan wajib tetapi sunah dan jika diminta pula oleh suaminya.
Diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW. pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah memerintahkan Ali bin Abi Talib untuk membuat konsep perjanjian itu, maka Ali pun menulisnya "Dengan menyebut nama-Mu, wahai Tuhan Kami, ini adalah perdamajan antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin Amr. Mereka telah menyatakan perdamaian dengan menghentikan peperangan selama 10 tahun, saling berusaha menjaga keamanan dan menahan serta menjaga terjadinya perselisihan. Barang siapa di antara orang-orang Quraisy yang datang kepada Muhammad tanpa izin walinya, hendaklah orang itu dikembalikan sedangkan kaum muslimin yang datang kepada orang Quraisy tidak dikembalikan, dan seterusnya". Demikianlah Rasulullah SAW. mengembalikan Abu Jandal bin Suhail kepada orang-orang Quraisy dan tidak satupun yang ditahan beliau, walaupun ia seorang mukmin. Maka datanglah kepada Rasulullah, seorang wanita mukmin dari daerah kafir yang bernama Ummu Kulsum binti Uqbah bin Abi Muit, lalu datang pula kepada Rasulullah dua orang saudara dari perempuan itu yang bernama `Ammar dan Walid yang meminta agar wanita itu dikembalikan. Maka turunlah ayat ini yang melarang Rasulullah mengembalikannya. Kemudian wanita itu dikawini oleh Zaid bin Harisah.
Dari tindakan Rasulullah ini nyatalah bahwa yang wajib dikembalikan menurut perjanjian itu hanyalah laki-laki saja, sedangkan wanita tidak dikembalikan.
Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dan Miswan dan Marwan bin Hakam diterangkan bahwa setelah Rasulullah menandatangani perjanjian Hudaibiyah dengan orang-orang kafir Quraisy, banyaklah wanita-wanita mukminat berdatangan dari Mekah ke Madinah. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan agar Rasulullah menguji mereka lebih dahulu dan melarang beliau mengembalikan wanita-wanita yang benar-benar mukminat ke Mekah
Dalam pada itu kepada kaum muslimin dibolehkan mengawini wanita-wanita mukminat yang berhijrah itu dengan membayar mas kawin. Hal ini berarti bahwa wanita itu tidak boleh dijadikan budak, karena mereka bukan berasal dari tawanan perang. Allah SWT menganjurkan kaum muslimin mengawini mereka itu agar diri mereka terpelihara. Jika mereka tidak dikawini, mereka akan sendirian karena mereka telah bercerai dengan suami mereka itu dengan masuk Islam-Nya mereka itu.
Allah menerangkan sebab larangan melanjutkan perkawinan istri mukminat dengan suami yang kafir itu, karena tidak akan ada hubungan perkawinan antara orang-orang yang sudah beriman dengan suami-suami mereka yang masih kafir dan berada di daerah kafir. Akad perkawinan mereka tidak berlaku lagi sejak istri masuk Islam.
Sebaliknya jika yang pergi ke daerah kafir itu adalah istri-istri yang beriman kemudian ia menjadi kafir, biarkanlah mereka pergi dan mintalah mas kawin yang pernah kamu berikan dahulu kepada laki-laki yang mengawininya, sebagaimana yang kamu berikan kepada orang-orang kafir.
Semua yang disebutkan itu adalah hukum-hukum Allah yang wajib ditaati oleh setiap orang yang menghambakan diri kepada-Nya, karena dalam menetapkan hukum-Nya itu Allah SWT Maha Mengetahui kesanggupan hamba yang akan memikul hukum itu dan mengetahui sesuatu yang paling baik dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Dan dalam menetapkan hukum itu Dia mengetahui guna, faedah dan akibat menetapkan hukum serta keserasian hukum itu bagi yang memikulnya.

11Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman.(QS. 60:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 11
وَإِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَآتُوا الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوَاجُهُمْ مِثْلَ مَا أَنْفَقُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ (11)
Dalam ayat ini diterangkan hukum seorang istri mukminat yang murtad yang lari dari suaminya ke daerah kafir, sedang ia belum mengembalikan mahar yang pernah diterimanya dari suaminya yang mukmin itu. Jika Si suami menyerang daerah kafir, kemudian dapat menawan bekas istrinya itu, maka bekas istrinya itu boleh diambilnya kembali dengan membayar kembali mahar yang telah diterima oleh istri dari suami yang kafir itu.
Diriwayatkan dari Ibnu Abu Hatim dari Hasan diterangkan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan peristiwa Ummul Hakam binti Abi Sofyan yang telah murtad dan melarikan diri dari suaminya, kemudian ia nikah dengan seorang laki-laki Bani Saqif. Ayat ini memerintahkan agar mas kawin yang diterima Ummul Hakam dari suaminya Bani Tafsir itu dikembalikan dan diambil dari hasil rampasan perang dan Ummul Hakam kembali kepada suaminya semula.
Menurut riwayat Ibnu 'Abbas, mas kawin itu diambil dan diberikan kepada suami yang kafir sebelum harta rampasan perang di bagi lima sebanyak yang pernah diberikan suami yang kafir kepada perempuan yang lari itu.
Pada akhir ayat ini Allah SWT memerintahkan agar kaum muslimin bertakwa melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya baik yang diterangkan pada ayat di atas, maupun yang disebut pada ayat-ayat yang lain serta yang terdapat di dalam hadis, jika mereka beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya

12Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 60:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 12
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (12)
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya: "Wahai Nabi Muhammad apabila datang kepada engkau wanita-wanita yang beriman dengan menyatakan ketaatannya, mereka berjanji kepada engkau tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun seperti dengan patung atau batu-batu besar, tidak akan mencuri harta orang lain, tidak akan berzina, tidak akan mengubur anak perempuan hidup-hidup seperti yang dilakukan orang Arab Jahiliah, tidak akan mengerjakan yang engkau larang, seperti meratapi orang mati, mengoyak-ngoyak pakaian dan sebagainya, maka terimalah pernyataan taat mereka itu. Akuilah keimanan mereka terimalah pernyataan taat mereka itu. Akuilah keimanan mereka dan katakanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah dan pahala dari-Nya jika mereka tetap melaksanakan pernyataan mereka itu. Mohonkanlah kepada Allah agar dosa-dosa mereka diampuni, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Diriwayatkan oleh Bukhari dari `Urwah bin Zuber bahwa Aisyah R.A. berkata: "Bahwa Rasulullah SAW. menguji wanita yang hijrah dengan ayat

يا أيها الذين آمنوا إذا جاءكم المؤمنات
Sampai kalimat

غفور رحيم
. Barang siapa yang telah melakukan syarat-syarat yang demikian itu berarti wanita itu telah mengikrarkan pernyataan dirinya beriman.
Diriwayatkan pula "Urwah bin Zuber dari `Aisyah R.A. ia berkata. "Telah datang Fatimah binti Utbab untuk menyatakan keimanannya kepada Rasulullah, maka Rasulullah SAW. meminta ia berjanji tidak akan mempersekutakan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mengubur hidup-hidup anak perempuan, tidak menghubungkan anak orang lain dengan suaminya. maka Fatimah merasa malu menyebut janji itu sambil meletakkan tangan di atas kepalanya. Maka `Aisyah berkata, "Hendaklah engkau akui yang dikatakan Nabi itu. Demi Allah, kami tidak menyatakan keimanan kecuali dengan cara demikian". Fatimah melaksanakan yang disuruh Aisyah itu, lalu Nabi menerima pengakuannya.
Menurut riwayat yang lain bahwa Nabi Muhammad SAW. banyak menerima pernyataan beriman tatkala penaklukan Mekah. Di antara yang menyalakan keimanannya itu terdapat Hindun binti Utbah, istri Abu Sofyan, kepala suku Quraisy.

13Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.(QS. 60:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mumtahanah 13
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ (13)
Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan kembali larangan menjadikan orang-orang Yahudi, Nasrani dan musyrik Mekah yang berniat jahat terhadap kaum muslimin sebagai penolong, karena dikhawatirkan orang-orang yang beriman akan menyampaikan rahasia-rahasia penting kepada mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnul Munzir dari Ibnu Ishak dari Ikrimah dan Abu Said, dari Ibnu Abbas, ia menerangkan bahwa Abdullah bin Umar dan Zaid bin Haris bersahabat rapat dengan orang-orang Yahudi. Maka turunlah ayat ini yang melarang kaum muslimin berteman erat dengan orang yang dimurkai Allah.
Pada akhir ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang kafir itu telah berputus asa akan memperoleh kebaikan dari Allah di akhirat nanti, karena kedurhakaan mereka kepada Rasulullah SAW. yang telah diisyaratkan kedatangannya dalam kitab-kitab mereka, dikuatkan pula dengan bukti-bukti yang kuat, dengan mukjizat yang nyata, sebagaimana mereka telah berputus asa pula dari kebangkitan kubur nanti, karena mereka tidak percaya bahwa orang yang telah mati itu akan dibangkitkan kembali.
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts