Sabtu, 02 Desember 2017

Pembingkaian dalam Penyebutan Jumlah Peserta Aksi 212

lewatmana.com
Ini late post setahun lampau yang sudah dimuat di sini. Menggunakan pendekatan kuantitatif agar bisa dibaca seobyektif mungkin. Salam.
***
Berhubung kerjaan tiap hari monitoring berita, ada sisi pemberitaan aksi massa 2 Desember 2016 di Silang Monas dan sekitarnya yang asyik dikaji pembingkaian (framing) media-nya dari sisi penyebutan jumlah peserta aksi  *well, ada yang bilang bukan aksi, bukan demo, tapi doa bersama .. whatever lah ya :D
Penyebutan jumlah peserta aksi dipilih karena merupakan variabel yang paling eksak dibandingkan dengan variabel pembingkaian lain seperti diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto yang sangat berpeluang untuk multiterjemah. Mengapa memilih judul tertentu dibanding judul lainnya. Mengapa menyebut 150.000 dan bukan ratusan ribu atau jutaan massa?
Tabel 1. Kompilasi Berita “Jumlah Peserta #212” di Media Online Berbahasa Indonesia
Perbedaan penyebutan jumlah peserta aksi dapat menunjukkan dua esensi analisis framing yaitu pertama, bagaimana peristiwa #212 dimaknai oleh jurnalis dan kedua, bagaimana fakta tersebut dituliskan.
Akan tetapi yang disajikan di sini memang baru berupa hasil rekap monitoring, jadi belum secara komprehensif disempurnakan dengan landasan teori, kerangka pikir, serta hipotesis. Bahkan belum terpikir mau dianalisis pake model pembingkaian Edelman, Entman, Gamson, atau Pan-Kosicki. Pengen sih, suatu saat bisa dirapikan dalam bentuk jurnal. (Aamiin).
Sementara, berikut beberapa catatan hasil monitoring penyebutan jumlah peserta aksi #212:
  • Obyek monitor adalah 22 media online berbahasa Indonesia serta 36 media online berbahasa Inggris yang diupayakan diurut berdasar rank, baik dari sumber tertulis maupun audio-visual (video);
  • Narasumber (narsum) terbanyak yaitu Kepala Divisi Humas Polri Boy Rafli Amar atau jika dari sejumlah media berbahasa Inggris hanya disebut from police agency. Dari Kadiv Humas Polri-lah keluar pernyataan estimasi "150.000-200.000 peserta". Narsum lain adalah dari Gerakan Nasional  Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF) MUI, dari MUI sendiri, dari Plt. Gubernur DKI Soni Sumarsono, serta beberapa narsum minor. Perbedaan pemilihan narsum tentu menghasilkan nominal jumlah peserta yang berbeda pula;
  • Penyebutan nominal peserta aksi pada posting berita yang tak memiliki narsum, diduga didasarkan atas pengamatan atau perkiraan jurnalis di lapangan. Tak ditemukan berita yang menunjukkan ketekunan jurnalis untuk secara metodologis mengestimasi sendiri atau mencari narsum yang berdasarkan metoda perhitungan tertentu bisa mengestimasi jumlah peserta aksi secara lebih akurat (kecuali posting jawapos.com yang mengutip perhitungan seorang blogger berdasar skala citra satelit);
  • Secara khusus, penghitungan estimasi jumlah massa peserta aksi secara lebih akurat – bukan hanya mengutip narasumber – akan meminimalkan potensi mengurang-ngurangkan atau mendegradasi value aksi melalui ‘sedikit’nya jumlah peserta atau sebaliknya meminimalkan potensi melebay-lebaykan value aksi melalui ‘buanyak’nya jumlah peserta aksi. ‘Kemalasan’ ini justru sangat tampak pada jurnalis The Associated Press (AP) serta  Agence France-Presse (AFP) yang notabene menjadi rujukan media internasional di sana dan sini (lihat tabel 2). Thus, aksi #212 secara umum ditasbih oleh para jurnalis sebagai aksi terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Senyatanya kompilasi ini masih sangat terbuka pada info tambahan, koreksi, penyempurnaan, serta diskusi beradab (tabel dengan disertai link dan analisis tone, terdokumentasi tapi sayangnya ga bisa ditampilin yah). Monggo koreksiannya. 
*Terimakasih untuk Monitoring Team: Nofra, Umi, dan volunteer Diki. Terus berusaha menemukan yang asyik-asyik dari aktivitas yang truthfully boring, tapi penting ini ;)  Salam Monitor.
Tabel 2. Kompilasi Berita “Jumlah Peserta #212” di Media Online Berbahasa Inggris
#archivepost

Share:

Rabu, 22 November 2017

Meringankan Beban Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan [Dari Ngobrol MPR RI dengan Netizen Lampung]

Giliran netizen Lampung yang malam itu (Minggu, 19/10/2017) diundang ngariung Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan. Muatannya Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (teman-teman sesama staf MPR/DPR sering menyebutnya "Sosput"), tapi dibingkai dengan judul "MPR RI Ngobrol bareng Netizen Lampung".
Saya yang biasanya duduk - atau berdiri - di barisan paling belakang sebagai panitia, kali ini menyimak jadi peserta.
Icak-icaknya netijen.
Dapat tugas share ke sekian matra media sosial, dengan tagar tertentu, jumlah postingan sekian, fokus saya justru tertuju pada bagaimana acara ini pertama dikemas dengan lebih baik dibandingkan Sosput-Sosput yang biasanya saya panitiai, mungkin karena subyeknya warganet. Kedua, merchandise-nya juga atuh lebih keren, bukan lagi backpack hitam dengan bordir gede-gede "SOSIALISASI 4 PILAR .." yang isinya buku-buku beurat, bermuatan jauh lebih beurat dari Kamus Oxford (yups, foto ilustrasi tulisan ini adalah flatlay amatiran saya dari oleh-oleh acara di Swiss-Belhotel Bandar Lampung malam itu).
Ketiga, batch Lampung ini jadi terasa spesial karena Bang Zul bawa full team. Tak kurang dari Sekretaris Jenderal MPR RI Ma'ruf Cahyono dan Kepala Biro Humas Setjen MPR RI Siti Fauziah yang diajaknya mengawal acara. Oiya ada juga adik eh abang eh .. ah sudahlah .. itu lho Zainudin Hasan, Bupati Lampung Selatan, adiknya Bang Zul, yang memang so sweet sekali sering tampak bersama setiap abangnya datang ke Lampung.
Mengapa netizen? Zulkifli Hasan yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu tak menampik betapa netizen kini adalah kelompok penekan paling penting yang menentukan opini publik, melampaui ormas. "Ormas mungkin hanya demo saja, tapi kalau netizen sudah bersuara, opini publik terbentuklah," kata warga asli Lampung Selatan ini.
***
Beban Sosialisasi Empat Pilar
Mungkin rada lebay kalau dikatakan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan adalah beban. Beban buat siapa? Buat MPR RI yang menyelenggarakan? Atau untuk audiens yang saya tak yakin benar-benar membaca tumpukan buku-buku beurad yang memang jadi paket sosialisasi itu? Anggaran S4PK yang terbilang besar dan bahkan sempat diwacanakan akan dipangkas oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani karena tak tercapainya target negara dari tax amnesty itu memang sudah diketuk palu harus digunakan. Dan dihabiskan.
12 digit IDR per tahun, kawan.
Jadi, bebannya ke siapa?
Menurut saya, yang seharusnya paling merasa terbebani adalah penyelenggara negara yang diberi kewenangan menggunakan, dan harus menghabiskan anggaran S4PK. Para anggota MPR RI.
[Bagi sebagian Anda yang masih tertukar kira bahwa S4PK ini kerjaan anggota legislatif/DPR, perlu diingat bahwa ini domain MPR RI. Orangnya bisa saja sama karena anggota DPR - juga DPD RI - sekaligus adalah anggota MPR RI]
Program yang dijuduli sebagai layanan masyarakat untuk informasi-informasi kebangsaan ini sejatinya menjelma mulia karena warga negara, baik ia milenial-kah, penggemar Mahabharata-kah, ditengarai ada yang mulai tak peduli dengan fondasi negara. Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seakan kata-kata yang membumbung tinggi di langit ketujuh.
Mengapa harus jadi beban?
Yah, sebab para pelaksana sosialisasi seharusnya mampu membuat keempat entitas yang membumbung tinggi itu menjadi sesuatu yang wujud dan bisa digenggam. Bukan, bukan ransel atau t-shirt atau buku-buku beuradnya yang bisa digenggam. Namun sepulang audiens dari acara sosialisasi pertama-tama mereka paham apa yang dibicarakan para bapak/ibu wakil rakyat yang terhormat itu, thus lebih jauh lagi tercerahkan, cintanya makin mendalam pada negeri ini. Sekecil apapun, makin ingin berkontribusi.
Makin bangga menjadi seorang Indonesia.
Bukan hanya 'tercerahkan' karena pulang membawa tas bagus dan amplop yang isinya lumayanlah.
Maka sejatinya di situ beban Sosialisasi 4 Pilar berada.
***
Indikator Keberhasilan
Walau mungkin ada upaya untuk mengkreasi sosialisasi dalam wujud yang lebih humanis, berbudaya, dan kekinian, namun entahlah apa indikator yang bisa digunakan untuk menyebut program berbilang barisan angka nol ini berhasil. Jika konon salah satu saja target dari S4PK adalah terciptanya budaya hukum (living law), apa iya selama tujuh tahun penyelenggaraan program ini tampak ada perubahan signifikan kepatuhan hukum di negeri ini?
Ya ya .. tak semuanya salah Sosialisasi 4 Pilar. Variabel ketidakpatuhan hukum bisa banyak.
Mungkin juga saya yang overanalyse beranggapan Sosialisasi 4 Pilar adalah beban, padahal pengampu programnya sendiri fine-fine saja. Ada harap juga sedih jika uang rakyat yang digunakan dalam program ini hanya berputar menjadi mainan politik. Jika setiap tahun ratusan miliar mengalir ke penjuru-penjuru daerah pemilihan, namun tak jua kita teredukasi menjadi warga negara yang lebih baik.
Salam detijen.
Dan di bawah ini juga editan amatiran video cuman pake hape.
Beli soyjoy tuker hyena (bukan endorser, tolong).  Kalo ente ga enjoy, tolong jangan dihina.
Merdekah!.

Share:

Selasa, 21 November 2017

Milenial dan Ke(Tidak)tertarikan pada Politik

Detti, Rossy, dan Councillor Emilia Lisa saat Graduation Day Australia Awards Course di Hotel Windsor, Melbourne.
Ini kejadian benar dari Kota Semarang. Dari 250 peserta pelatihan yang notabene genre milenial, bahkan kemungkinan generasi Z, saat ditanya cita-cita tak satupun yang mau jadi politisi.
Kata mereka politisi itu capek, banyak urusan, besar tanggungjawabnya, jarang kumpul keluarga. Dan satu dari mereka anak seorang politisi, berkata, "Biarkan abi (ayah)-ku saja yang merasakan hidup ndak normal."
Cerita ini tersaji di dinding media sosial Hadi Santoso, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, sekaligus Ketua Bidang Humas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah.
Mungkin itu sebabnya, lanjut Hadi, negara ini tak beres-beres; karena pemimpin atau politisi tidak menjadi profesi yang diingini. Para milenial tidak tahu bagaimana mempersiapkan diri menjadi politisi yang baik. Berbeda dengan dokter, pengacara, insinyur, pilot, psikolog. Mereka bisa menjelaskan dengan detail apa profesi itu, apa saja yang harus disiapkan untuk menjadi profesi itu.
Sketsa di atas mungkin belum cukup mewakili gambaran keseluruhan future job kids zaman now yang sekira usia 15-25 tahun ini.
Maka pertanyaan lanjutnya benarkah politisi bukan cita-cita yang diingini milennials? Benarkah anak-anak muda sekarang makin apolitis?
Benarkah rentang peduli mereka pada problem publik, thus problem keumatan, makin pendek dan - mengutip salah satu istilah mereka sendiri: kian receh?
*****
Lalu bagaimana menjelaskan fenomena Tsamara Amany Alatas yang sukses jadi pemanjat sosial (social climber) notabene via jalur politik?
Saya juga diperjumpakan dengan Emilia Lisa Sterjova, legislator sebuah kota di Negara Bagian Victoria, Australia, yang terpilih saat berusia 19 tahun (undang-undang setempat mendorong kaum muda ikut menjadi councillor, anggota legislatif, dalam usia yang sangat muda: 18 tahun).
Atau yang lebih dekat, di Indonesia ada pimpinan DPRD Makassar Andi Rahmatika Dewi yang pertama terpilih sebagai legislator di usia 24 tahun?
Atau Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, dilantik sebagai kepala daerah pada usia 33 tahun, menumbangkan rekor Gubernur termuda yang sebelumnya diampu Gubernur Nusa Tenggara Barat M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (dilantik usia 36 tahun).
Ada pula Muhammad Syahrial yang dilantik menjadi Walikota Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada usia 26 tahun.
[Diskusi kita mungkin bisa berlanjut kelak pada komparasi antar negara karena di Indonesia politisi muda yang sukses naik tampuk tampaknya harus punya sokongan dan latar belakang keluarga yang tidak biasa. Politisi muda dari kalangan rakyat jelata seperti Emilia di Australia, untuk Indonesia mungkin masih utopis saat ini]
Lalu benarkah tuduhan millennials dan gen Z hanyalah sekumpulan generasi 'nunduk' yang gila swafoto tapi ironisnya asosial, lazy, hello it's me, tak tahu sopan santun dan sulit menjadi agen perubahan?
Tidak adil menilai generasi ini hanya dari kacamata generasi tua karena setiap generasi punya miliu, value, dan tuntutannya sendiri-sendiri. CEB Iconoculture dalam laporannya tahun 2013 menguraikan perbedaan value yang digenggam masing-masing genre.
Boomers - yup, siapa saja yang usianya berawal atau lebih dari angka 4 - menganggap tinggi nilai keadilan (justice), integritas (integrity), kekeluargaan (family), kepraktisan (practicality), dan kewajiban (duty). Sedangkan millennials lebih memandang penting kebahagiaan (happiness), passion, keberagaman (diversity), berbagi (sharing), dan penemuan (discovery).
***
Lalu secara politis, tak adil pula menganalisis gen milenial dan gen Z hanya karena mereka dianggap penting dari sudut pandang pasar suara dalam industri politik. Amat sangat mungkin di tengah digital native ini ada yang bangkit kesadaran politiknya karena membaca bahaya buta politik Bertolt Brecht atau karena mereka sendiri memang sejatinya secara natural adalah generasi pendukung perubahan.
Suka tak suka akan ada di antara mereka yang menjadi pelaku-pelaku politik, baik sebagai pemilih, medioker, maupun politisi itu sendiri. Akan ada dari generasi mereka yang mengisi ceruk-ceruk pemimpin di segala level.
Millennials adalah mayoritas dalam angkatan kerja saat ini. Apa mungkin dunia politik luput dari fakta itu?
Lalu apa yang terjadi jika mereka tidak diberi bekal optimal agar tongkat estafet kebaikan bisa tetap berpindah di ranah politik yang telanjur dicap dusta dan nista ini? Jika para muda yang segar dan potensial acap dilihat sebagai pesaing bahkan musuh bagi genre yang menjelang senja atau usai usia?
Milenial itu bisa jadi anak-anak kita sendiri. Ataupun anak-anak zaman yang memang dititipkan kepada kita agar dibimbing dan didukung untuk tetap jadi orang baik, di segala bidang. Bahkan termasuk di kubangan politik.
Berbahaya meninggalkan mereka hanya dengan ambisi kuasa legislatif, eksekutif (maupun yudikatif, bahkan melampaui trias politica, ada pilar-pilar demokrasi yang lain seperti pers bebas dan kemerdekaan berserikat dan jangan lupakan ranah profesional), tapi generasi sebelum mereka juga tentunya harus meninggalkan warisan terbaik.
Millennials bahkan disebut oleh Brian Scudamore, CEO O2E Brands, sebagai generasi yang memiliki karakter kepemimpinan lebih kuat dari generasi-generasi sebelumnya. "Millennials lebih berani 'ask for help', ga ragu untuk kerja keras, umumnya karakter pekerja tim, dan punya kekuatan empati," kata Scudamore yang notabene berasal dari generasi tua.
Sudah pula sering laporan hasil pertemuan World Economic Forum Januari 2016 itu dikutip. Betapa sepertiga (35%) skill yang di zaman sebelumnya dianggap penting akan termodifikasi atau hilang. "Critical thinking" dan "kreativitas" melesat di puncak tangga top 10 skills untuk tahun 2020. "Emotional intelligence" dan "fleksibilitas kognitif" meruyak jadi skill penting menggantikan "quality control" dan "active listening".
Maka jangan ragu lagi menggelar karpet warna neon tanda selamat datang dan selamat berkarya bagi para muda millennials dan generasi Z. Pergantian dan perubahan itu keniscyaan. Dan terlalu skeptis menganggap mereka abai politik.
Share:

Senin, 20 November 2017

Bicara Setara

Flagstaff Garden
Beberapa teman awardees di Flagstaff Garden, Melbourne. detti's
Saya berjanji akan menulis dan berbagi, sepulang shortcourse Australia Awards untuk tema "Developing Leadership for Islamic Women Leader" (15 September-1 Oktober 2017) lalu.
Ini salah satunya.
Berdasarkan fakta bahwa awardees (para peraih award) berasal dari latar belakang institusi atau organisasi islam - mayoritas NU dan 10 orang dari Makassar - maka diskursus islam dan kesetaraan gender jadi tak terelakkan.
Namun sejak pre-course tiga hari di Makassar, hingga jelang usainya studi dua pekan di Australia tak sekali jua saya dengar ayat itu disebut tiap bicara gender equity.
Dalam diskusi yang lumayan hangat menghadirkan para kyai, profesor, doktor, dan ahli agama di Makassar yang dikutip selalu "ar rijaalu qowwamuuna 'alan nisaa .." (Quran Surat AnNisaa ayat 34).
Mungkin karena isu yang terangkat soal qaid. Qawwam. Leadership. Mungkin.
Hari terakhir kelas di Deakin University, Collins St Melbourne, yang sekonyong-konyong menjadi kelas Feminis Transformatif, penyajinya Mba Lies Marcoes notabene sesama awardee yang mengidentifikasi diri sebagai feminis liberal, saya sampaikan di forum - termasuk pada dua mentor Australian Dr. Rebecca Barlow dan Annemarie Ferguson - bahwa selain tentang keqowwaman laki-laki, kitabullah Al Qur'an juga punya ayat itu, ayat yang tersurat - bukan tersirat - bicara soal kesetaraan.
Al Ahzab (33) ayat 35.
"Innal muslimiina wal muslimaat, wal mukminiina wal mukminaat .."

Berikut terjemahan lengkapnya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Sepuluh aspek peribadahan yang tersurat, bukan tersirat, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah.
"Dan ayat inilah yang saya mintakan sebagai mahar pernikahan pada suami saya."
Statemen yang tak urung berbuah gasps and mumblings (kesiap dan gumaman). Oke, good signs. Saya lanjut.
"33:35 itu semoga jadi pengingat bagi saya pun suami bahwa pada dasarnya kelamin tak membuat yang satu menjadi sub ordinat bagi yang lain."
Adapun perbedaan tanggungjawab memang disebabkan masing-masing berbeda peran. Harfiah bahwa laki-laki sampai kapanpun tak akan bisa menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Tentu ada asbab mengapa perempuanlah yang diberi peran maternal yang mulia ini.
Dan mungkin seperti yang dimaksud awardee dari PP Nasyiatul Aisyiyah, Rossy Siti Rahmawaty, feminisme ditakuti karena sering ditemukan praktek kebablasan. Jadi lesbian, leadership melampaui laki-laki, benci laki-laki, tak mau punya anak, punya anak tapi enggan disusui, enggan mengasuh anak, atau laku ekstrim serupa.
Paparan itu lalu saya tutup dengan mengutip ucapan Mba Lies sendiri bahwa it's ok bila feminisme punya banyak tafsir. Tak perlu satu tafsir dipaksakan untuk tafsir yang lain.
Di luar kelas beberapa pesan masuk, intinya mendukung paparan 33:35 yang nyaris tenggelam oleh arus pembicaraan feminisme transformatif  Sambil menyeruput ristretto kopi level 10, Bu Nurhayati Aziz, Ketua PW Aisyiyah Sulawesi Selatan beri saya hifive (tos) seraya bilang: "memang harus ada yang bicara seperti mba detti di forum tadi. Takut jadi liar tak terkendali."
*****
Di jenak itulah makin terang bahwa bincang kita soal leadership muslimah, atau muslimah dan kesetaraan gender tak akan bisa dihomogenkan. Dan saya hanya bisa mengira-ngira mengapa pemerintah Australia tertarik memberikan award untuk tema ini: islamic women leadership (dan bukan kebetulan kami berangkat bersamaan dengan teman-teman awardees dari tema kontraterorisme. Kedua kelompok ini bertemu di kesempatan dinner di Canberra).
Saya pribadi tak pernah menjuduli diri sebagai feminis. Namun juga memilih untuk tidak vis a vis dengan feminisme.
Mengapa? Karena ketidakadilan bisa hadir dalam banyak bentuk. Tersebab kelamin, rupa, level sosial.
Dan pada saat yang sama 'perlawanan' tidak harus selalu dilakukan dengan berteriak. Ada kalanya memupuk pembuktian jauh lebih penting.
Wallahu 'alam.

#archive 04102017 dan masih banyak yang terserak dan belum tersimpan di bilik ini. Semoga Allah berikan usia ..

Share:

Kamis, 14 September 2017

Teliti Literasi Foto Hoax Rohingya

Teliti Literasi dari Kasus Foto Hoax Rohingya
Detti Febrina | @dettife* 06092017


Apa bahayanya menyebarkan foto-foto hoax pada isu Rohingya? Selain sebagian besar terkategori disturbing pictures/gambar yang tidak nyaman untuk dilihat, namun yang paling berbahaya adalah pengaburan fakta kemanusiaan yang sungguh terjadi di Rakhine State. Alih-alih ingin berbagi kepedulian, ikut menyebarkan foto-foto hoax Rohingya berbahaya karena justru menisbikan empati akan kezaliman yang nyata berlaku.

Kasus salah posting mantan Menkominfo Tifatul Sembiring, sudah diakui oleh yang bersangkutan sebagai kesalahan, adalah contoh segar. Lihat cepatnya diskusi terdistraksi dari bagaimana ringankan derita Rohingya pada bagaimana merundung mantan Menkominfo yang bisa kepleset juga posting hoax.

Pertama-tama yang seharusnya sudah selesai untuk jadi debat adalah fakta kejadian. Organisasi kemanusiaan di bawah United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada Februari 2017 memublikasi dokumentasi perkosaan massal, pembunuhan - termasuk pada bayi dan anak-anak, penganiayaan brutal, penghilangan manusia, dan banyak tindak kekerasan tingkat berat yang dilakukan angkatan bersenjata Myanmar http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=56678#.Wa-bVNgxXYU . [yes, dengan alasan kredibilitas sengaja dipilihkan link dari UN/PBB].

Artinya, isu kemanusiaan Rohingya itu fakta. Bukan hoax. Dari banyak literatur yang bisa diverifikasi, kezaliman ini bahkan sudah bertahun-tahun.

Maka poin kritisnya adalah kemampuan memisahkan hoax dengan kebenaran.

***

Sudah banyak situs maupun grafis yang memberi edukasi tentang bagaimana cara kita mengkritisi hoax/fake news.

"Kritis" sendiri adalah kata kunci dan niscaya dalam literasi informasi.

Rumusnya sederhana: kritisi setiap informasi yang Anda terima, termasuk tentang Rohingya. Jika surat Al-Hujurat ayat 6 dibutuhkan jadi reminder, maka ingatlah bahwa di ayat yang turun 14 abad lalu itu, bahaya hoax disebut sebagai musibah.

Iya kalau musibahnya tertuju pada pelaku kezaliman, jika pada pihak yang terzalimi sama saja kita menimpakan musibah dua kali. Dan itu 'hanya' karena ikut menyebarkan hoax.

Salah satu cara paling populer mengecek foto hoax adalah dengan menggunakan google image reverse. Sila simak langkah-langkahnya di sini http://jateng.tribunnews.com/amp/2017/05/08/begini-cara-google-mengecek-foto-video-apakah-hoax-asli-atau-palsu-baru-ataukah-lama

Selain google, bisa juga memanfaatkan situs https://tineye.com . Dengan memilih "oldest" pada kotak filter, Anda bisa menemukan siapa pengunggah pertama foto tersebut. Pengunggah pertama dapat menunjukkan pada kejadian apa konteks foto tersebut terjadi.

Berikut foto-foto hoax maupun foto kejadian benar terkait Rohingya yang dihimpun tim Crisis Center for Rohingya (CC4R); digrafiskan oleh teman-teman @pksart dengan mengaburkan gambar-gambar yang dinilai terlalu sadis (grafis susulan insya allah akan kami susulkan pula).

Ayo bantu Rohingya dengan tidak ikut menyebarkan foto hoax.

*@dettife | berkhidmat di lingkaran riset dan monitoring media; membantu pengelolaan isu di Crisis Center for Rohingya (CC4R).

Note: 10 foto hoax Rohingya sudah pula diposting Andy Windarto di laman facebooknya. Ga jadi saya share karena banyak disturbing picture, ya. Salam. Moga manfaat.









Share:

Rabu, 31 Mei 2017

Media Hibernate

Chris C. Anderson, LinkedIn
4 years as a #journalist, almost half my age as #PR person, and now specifically working in the realm of #mediamonitoring and #predictiveanalysis, all of which unfortunately being my 'curse'. Ironically, and much frequently, "news" become one of the things I avoid just to stay sane. Then, I really understand what Chris C. Anderson means in this post. Though questions about keeping the equilibrium still popping here and there ...

Chris said:


The news has been overwhelming lately. The terrorist attack on children in Manchester, the barrage of Trump revelations, Chris Cornell suicide and more. It's exhausting. While we should all strive to be informed, there's no shame in tuning out for a bit. Unless of course you work in a newsroom. Whenever you feel the news dragging you down, I recommend stepping back from it for a while. Take a breather. Turn off your news app and social media alerts for a couple days or weeks, only browse the Internet when necessary and generally try to remember there's so much in the world that you can't control. But you can control your daily life, if you spend time with your family and friends, impacting your local community or taking time to focus on yourself. The news will always be there when you're ready to jump back into the tornado. Now please excuse me as I'm going to spend the day with my wife and daughter.
Share:

Minggu, 21 Mei 2017

Diskursus Pengukuran 7 Juta Status


Posting di blog ini berisi penjelasan lanjut dari posting-posting sambil lalu di medsos dan kompasiana. Untuk menyanggah dan berkomunikasi tentang isu terkait, semua kanal komunikasi dipersila; untuk terhubung di FB, path, atau google+, di versi desktop langsung aja pencet button di sebelah kanan atas screen.

Kalau ada yang belum ngeh dengan isu yang dibahas ini, karena masih mabok honeymoon misalnya ;p , monggo tengok grafis di bawah. Ada beberapa varian, tapi beberapa hari itu seliwar seliwir posting gerakan 7 juta status atau sejenisnya.

***

Ga ngajak berdebat di wilayah ideologis atau keberpihakan (jika kepo soal keberpihakan pun, sila gulir/scroll linimassa saya di FB).

Semata buka diskusi soal teknis.

Keseharian kami di Departemen Riset dan Media Monitoring - bersama teman-teman di Departemen Media Baru - adalah "mengukur" dan "memantau". Jadi: analisis tone, google trend, metrik, digital clip n doc, valuasi berita, update rank, update pageviews, dan sejenisnya sudah menjadi 'siksaan' tersendiri (haha).

Ketika sejumlah posting Gerakan 7 Juta Status bermunculan di facebook - sekali lagi facebook, ya - dengan akhir kalimat begini: kopas, jangan share agar tercapai 7 juta; saya sempat bertanya-tanya, itu ngukurnya pake apa, ya?

Graph API yang bisa mengukur impresi pun hanya bisa dipakai di fanpage dan iklan, bukan akun reguler. Dan yang bisa baca nilai impresi itu kan hanya yang meng-admin-i fanpage. Terlihat misalnya dari "views": People who saw this post.

Untuk fanpage yang ga kita adminin ya ga bisa.

*dalam kasus ini nilai impresi yang dimaksud misalnya: berapa banyak yang malam Minggu ini update status dengan keyword "galau" (haaaatchim ..). Kita pengen tahu berapa banyak orang yang nyebutin kata "galau" di postingan hari itu, jebret lalu keluar datanya.

Ga bisa, facebook belum menyediakan layanan macam itu.

[impresi jenis ini juga disebut PTAT - People Talking About This. Sampai saat ini - tolong koreksi kalau saya salah - belum ada aplikasi berbayar sekalipun yang bisa membaca impresi ini di facebook. Di facebook lho, ya.

Ada sih layanan facebook trend, tapi cuma bisa dipakai di region-region tertentu dan Indonesia ga termasuk di antaranya :((]

Yang rada-rada dekat dengan metrik macam itu di facebook, mungkin dari banyak-banyakan jumlah anggota grup. Dulu kan sering tuh: Gerakan 10 Triliun Facebookers Tuntut Akhiri Pembullyan Jomblo, misalnya - yang sekarang kecenderungannya sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan twitter yang lebih mudah masuk jaring metrik dengan ataupun tanpa hashtag/tanda pagar dan bukan hanya dilihat dari trending topic, facebook sampai saat ini tampaknya belum menyediakan layanan seperti itu. Twitter yang konon mulai redup pamornya masih sangat kepake untuk kebutuhan metrik dan analisis.

Apalagi kalau pakai mesin monitoring premium berbayar.

Kalau ada yang pernah lihat di debat pilkada baru lalu ada tv yang nampilin hasil monitoring persepsi dan preferensi netizen. Nah itu pake twitter. Saya pernah tanya ke Mba Rustika Herlambang, yang perusahaan monitoringnya dipake tv itu, apakah ada hasil persepsi dan preferensi dari facebook, dia ga bisa jawab.

Ya, karena memang enggak/belum ada. Seriously, kalo ada aplikasi atau mesin monitoring macam itu, seriously, mau saya jadiin bahan tesis dah.

Ini ada beberapa metrik di medsos beserta beberapa aplikasi gratisannya (eh, kebaca ga ya. Kecil memang pixelnya. Atau boleh search di pinterest). Btw, aplikasi yang ada di infografis ini ga ada yag bener-bener bisa baca PTAT. Quintly sebagaimana yang disebut di situ, useless. Agorapulse -versi gratisan - juga cuma bisa monitoring fanpage.

Monggo coba aja download dan trial sendiri.



Lalu ada juga yang keukeuh soal hashtag/tagar # di facebook. "Di facebook juga ada kok hashtag, makanya posting statusnya jangan lupa pakai hashtag #kamibersamahrs dst ..".

Well, Mba. hestek di facebook itu nyaris macam jadi asesoris saja. Ga seperti hestek di twitter yang secara algoritmis masuk dalam bacaan tren, sehingga ada yang disebut trending topic. Itu adanya di twitter. 

Kalo di fb, postingan-nya mau pake hestek mau engga, ya ga ngaruh. 

***

Thus, bagus juga mungkin ini jadi inputnya Mas Zuckerberg. Buat orang-orang monitoring macam sayah, jelas layanan metrik macam itu di facebook bagai musim semi setelah paceklik .. ga nyambung yess..

Ke Surabaya nyeruput rawon (jauh amat), Yang ga setuju ya sumonggo mawon.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/detti.febrina/diskursus-pengukuran-7-juta-status_5920ef929397738b048b4568

Keren jika dibully karena mempertahankan prinsip (bela ulama misalnya) lalu dengan percaya diri menunjukkan keberpihakan kita di publik, tapi kan sedih kalau dibully karena metodologi dan logika yang naif. Sekali lagi maaf. Ga ada lain, semoga posting ini manfaat; dan masih suangat terbuka terhadap kritik.
Salam monitoring. 

Share:

Kamis, 06 April 2017

Pengendalian Diri (Mujahadatu Li Nafsihi)


Pengendalian diri tidak linier dengan kemampuan akademis. Bisa saja ada orang yang secara akademis sangat luar biasa, namun tidak bisa mengendalikan diri. Ini karena pengendalian diri memang lebih terkait dengan kecerdasan emosional.

Ada profesor yang kalau marah kebun binatang keluar semua. Tapi ada lulusan SD yang ekspresi marahnya bisa jauh lebih bijaksana. Dan kecerdasan emosional ini ga begitu saja terbentuk saat lahir. Harus diasah. Tentu yang terbaik jika kecerdasan intelektual bisa bersanding dengan kecerdasan emosionalnya. Cerdas intelektual maupun emosional.

Marshmallow experiment - di Stanford Univ. USA thn 1960-an sering jadi rujukan eksperimen pengendalian diri. Para peneliti menguji anak-anak umur 4 tahun/usia TK untuk melihat ketahanan mereka mengendalikan keinginan. Masuk satu per satu ke dalam ruangan, jika bertahan 1/4 jam bisa menahan ga makan marshmallow, maka jatah marshmallow-nya ditambah 2x lipat. Yang berhasil menahan diri cuma 1/3 dari jumlah subyek penelitian.

Ini memang eksperimen ability to delay needs; eksperimen kemampuan menunda keinginan.

Lalu subyek penelitian ini diteliti lagi 14 thn berlalu kira-kira mereka lulus SMA mau masuk kuliah - SAT scholastic assesment test nya lbh tinggi 200 poin. Diteliti lagi pada usia 30 tahun. Jauh lebih sukses. Dan sebaliknya terjadi pada anak-anak yang ga bisa mengendalikan diri.

Ini antara lain menjadi dasar bahwa kesuksesan tidak semata-mata dari kesuksesan akademis tapi justru lebih karena kecerdasan emosional. Self control.

Secara umum, PENGENDALIAN DIRI didefinisikan sebagai tindakan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya di masa kini maupun masa yang akan datang.

Definisi agamanya adalah menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama dan senantiasa taat pada Allah SWT. Terjaga dari maksiat dan bersungguh-sungguh melakukan kewajiban-kewajiban.

Di Quran Surat At Tahrim ayat 6 jelas bahwa tujuan pengendalian diri supaya kita tetap dlm koridor ketaatan pada Allah SWT.

Orang yang bisa mengendalikan diri - mampu meletakkan potensi-potensi ruhiyahnya di atas potensi nafsunya. Di terminologi nafsul insan - jiwa manusia, ada yang ruhnya didominasi hawa-nya, disebut NAFSUL AMARAH. Ada yang ruhnya senantiasa bertarung dengan hawa, disebut NAFSUL LAWWAMAH. Ada yang ruhnya mendominasi hawanya - yang seperti ini yang disebut NAFSUL MUTHMAINNAH, jiwa yang tenang.

Dan untuk mencapai nafsul muthmainnah ini tentu bukan gampang.

Maka Allah turunkan nabi dan rasul sebagai contoh bagaimana cara mengendalikan hawa tadi. Indikator capaian kita ya tentu saja menjadi nafsul muthmainnah walaupun secara ideal belum bisa sampai betul-betul ke situ. Kalau kita petakan posisi kita mungkin ada yang masih nafsul lawwamah. Insya allah di sini ga ada yang termasuk nafsul amarah, ya.

Pengendalian diri ini memang masuk dalam mujahadatun nafs - mujahidu li nafsihi. Kesungguhan untuk mengendalikan diri sendiri.

HR Muslim dari Hudzaifah ibn Yaman: Kata Rasul SAW, fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran.

Jadi nafsu yang hitam dan yang putih itu saling anyam menganyam. Yang menang terlihat dari mana yang dominan. Hitam, putih, atau abu-abu?

Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan oleh Wahab Bin Munabbih: “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakaria a.s, lalu Nabi Zakaria berkata kepada iblis: “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu iblis menjawab:
1. Golongan pertama dari manusia ialah yang seperti kamu ini (para nabi dan rasul). Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).
2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerahkan diri mereka bulat-bulat kepada kami.
3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdaya dan mencapai hajat kami, tetapi ia segera mohon ampun dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai."

Jadi untuk golongan pertama ini mereka - iblis - ga terlalu tertarik menggoda karena golongan ma'shum. Golongan kedua ga usah digoda juga sudah lebih dari iblis. Sampai ada pameo: Iblis sendiri aja udah ngeri ngeliat dosa-dosa manusia. Dan iblis justru takut melihat golongan ketiga. Yang bertarung antara benar dan salah, melakukan kesalahan, tapi lalu bertobat.

Beberapa bentuk pengendalian diri:

1. Pengendalian diri terhadap rasa marah.
Rasul mencontohkan bahwa rasa marah itu bagian dari fitrah manusia, tapi bagaimana agar rasa marah itu tidak keluar dari ajaran islam. Kata rasul SAW saat marah maka sesungguhnya setan sedang bersama kita. Coba kalau sedang merah bercermin atau difoto, wajahnya ya kira-kira seperti yang membersamai itu. Makanya ganjaran bagi orang yang bisa mengendalikan marah itu luar biasa. Laa taghdob fa lakal jannah. Surga.

Kata Rasul SAW kalo lagi marah: 1. Diam. 2. Berganti posisi yang lebih rendah: duduk atau berbaring. 3. Berwudhu atau mandi sekalian.

2. Mengendalikan rasa frustasi atau kecewa
Kalau hidup ga ada kecewanya mungkin kita ga bakal tahu bagaimana kenikmatan hidup itu. QS Ar Ra'du: 28 - banyak-banyak ingat Allah, akan menghilangkan rasa frustasi/gundah. Frustasi berasal dari jiwa yang kosong, ga bahagia. Makanya kita diajarkan agar menyucikan jiwa. Thariqat shufiyah. Membiasakan berdzikir seperti sufi. Berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring.

3. Mengendalikan syahwat.
Kalau wanita misal: syahwat lisan. Kalau laki-laki syahwat pandangan.
Pangkal terjerumus pada maksiat adalah karena ga bisa menahan syahwat pada saat pertama. Dulu kakek saya sering mengingatkan, "Sebelum berbuat, coba banyak pikir dulu." Tapi karena masih kecil belum mengerti. Setelah SMP, SMA baru saya pikir-pikir petuah kakek saya banyak benarnya.
*merasakan muraqabatullah, pengawasan Allah setiap saat.

4. Mengendalikan emosi saat informasi simpang-siur. Misal ada isu apa di media. Langsung merespon. Padahal jauh dari kebenaran. - tabayyun, cek dan ricek. Harus punya kecerdasan literasi. Jangan langsung dipercaya.

Apa saja sarana yang bisa kita lakukan dalam pengendalian diri:
1. Sholat. Sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Orang yang benar-benar menjaga sholatnya pasti terjaga dari hal-hal lain. Sholat yang bukan hanya hadir fisik, tapi juga hatinya.
2. Shaum. Salah satu tujuan puasa yang utama adalah pengendalian diri baik dari maksiat secara keseluruhan maupun dari yang mubah atau syubhat. Shaum juga membantu menundukkan pandangan dan mengendalikan nafsu bagi yang belum mampu menikah.
3. Dzikir. Bukan hanya dengan lisan. Dzikir juga bisa dengan amal-amal, dengan kerja-kerja. Berdoa juga termasuk dzikir. Diam pun bisa dzikir. Dzikir itulah yang membuat kita tenang.
Indikator keberhasilan pengendalian diri:
1. Wara - menjaga diri - dari yang syubhat dan mubah. Misal: makan itu mubah, tapi kalau berlebihan tidak baik. Berpakaian itu mubah tapi kalo ujub, untuk bermegah-megah, berbangga-bangga, ya ga dibolehkan.
2. Bersabar atas prilaku buruk orang lain terhadap kita, khususnya terhadap saudara sendiri. Salamatus shadr - selemah-lemah ukhuwah: berlapangdada pada kesalahan saudara kita. Kalau semisal ada saudara kita membuat tersinggung, ikhlaskan saja. Semoga menjadi kafarat bagi dosa-dosa kita.
3. Mampu mengendalikan emosi secara umum. Apalagi bagi da'i. Da'i kok temperamental ya bukan da'i.
4. Merendahkan suara; bukan berarti kalo ngomong harus pelan-pelan terus, tapi ini lebih terkait dengan adab berbicara. Dengan siapa kita bicara. Meninggikan suara karena menganggap diri lebih benar, lebih pintar, sangat tidak diperbolehkan apalagi terhadap guru dan orangtua, terlarang dalam agama.
5. Mendorong diri senantiasa berinfak. Ini bentuk pengendalian diri dari ketamakan atau kikir terhadap harta. Shodaqoh dan infak salah satu cara meniadakan kikir dan tamak harta.
6. Membiasakan diri melakukan dzikir harian.

[]

Taujih "Pengendalian Diri"
Oleh Dr. Amrul, S.T., M.T.
Taklim jalasah ruhiy PPM-DH B. Lampung, Sabtu 23 Januari 2016

pict: AyoLebihBaik
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts