Kamis, 14 September 2017

Teliti Literasi Foto Hoax Rohingya

Teliti Literasi dari Kasus Foto Hoax Rohingya
Detti Febrina | @dettife* 06092017


Apa bahayanya menyebarkan foto-foto hoax pada isu Rohingya? Selain sebagian besar terkategori disturbing pictures/gambar yang tidak nyaman untuk dilihat, namun yang paling berbahaya adalah pengaburan fakta kemanusiaan yang sungguh terjadi di Rakhine State. Alih-alih ingin berbagi kepedulian, ikut menyebarkan foto-foto hoax Rohingya berbahaya karena justru menisbikan empati akan kezaliman yang nyata berlaku.

Kasus salah posting mantan Menkominfo Tifatul Sembiring, sudah diakui oleh yang bersangkutan sebagai kesalahan, adalah contoh segar. Lihat cepatnya diskusi terdistraksi dari bagaimana ringankan derita Rohingya pada bagaimana merundung mantan Menkominfo yang bisa kepleset juga posting hoax.

Pertama-tama yang seharusnya sudah selesai untuk jadi debat adalah fakta kejadian. Organisasi kemanusiaan di bawah United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada Februari 2017 memublikasi dokumentasi perkosaan massal, pembunuhan - termasuk pada bayi dan anak-anak, penganiayaan brutal, penghilangan manusia, dan banyak tindak kekerasan tingkat berat yang dilakukan angkatan bersenjata Myanmar http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=56678#.Wa-bVNgxXYU . [yes, dengan alasan kredibilitas sengaja dipilihkan link dari UN/PBB].

Artinya, isu kemanusiaan Rohingya itu fakta. Bukan hoax. Dari banyak literatur yang bisa diverifikasi, kezaliman ini bahkan sudah bertahun-tahun.

Maka poin kritisnya adalah kemampuan memisahkan hoax dengan kebenaran.

***

Sudah banyak situs maupun grafis yang memberi edukasi tentang bagaimana cara kita mengkritisi hoax/fake news.

"Kritis" sendiri adalah kata kunci dan niscaya dalam literasi informasi.

Rumusnya sederhana: kritisi setiap informasi yang Anda terima, termasuk tentang Rohingya. Jika surat Al-Hujurat ayat 6 dibutuhkan jadi reminder, maka ingatlah bahwa di ayat yang turun 14 abad lalu itu, bahaya hoax disebut sebagai musibah.

Iya kalau musibahnya tertuju pada pelaku kezaliman, jika pada pihak yang terzalimi sama saja kita menimpakan musibah dua kali. Dan itu 'hanya' karena ikut menyebarkan hoax.

Salah satu cara paling populer mengecek foto hoax adalah dengan menggunakan google image reverse. Sila simak langkah-langkahnya di sini http://jateng.tribunnews.com/amp/2017/05/08/begini-cara-google-mengecek-foto-video-apakah-hoax-asli-atau-palsu-baru-ataukah-lama

Selain google, bisa juga memanfaatkan situs https://tineye.com . Dengan memilih "oldest" pada kotak filter, Anda bisa menemukan siapa pengunggah pertama foto tersebut. Pengunggah pertama dapat menunjukkan pada kejadian apa konteks foto tersebut terjadi.

Berikut foto-foto hoax maupun foto kejadian benar terkait Rohingya yang dihimpun tim Crisis Center for Rohingya (CC4R); digrafiskan oleh teman-teman @pksart dengan mengaburkan gambar-gambar yang dinilai terlalu sadis (grafis susulan insya allah akan kami susulkan pula).

Ayo bantu Rohingya dengan tidak ikut menyebarkan foto hoax.

*@dettife | berkhidmat di lingkaran riset dan monitoring media; membantu pengelolaan isu di Crisis Center for Rohingya (CC4R).

Note: 10 foto hoax Rohingya sudah pula diposting Andy Windarto di laman facebooknya. Ga jadi saya share karena banyak disturbing picture, ya. Salam. Moga manfaat.









Share:

Rabu, 31 Mei 2017

Media Hibernate

Chris C. Anderson, LinkedIn
4 years as a #journalist, almost half my age as #PR person, and now specifically working in the realm of #mediamonitoring and #predictiveanalysis, all of which unfortunately being my 'curse'. Ironically, and much frequently, "news" become one of the things I avoid just to stay sane. Then, I really understand what Chris C. Anderson means in this post. Though questions about keeping the equilibrium still popping here and there ...

Chris said:


The news has been overwhelming lately. The terrorist attack on children in Manchester, the barrage of Trump revelations, Chris Cornell suicide and more. It's exhausting. While we should all strive to be informed, there's no shame in tuning out for a bit. Unless of course you work in a newsroom. Whenever you feel the news dragging you down, I recommend stepping back from it for a while. Take a breather. Turn off your news app and social media alerts for a couple days or weeks, only browse the Internet when necessary and generally try to remember there's so much in the world that you can't control. But you can control your daily life, if you spend time with your family and friends, impacting your local community or taking time to focus on yourself. The news will always be there when you're ready to jump back into the tornado. Now please excuse me as I'm going to spend the day with my wife and daughter.
Share:

Minggu, 21 Mei 2017

Diskursus Pengukuran 7 Juta Status


Posting di blog ini berisi penjelasan lanjut dari posting-posting sambil lalu di medsos dan kompasiana. Untuk menyanggah dan berkomunikasi tentang isu terkait, semua kanal komunikasi dipersila; untuk terhubung di FB, path, atau google+, di versi desktop langsung aja pencet button di sebelah kanan atas screen.

Kalau ada yang belum ngeh dengan isu yang dibahas ini, karena masih mabok honeymoon misalnya ;p , monggo tengok grafis di bawah. Ada beberapa varian, tapi beberapa hari itu seliwar seliwir posting gerakan 7 juta status atau sejenisnya.

***

Ga ngajak berdebat di wilayah ideologis atau keberpihakan (jika kepo soal keberpihakan pun, sila gulir/scroll linimassa saya di FB).

Semata buka diskusi soal teknis.

Keseharian kami di Departemen Riset dan Media Monitoring - bersama teman-teman di Departemen Media Baru - adalah "mengukur" dan "memantau". Jadi: analisis tone, google trend, metrik, digital clip n doc, valuasi berita, update rank, update pageviews, dan sejenisnya sudah menjadi 'siksaan' tersendiri (haha).

Ketika sejumlah posting Gerakan 7 Juta Status bermunculan di facebook - sekali lagi facebook, ya - dengan akhir kalimat begini: kopas, jangan share agar tercapai 7 juta; saya sempat bertanya-tanya, itu ngukurnya pake apa, ya?

Graph API yang bisa mengukur impresi pun hanya bisa dipakai di fanpage dan iklan, bukan akun reguler. Dan yang bisa baca nilai impresi itu kan hanya yang meng-admin-i fanpage. Terlihat misalnya dari "views": People who saw this post.

Untuk fanpage yang ga kita adminin ya ga bisa.

*dalam kasus ini nilai impresi yang dimaksud misalnya: berapa banyak yang malam Minggu ini update status dengan keyword "galau" (haaaatchim ..). Kita pengen tahu berapa banyak orang yang nyebutin kata "galau" di postingan hari itu, jebret lalu keluar datanya.

Ga bisa, facebook belum menyediakan layanan macam itu.

[impresi jenis ini juga disebut PTAT - People Talking About This. Sampai saat ini - tolong koreksi kalau saya salah - belum ada aplikasi berbayar sekalipun yang bisa membaca impresi ini di facebook. Di facebook lho, ya.

Ada sih layanan facebook trend, tapi cuma bisa dipakai di region-region tertentu dan Indonesia ga termasuk di antaranya :((]

Yang rada-rada dekat dengan metrik macam itu di facebook, mungkin dari banyak-banyakan jumlah anggota grup. Dulu kan sering tuh: Gerakan 10 Triliun Facebookers Tuntut Akhiri Pembullyan Jomblo, misalnya - yang sekarang kecenderungannya sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan twitter yang lebih mudah masuk jaring metrik dengan ataupun tanpa hashtag/tanda pagar dan bukan hanya dilihat dari trending topic, facebook sampai saat ini tampaknya belum menyediakan layanan seperti itu. Twitter yang konon mulai redup pamornya masih sangat kepake untuk kebutuhan metrik dan analisis.

Apalagi kalau pakai mesin monitoring premium berbayar.

Kalau ada yang pernah lihat di debat pilkada baru lalu ada tv yang nampilin hasil monitoring persepsi dan preferensi netizen. Nah itu pake twitter. Saya pernah tanya ke Mba Rustika Herlambang, yang perusahaan monitoringnya dipake tv itu, apakah ada hasil persepsi dan preferensi dari facebook, dia ga bisa jawab.

Ya, karena memang enggak/belum ada. Seriously, kalo ada aplikasi atau mesin monitoring macam itu, seriously, mau saya jadiin bahan tesis dah.

Ini ada beberapa metrik di medsos beserta beberapa aplikasi gratisannya (eh, kebaca ga ya. Kecil memang pixelnya. Atau boleh search di pinterest). Btw, aplikasi yang ada di infografis ini ga ada yag bener-bener bisa baca PTAT. Quintly sebagaimana yang disebut di situ, useless. Agorapulse -versi gratisan - juga cuma bisa monitoring fanpage.

Monggo coba aja download dan trial sendiri.



Lalu ada juga yang keukeuh soal hashtag/tagar # di facebook. "Di facebook juga ada kok hashtag, makanya posting statusnya jangan lupa pakai hashtag #kamibersamahrs dst ..".

Well, Mba. hestek di facebook itu nyaris macam jadi asesoris saja. Ga seperti hestek di twitter yang secara algoritmis masuk dalam bacaan tren, sehingga ada yang disebut trending topic. Itu adanya di twitter. 

Kalo di fb, postingan-nya mau pake hestek mau engga, ya ga ngaruh. 

***

Thus, bagus juga mungkin ini jadi inputnya Mas Zuckerberg. Buat orang-orang monitoring macam sayah, jelas layanan metrik macam itu di facebook bagai musim semi setelah paceklik .. ga nyambung yess..

Ke Surabaya nyeruput rawon (jauh amat), Yang ga setuju ya sumonggo mawon.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/detti.febrina/diskursus-pengukuran-7-juta-status_5920ef929397738b048b4568

Keren jika dibully karena mempertahankan prinsip (bela ulama misalnya) lalu dengan percaya diri menunjukkan keberpihakan kita di publik, tapi kan sedih kalau dibully karena metodologi dan logika yang naif. Sekali lagi maaf. Ga ada lain, semoga posting ini manfaat; dan masih suangat terbuka terhadap kritik.
Salam monitoring. 

Share:

Kamis, 06 April 2017

Pengendalian Diri (Mujahadatu Li Nafsihi)


Pengendalian diri tidak linier dengan kemampuan akademis. Bisa saja ada orang yang secara akademis sangat luar biasa, namun tidak bisa mengendalikan diri. Ini karena pengendalian diri memang lebih terkait dengan kecerdasan emosional.

Ada profesor yang kalau marah kebun binatang keluar semua. Tapi ada lulusan SD yang ekspresi marahnya bisa jauh lebih bijaksana. Dan kecerdasan emosional ini ga begitu saja terbentuk saat lahir. Harus diasah. Tentu yang terbaik jika kecerdasan intelektual bisa bersanding dengan kecerdasan emosionalnya. Cerdas intelektual maupun emosional.

Marshmallow experiment - di Stanford Univ. USA thn 1960-an sering jadi rujukan eksperimen pengendalian diri. Para peneliti menguji anak-anak umur 4 tahun/usia TK untuk melihat ketahanan mereka mengendalikan keinginan. Masuk satu per satu ke dalam ruangan, jika bertahan 1/4 jam bisa menahan ga makan marshmallow, maka jatah marshmallow-nya ditambah 2x lipat. Yang berhasil menahan diri cuma 1/3 dari jumlah subyek penelitian.

Ini memang eksperimen ability to delay needs; eksperimen kemampuan menunda keinginan.

Lalu subyek penelitian ini diteliti lagi 14 thn berlalu kira-kira mereka lulus SMA mau masuk kuliah - SAT scholastic assesment test nya lbh tinggi 200 poin. Diteliti lagi pada usia 30 tahun. Jauh lebih sukses. Dan sebaliknya terjadi pada anak-anak yang ga bisa mengendalikan diri.

Ini antara lain menjadi dasar bahwa kesuksesan tidak semata-mata dari kesuksesan akademis tapi justru lebih karena kecerdasan emosional. Self control.

Secara umum, PENGENDALIAN DIRI didefinisikan sebagai tindakan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya di masa kini maupun masa yang akan datang.

Definisi agamanya adalah menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama dan senantiasa taat pada Allah SWT. Terjaga dari maksiat dan bersungguh-sungguh melakukan kewajiban-kewajiban.

Di Quran Surat At Tahrim ayat 6 jelas bahwa tujuan pengendalian diri supaya kita tetap dlm koridor ketaatan pada Allah SWT.

Orang yang bisa mengendalikan diri - mampu meletakkan potensi-potensi ruhiyahnya di atas potensi nafsunya. Di terminologi nafsul insan - jiwa manusia, ada yang ruhnya didominasi hawa-nya, disebut NAFSUL AMARAH. Ada yang ruhnya senantiasa bertarung dengan hawa, disebut NAFSUL LAWWAMAH. Ada yang ruhnya mendominasi hawanya - yang seperti ini yang disebut NAFSUL MUTHMAINNAH, jiwa yang tenang.

Dan untuk mencapai nafsul muthmainnah ini tentu bukan gampang.

Maka Allah turunkan nabi dan rasul sebagai contoh bagaimana cara mengendalikan hawa tadi. Indikator capaian kita ya tentu saja menjadi nafsul muthmainnah walaupun secara ideal belum bisa sampai betul-betul ke situ. Kalau kita petakan posisi kita mungkin ada yang masih nafsul lawwamah. Insya allah di sini ga ada yang termasuk nafsul amarah, ya.

Pengendalian diri ini memang masuk dalam mujahadatun nafs - mujahidu li nafsihi. Kesungguhan untuk mengendalikan diri sendiri.

HR Muslim dari Hudzaifah ibn Yaman: Kata Rasul SAW, fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran.

Jadi nafsu yang hitam dan yang putih itu saling anyam menganyam. Yang menang terlihat dari mana yang dominan. Hitam, putih, atau abu-abu?

Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan oleh Wahab Bin Munabbih: “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakaria a.s, lalu Nabi Zakaria berkata kepada iblis: “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu iblis menjawab:
1. Golongan pertama dari manusia ialah yang seperti kamu ini (para nabi dan rasul). Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).
2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerahkan diri mereka bulat-bulat kepada kami.
3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdaya dan mencapai hajat kami, tetapi ia segera mohon ampun dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai."

Jadi untuk golongan pertama ini mereka - iblis - ga terlalu tertarik menggoda karena golongan ma'shum. Golongan kedua ga usah digoda juga sudah lebih dari iblis. Sampai ada pameo: Iblis sendiri aja udah ngeri ngeliat dosa-dosa manusia. Dan iblis justru takut melihat golongan ketiga. Yang bertarung antara benar dan salah, melakukan kesalahan, tapi lalu bertobat.

Beberapa bentuk pengendalian diri:

1. Pengendalian diri terhadap rasa marah.
Rasul mencontohkan bahwa rasa marah itu bagian dari fitrah manusia, tapi bagaimana agar rasa marah itu tidak keluar dari ajaran islam. Kata rasul SAW saat marah maka sesungguhnya setan sedang bersama kita. Coba kalau sedang merah bercermin atau difoto, wajahnya ya kira-kira seperti yang membersamai itu. Makanya ganjaran bagi orang yang bisa mengendalikan marah itu luar biasa. Laa taghdob fa lakal jannah. Surga.

Kata Rasul SAW kalo lagi marah: 1. Diam. 2. Berganti posisi yang lebih rendah: duduk atau berbaring. 3. Berwudhu atau mandi sekalian.

2. Mengendalikan rasa frustasi atau kecewa
Kalau hidup ga ada kecewanya mungkin kita ga bakal tahu bagaimana kenikmatan hidup itu. QS Ar Ra'du: 28 - banyak-banyak ingat Allah, akan menghilangkan rasa frustasi/gundah. Frustasi berasal dari jiwa yang kosong, ga bahagia. Makanya kita diajarkan agar menyucikan jiwa. Thariqat shufiyah. Membiasakan berdzikir seperti sufi. Berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring.

3. Mengendalikan syahwat.
Kalau wanita misal: syahwat lisan. Kalau laki-laki syahwat pandangan.
Pangkal terjerumus pada maksiat adalah karena ga bisa menahan syahwat pada saat pertama. Dulu kakek saya sering mengingatkan, "Sebelum berbuat, coba banyak pikir dulu." Tapi karena masih kecil belum mengerti. Setelah SMP, SMA baru saya pikir-pikir petuah kakek saya banyak benarnya.
*merasakan muraqabatullah, pengawasan Allah setiap saat.

4. Mengendalikan emosi saat informasi simpang-siur. Misal ada isu apa di media. Langsung merespon. Padahal jauh dari kebenaran. - tabayyun, cek dan ricek. Harus punya kecerdasan literasi. Jangan langsung dipercaya.

Apa saja sarana yang bisa kita lakukan dalam pengendalian diri:
1. Sholat. Sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Orang yang benar-benar menjaga sholatnya pasti terjaga dari hal-hal lain. Sholat yang bukan hanya hadir fisik, tapi juga hatinya.
2. Shaum. Salah satu tujuan puasa yang utama adalah pengendalian diri baik dari maksiat secara keseluruhan maupun dari yang mubah atau syubhat. Shaum juga membantu menundukkan pandangan dan mengendalikan nafsu bagi yang belum mampu menikah.
3. Dzikir. Bukan hanya dengan lisan. Dzikir juga bisa dengan amal-amal, dengan kerja-kerja. Berdoa juga termasuk dzikir. Diam pun bisa dzikir. Dzikir itulah yang membuat kita tenang.
Indikator keberhasilan pengendalian diri:
1. Wara - menjaga diri - dari yang syubhat dan mubah. Misal: makan itu mubah, tapi kalau berlebihan tidak baik. Berpakaian itu mubah tapi kalo ujub, untuk bermegah-megah, berbangga-bangga, ya ga dibolehkan.
2. Bersabar atas prilaku buruk orang lain terhadap kita, khususnya terhadap saudara sendiri. Salamatus shadr - selemah-lemah ukhuwah: berlapangdada pada kesalahan saudara kita. Kalau semisal ada saudara kita membuat tersinggung, ikhlaskan saja. Semoga menjadi kafarat bagi dosa-dosa kita.
3. Mampu mengendalikan emosi secara umum. Apalagi bagi da'i. Da'i kok temperamental ya bukan da'i.
4. Merendahkan suara; bukan berarti kalo ngomong harus pelan-pelan terus, tapi ini lebih terkait dengan adab berbicara. Dengan siapa kita bicara. Meninggikan suara karena menganggap diri lebih benar, lebih pintar, sangat tidak diperbolehkan apalagi terhadap guru dan orangtua, terlarang dalam agama.
5. Mendorong diri senantiasa berinfak. Ini bentuk pengendalian diri dari ketamakan atau kikir terhadap harta. Shodaqoh dan infak salah satu cara meniadakan kikir dan tamak harta.
6. Membiasakan diri melakukan dzikir harian.

[]

Taujih "Pengendalian Diri"
Oleh Dr. Amrul, S.T., M.T.
Taklim jalasah ruhiy PPM-DH B. Lampung, Sabtu 23 Januari 2016

pict: AyoLebihBaik
Share:

Habibie: Jangan Sekali-kali Berharap Jadi Pahlawan


Transkrip LEADERSHIP TALK Presiden ke-3 RI BJ. Habibie
@Milad18PKS, Minggu, 24 April 2016, Kartika Chandra, Jakarta
Pimpinan PKS yang saya hormati dan sayang.

*uhuk2* (eyang lagi sakit)

Para tokoh dan pimpinan yang hadir di sini yang tak bisa saya sebutkan satu per satu, yang saya hormati dan sayang.

Saya diminta memberikan pengarahan mengenai kepemimpinan. Saya dalam hal ini bukan ahli dalam kepemimpinan. Orang tahu semua Habibie ahlinya apa (audiens grr). Tapi dalam kehidupan saya yang insya allah kurang dari 2 bulan lagi berusia 80 tahun dan saya telah melalui banyak sekali masalah-masalah yang harus diselesaikan dengan baik.

Satu saya pelajari: HARUS KERJA KERAS.
Kedua, HARUS RASIONIL.
Ketiga, HARUS PROFESIONAL DALAM BIDANGNYA.
Dan akhirnya JANGAN SEKALI-SEKALI MAU JADI PAHLAWAN. Kepahlawanan itu mahal. Kita tidak mau dan penting menjadi pahlawan. Yang penting kita menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Tugas apa saja. (applause ..)

Saya mau sampaikan sama Anda. Anda bisa cek di buku Detik-Detik Yang Menentukan, Habibie dan Ainun. Banyak sekali buku-buku. Satu yang jelas. Semua tahu bahwa yang namanya Baharuddin Jusuf Habibie ditinggal ayahnya ketika ayahnya sedang menjadi imam dan memimpin sholat isya. Saya usianya ketika itu 13 thn. Saya melihat saat ayah sujud. Dia imam di depan. Allahu akbar. Heart attack. Meninggal di atas sajadah.

Tapi sebelumnya waktu saya umur 5 tahun. Ayah saya itu ahli pertanian. Dia bekerja di tempat yang sekarang menjadi IPB Bogor. Dulu namanya Landbouwschool. Punya balai percobaan. Waktu saya umur 5 thn: "Sini nak, kamu ikut dengan bapak lihat balai percobaan. Lihat itu ada mata air. Apa yang kamu lihat di mata air itu?" "Apa, pak? Indah, pak. Hijau. Kupu-kupu." "Lihat, beberapa meter dari sini ada orang mengambil air untuk dibawa ke rumahnya. Mengerti apa artinya?"

Anak 5 tahun. "Saya tak tahu kamu nanti besar jadi apa. Tapi saya harapkan kamu jadi kepala keluarga yang baik, perilakumu seperti mata air itu. Keluargamu, saudara, semua melekat."

Saya yakin itu berlaku untuk Anda, sama seperti berlaku untuk Habibie. (applause ...)

Saya tidak tahu. Tidak pernah bercita-cita jadi menteri. Saya hanya ingin jadi insinyur dan membuat kapal terbang. Anda catat. Dari situ ambil kesimpulan.

Saya datang ke Jerman umur 18 thn. S1 masuk pusat keunggulan teknologi di Jerman. Semua yang top di situ bagian teknologi masuk di situ. Saya masuk di situ susah (audiens ketawa). Yang diuji 5 persen dari yang datang. S1 di situ, S2 di situ, S3 di situ. Selesai umur 28 thn, tahun 1964. Saya cerita ini ada maksudnya. Waktu 1964, September Ilham sudah lahir. Saya sudah menikah dengan Ainun. Masalah rumahtangga. Tapi di benak saya jadikanlah mata air dari keluargamu.

Saya waktu di Jerman jika mau S3 Anda tidak bisa melamar. Yang mau melamar misal untuk konstruksi pesawat terbang hanya ada 4 tempat. Yang melamar waw banyak. Ditender. Kalo anda yang dipilih anda ga bayar. Anda digaji. Gajinya 10 persen lebih tinggi (dibanding) kalo anda kerja di industri.

Saya beruntung diterima, Dik. Waktu itu belum nikah, Dik, dengan Ainun. Diterima salah satu dari 4 itu. Lalu saya pulang, nikah. Dan seterusnya Anda sudah liat filmnya.

Waktu saya selesai S3, bidang saya adalah hypersonic float. Saya cerita, Dik. Sebelumnya saya bekerja mengadakan riset untuk kapal selam yang selam lebih dalam di 300 meter. Yang lain ga bisa karena tekanan air makin dalam makin besar. Dan kalo terlalu berat ga bisa naik lagi. Saya kembangkan. Tiba-tiba yang saya kembangkan itu bisa dikembangkan oleh Departemen Pertahanan (Jerman), karena dia yang bayar.

Belum ada laptop, belum ada yang seperti itu dan pekerjaan saya harus diteruskan orang lain. Karena waktu itu menjelang tahun 1960 tahulah keadaannya di Indonesia tidak kompatibel dengan cara berpikir di Eropa dst. Saya paspor Indonesia. Saya boleh meneruskan jika saya ganti paspor Jerman. Saya ga mau. No way. (Applause).

Ok. Ambil pekerjaan saya. Saya tanya sama prof, lalu saya ngapain? "Habibie, kamu ngajar aja mengenai irreversible aerodinamica." 1001 macam yang mentok-mentok waktu itu. Mahasiswanya paling 20 waktu itu. Saya ngajar. Dibayar sih (ketawa).

Sekarang apa yang terjadi. Profesor datang. "Habibie, ada masalah. Tahu ga kalau balistic misile kalo ditembak ke atas. Udara makin tipis-tipis, tapi kemudian udara makin tebal menjadi shockwave sehingga peluru roket itu panas. Bagaimana itu (solusi)nya?"

Saya bilang. Prof, saya pelajari dulu. Setelah itu dipanggil kamu dah pelajari? Sudah. Kamu bisa selesaikan? Bisa, tapi syaratnya saya dapat S3 dan tidak boleh laksanakan seperti waktu kapal selam saya (ketawa). Harus berani.

(Penelitian) harus rahasia. Ga boleh publish. Habibie ga boleh publish, hanya yang penting-penting saja. Beberapa tahun kemudian saya bisa selesaikan. Teorinya bagaimana, menghitungnya bagaimana sampai dengan bisa diterapkan. Ketika itu terjadi, tawaran datang. Habibie ditawari jadi guru besar di Aacheen. S3 28 thn. 29 thn jadi guru besar. Kamu maunya apa? Mau buat kapal terbang. Untuk apa? Untuk rakyat saya (applause).

Datang tawaran dari industri. Amerika. Eropa. Saya bilang saya tidak mau. Yang saya pilih industri pesawat terbang yang paling kecil, letaknya di Hamburg, hanya 3000 orang. S3 hanya 3 orang. Saya seperti Anda, wajah Indonesia 28 thn dikira 18 thn (ketawa). Wajah muda tidak berjenggot (ketawa).

Datang. Sekarang. Anda catat nanti kita ambil kesimpulan.

Directornya bawa kertas-kertas. "Anda kemari mau jadi direktur atau kepala bagian? Mau apa?" Saya mau buat pesawat terbang, ga mau (jadi) direktur. "Ga mau jadi kepala atau pemimpin?" Tidak. Saya mau buat kapal terbang. Saya ditanya tentang kapal terbang. "Apa syaratnya supaya kamu bisa kita terima?" Saya punya anak istri. Barang tidak banyak. Kamu harus bayar tiket dan biaya pindah. Saya minta flat, tidak mau rumah, mau yang lingkungannya berpendidikan. Karena anak saya akan masuk kindergarten. "Tapi mahal." Kalo ga mau ya ga usah (ketawa). "Mau mobil?" Ngga usah, saya naik bus.

Saya dijanjikan akan digaji 1300 deustche mark (DM). Waktu itu banyak. Saya minta ditingkatkan supaya jadi 1500 DM. "Oke kapan kamu bisa mulai?" Saya masih kontrak mengajar. Lalu kembali ke institut . Ditanya kamu melamar ya di perusahaan kecil itu? Kamu jangan merusak pasar, dong. Itu terlalu rendah. Tidak diberi 1500 DM. Tapi akhirnya 2500 DM.

Kesimpulan. Saya tidak kejar duite (beneran ngomongnya duite, not.). Saya kejar pekerjaan yang bisa menjadikan saya unggul, tapi pekerjaan itu halal (applause).

Sekarang kita bicara mengenai KEUNGGULAN.

Anda itu saya anggap sehat. Sehat keluarganya. Bangsa ini kita perjuangkan semua sehat. Tadi bagus tandatangani keluarga anti narkoba (sebelumnya ada acara penandatanganan MoU PKS dengan Ketua BNN RI Budi Waseso untuk program Keluarga Anti Narkoba bekerjasama dengan Rumah Keluarga Indonesia-RKInya PKS, not.).

Dalam hal ini kita akan ikut berantas narkoba.

Sekarang keunggulan itu anda harus mengalami proses pembudayaan yang nilainya outputnya iman dan takwa yang bernilai tinggi. Itu setiap kali saya bilang budayanya jitu. Agamanya jitu. Agama anda dan saya sama. Al Quran dan sunnah jitu. Budayanya berbeda. Ada orang Jawa, Sumatra, batak, bugis. Berbeda.

Nah tetapi budaya itu harus bersinegi dengan agama. Oke? Itu menghasilkan iman dan takwa. Sehingga budaya dan agama tidak cukup, Dik. Anda harus trampil dalam bidangnya sehingga bersinergi: budaya, agama, iptek, ketrampilan. Outputnya produktivitasnya meningkat. Tapi kalo produktivitas sudah meningkat dan Anda nganggur bagaimana mau jadi unggul?

Anda hanya bisa jadi unggul kalau sudah melalui proses pemberdayaan pribadi yang merupakan sinergi positif agama, budaya, dan iptek. Anda baru jadi unggul kalau Anda diberi kesempatan menyelesaikan masalah-masalah kompleks. Mulai dari yang sederhana, sistematis, makin kompleks.

Kesimpulan. Kita harus perjuangkan pendidikan.

Hei, Bung, pendidikan dimulai dari rumah, dari ibu-ibu. Bapak-bapak juga harus ikut. Kalau itu sudah, kita baik ibu dan bapak, memberikan yang sesuai ketrampilan, sesuai dengan interest anak atau cucu, pendidikan yang tepat. Setelah itu anda lepaskan dan nikahkan.

Anda harus perjuangkan agar semua produk yang kita beli di bumi Indonesia itu adalah sebagian besar karya Anda-Anda sendiri.

Kita bicara soal jam kerja. Maka saya harapkan partai dimanapun berada tiap jam kerja harus ada bagian dari anak cucu kita. Kalau Anda tidak begitu tidak mungkin anak cucu kita menjadi unggul, Dik. Saya bicara sebagai eyang dan bapak anda yang mengalami itu.

Sekarang soal proses nilai tambah pribadi, oke. Proses budaya iman takwa dan iptek oke. Tingkatkan produktivitas, maka anda akan jadi unggul. Apakah sudah dilaksanakan?

Jadi tidak masalah jika Anda juga perjuangkan lapangan kerja. Ada yang lapor, kami industri, lapangan kerja, tapi kita harus datangkan orang dari negara tersebut untuk melaksanakan. Saya katakan itu salah, tidak boleh walau debatnya 1000 macam. Begini aja, kamu ekspor barang dan bawa pekerjanya dari negara dia. Ga akan bung! (Applause)

Itu anda harus perjuangkan.

Tempat kerja yang kecil itu Hamburg, sekarang apa? Sekarang Airbus (audiens: wow, more applause..). Ide Airbus sudah sejak 1965 Desember. Saya di antara anak muda yang masuk perusahaan itu dulu. Belum Airbus namanya. Hanya ada 3 PhD saja. Saya paling muda. Produksi Boieng 737 yang besar. Airbus A300. Saya masih punya fotonya dengan direktur utamanya waktu launching itu.

Ainun baru selesai buat rumah tahun 1972 tiba-tiba saya disuruh pulang. Setinggi-tingginya kembalilah di sini. Anda jadi besar karena orangtuamu, lingkunganmu, masyarakatmu.

Jangan harapkan orang lain yang membangun bangsamu. (Applause..)

Saya ini eyang untuk sebagian besar di sini. Saya tidak tahu masih berapa lama saya berada bersama Anda. Watik Pratiknya 13 tahun lebih muda dari saya. Sejak Ainun meninggal, dia selalu mendampingi saya. Saya titip pesan ini itu padanya. "Iya, Pak." Kata dia. Tiba-tiba 2 bulan kemudian dia dipanggil Allah.

Jadi Saudara-Saudara, saya kalau pergi ke Hamburg, kamar saya dulu jadi mesin. Kalau saya datang ke situ, itu datang semua karena saya dilligent. Tapi waktu saya datang membuat airbus, pikiran saya hanya satu: pulang dan membuat kapal terbang. Tidak ada di kepala saya jadi menteri apalagi presiden.

Tadi waktu saya lihat demo film itu (sebelumnya ada pemutaran film ilustrasi kelahiran PKS sejak 1998, not.) PKS usianya persis Habibie jadi presiden 1998.

Saya cerita waktu itu Jendral Feisal Tanjung datang sama saya. Pak, saya harus cerita sebelumnya. Pak Harto lengser tanggal 21 hari Kamis. Saya tidak diberi apa. Maksudnya kalo timbang terima apa kan harus sudah ada kertas-kertas. Nothing. Oke. Walau Pak Harto itu guru saya. Dia bilang, kalau saya tidak ketemu kamu, maka yang rugi bangsa Indonesia.

Dalam sejarah Republik Indonesia kita tidak merubah dan tidak akan merubah UUD 1945 itu. Dan tidak perlu karena UUD 1945 itu padat dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tiap sila secara eksplisit, tanya sama ahli hukum. Di tiap kata itu selalu ada, selalu dengan Allah SWT. Kenapa? Karena UUD itu adalah UUD dari rakyat ini. Masyarakat ini mengandalkan pada sumber daya manusia dan bukan sumber daya alam.

Anda tahu islam di Eropa? Coba pergi ke Spanyol, Andalusia. 800 tahun Islam di semenanjung itu berkuasa. Kordoba. Granada. Anda masih bisa lihat jejak-jejaknya sekarang. Kalau punya waktu pergi ke situ. Tapi coba apa? 800 tahun itu islam tidak pernah SARA. Dia buka pintu agama apa saja. Dia berpegang agama Anda adalah agama Anda. Agama saya, agama saya.

Granada, Kordoba mekar akar ilmu pengetahuan. Saya bilang bukan di Greek. Okelah filsafat dsb, tapi akar engineering mekar di Italia (Spanyol mungkin maksudnya?, not.).

Dik, kita negara Pancasila walau 87 persen rakyatnya bernafaskan alQur'an dan asSunnah dan sebelum tidur atau sebelum makan bismillaahirrohmaanirrohiim, kita toleran. Tidak SARA.
...

[Tak terlepas dari kekurangan indra pendengaran, atau ada sinaps yang mungkin kurang nyambung di otak, atau jempol kegedean untuk mentranskripkan pidato ini, regretfully lebih dari separuh notulensi saya ga sengaja terhapus dan ga bisa di-undo. *sedih, tapi tak perlu pake emot nangis lebay-lah ya ..

Banyak cerita tentang kejadian 1998. Kembalinya demokrasi lewat pemilu 1998 serta respon dan apresiasi beliau tentang kemunculan Partai Keadilan yang kala itu diketuai teknokrat yang ia sebut sebagai "anak"nya: Nurmahmudi Ismail. Bagaimana saat diamanati sebagai Presiden, beliau hanya ingin membawa Indonesia keluar dari krisis dan kemelut sekalipun banyak tawaran untuk memperpanjang usia presidensialnya.

Juga trik tetap bugar walau menjelang 80 tahun - a.l. membiasakan berenang minimal 1 jam tiap pekan, kesamaan pendapat dengan Presiden PKS M. Sohibul Iman - notulensi lengkapnya juga tersedia - soal money politic sebagai bentuk kegagalan membangun demokrasi substansial, dan banyak lagi. Ga bosen dengerinnya.

Apapun, saya kira BJ Habibie sebagaimana harapan sang ayah, memang sejatinya adalah mata air bagi negeri ini.

*Ke Tanah Karo membeli coklat - jauh amat ..
Walau cuma separo, well semoga bermanpaat*

Grafis @pksart]

note: yes #archive yes 
Share:

Semut, Cicak, dan Keberpihakan


Ketika Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke kobaran api yang disiapkan oleh Namrud, konon ada dua ekor binatang yang berperan. Kedua binatang tersebut adalah semut dan cicak.

Semut berlari-lari dengan susah payah berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as dengan membawa butiran air di ujung mulutnya. Perilaku semut tersebut membuat semua binatang heran dan bertanya-tanya, sehingga seekor gagak bertanya.

Gagak: "Wahai semut, kamu mau apa di sekitar kobaran api itu?"

Semut : "Aku mau memadamkan api agar Nabi Ibrahim as tidak terbakar!"

Gagak: "Semut bodoh, tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu."

Semut : "Mungkin setetes air tidak akan bisa memadamkan api, tapi agar di hadapan Allah SWT aku dapat membuktikan di pihak mana aku berada."

Karena jawaban semut akhirnya seluruh hewan melata ikut membantu membawa air, kecuali cicakCicak justru ikut meniup api yang dibuat oleh Namrud agar semakin berkobar.

Tiupan cicak tentu tidak akan bisa membesarkan kobaran api. Lalu mengapa cicak melakukannya? Ternyata sama dengan semut. Cicakmelakukan itu agar semua tahu di pihak mana ia berada.

***

"Dahulu ia (cicak) meniup api yang membakar Nabi Ibrahim as." (~ HR. Bukhari sahih dari Ummu Syarik). Kisah fabel semut dan cicak diolah dari berbagai sumber.

***

Allah Maha Tahu bagaimana rasa hati ini tak bisa berangkat di momen 212 karena harus menemani dua buah hati yang ujian akhir semester. Tapi sungguh bersyukur sangat abi mereka ada di barisan itu.

#archive 
published di instagram & facebook 5 Desember 2016
pict dari futurism.com
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts