Minggu, 05 Juli 2009

Ketika Penerbit & Media Cetak Tak Lagi Berkuasa

Ketika Penerbit & Media Cetak Tak Lagi Berkuasa

Posted by: "Jonru" jonrusaja@gmail.com j0nru

Fri Jul 3, 2009 8:22 pm (PDT)



Ketika Penerbit & Media Cetak Tak Lagi Berkuasa

Oleh: Jonru
Ditulis dalam rangka soft launcing portal PenulisLepas. com versi terbaru
Tulisan ini juga dimuat di http://norabots. com/ar/x/ t.php/964

Siapakah - selain Tuhan - yang menentukan nasib seorang penulis?
Anda mungkin dengan cepat dan sergap menjawab, "Penerbit dan media cetak!"

Bagaimana tidak! Kedua lembaga ini adalah pihak yang paling
berkompeten untuk memutuskan apakah sebuah naskah layak untuk terbit
atau dimuat. Keputusan mereka merupakan sebuah "palu hakim" yang
menentukan kesuksesan atau kegagalan Anda sebagai penulis.

Kini, zaman telah berubah. Di internet, kita mengenal istilah Web 2.0
sejak beberapa tahun lalu.

Web 2.0 adalah sebuah teknologi atau gaya hidup baru di dunia maya, di
mana semua orang sudah berdiri secara sejajar.

Coba Anda cermati website-website populer yang menerapkan konsep Web
2.0 seperti Facebook, Friendster, Multiply, Twitter, Wikipedia, dan
sebagainya. Siapakah "penguasa" di website-website ini? Jawabannya
adalah KITA SEMUA. Pendiri atau founder situs-situs tersebut HANYA
menyediakan sarana. Setelah website-nya selesai dibangun, kita-kita
inilah yang bermain di sana. Kita semualah yang mengisi contentnya.
Kita semualah yang membuat situs-situs tersebut menjadi besar dan
populer.

Yuswo Hady, seorang pakar marketing dan penulis buku "Crowd, Marketing
Become Horizontal", mengatakan bahwa bisnis era Web 2.0 adalah sebuah
dunia di mana tak ada lagi jarak antara produsen dengan konsumen.
Semuanya sudah seperti kerumunan. Semua orang sejajar dengan
orang-orang lainnya, tidak peduli apakah dia produsen, konsumen,
distributor, pengamat, atau apapun.

Itu di dunia marketing.

Sebenarnya, dunia penulisan pun sama saja. Dunia penulisan di era Web
2.0 adalah sebuah dunia di mana kekuasaan penerbit dan media cetak tak
lagi dominan. Kini, mereka bukan satu-satunya pihak yang berhak untuk
memutuskan apakah tulisan Anda layak terbit atau tidak.

Era Web 2.0 melahirkan blog, mailing list, social networking, dan
sejumlah sarana lain yang sebenarnya sangat pas buat para penulis.

Di blog misalnya, semua orang bebas memuat tulisan apa saja,
sekehendak mereka, tanpa pernah ada yang menyeleksi, tak ada yang
mengedit (kecuali si penulisnya), tak ada yang menentukan apakah
tulisan Anda layak publish atau tidak (kecuali Anda sendiri).

Memiliki blog bagi seorang penulis bukan sekadar memiliki sarana untuk
menulis secara bebas sekehendak dia. Memiliki blog juga berarti
memiliki media pribadi. Blog Anda adalah media Anda. Sama seperti
Jacob Oetama yang memiliki sebuah media bernama Kompas.

Anda tentu paham, bahwa media merupakan sarana yang sangat efektif
untuk menyebarluaskan ide, opini, ideologi, dan pemikiran-pemikiran
lainnya. Bila Anda punya media, maka Anda punya potensi yang sangat
besar untuk memengaruhi opini publik, bahkan gaya hidup masyarakat!

Itulah sebabnya, banyak pengusaha - juga politikus - yang
berlomba-lomba mendirikan media.

Masalahnya, mendirikan media cetak itu butuh modal yang sangat besar.
Karena itu, "mimpi memiliki media" bagi orang kebanyakan seperti kita
ini rasanya masih sangat mustahil.

Namun di internet, mimpi seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit untuk
terwujud, melainkan sangat mudah. Di tahun 2001 lalu, saya mendirikan
situs PenulisLepas. com dengan proses yang memakan waktu tidak sampai 2
hari, dan modal awalnya tidak sampai Rp 200 ribu. Sangat mudah, murah,
dan cepat!

Dan ketika PenulisLepas. com menjadi besar seperti saat ini, saya
merasa bahwa "kekuatan" yang saya miliki untuk memengaruhi opini
publik lebih kurang sama seperti kekuatan yang dimiliki oleh para
pemilik media cetak!

* * *

Maka, Web 2.0 sebenarnya merupakan PELUANG BESAR bagi siapa saja yang
bergelut di dunia penulisan.

Bagi para penulis seperti kita, sudah sangat jelas bahwa sarana atau
media untuk berekspresi kini semakin banyak. Kita memang TETAP PERLU
mengirim naskah ke media cetak atau menerbitkan buku. Sebab kedua
media ini sampai sekarang masih dianggap sebagai pihak yang
"menasbihkan" eksistensi seorang penulis (walau sebenarnya saya tidak
sepakat dengan pola pikir seperti ini!).

Internet - khususnya era Web 2.0 - memungkinkan para penulis untuk
mengembangkan karir secara lebih leluasa. Dulu, penulis harus menunggu
"ketukan palu" dari penerbit atau media massa. Keputusan kedua lembaga
ini untuk menerima naskah Anda merupakan LANGKAH AWAL untuk menentukan
nasib Anda selanjutnya. Bila mereka belum bersedia memuat naskah Anda,
maka Anda belum bisa tampil sebagai seorang penulis yang diakui
keberadaannya.

Kini, di era Web 2.0, Anda tidak perlu menunggu "ketukan palu" dari
manapun! Anda dengan leluasa langsung menulis di internet, tanpa ada
yang bisa melarang atau menghalanginya.

Dan sudah TERBUKTI: Banyak sekali penulis yang mengawali karir mereka
dari internet. Mereka awalnya belum pernah "bersentuhan" dengan media
cetak atau penerbit buku. Tapi karena rutin menulis, dan
tulisan-tulisan mereka disukai oleh banyak orang, maka penerbit pun
tertarik untuk bekerja sama dengan mereka.

Sekadar contoh saja, berikut saya sebutkan beberapa nama penulis yang
sukses memulai karir dari internet:
- Bayu Gawtama
- Raditya Dika
- Agnes Harjaningrum
- Romy Satrio Wahono
- Agung Nugroho

Kisah hidup mereka tentu saja panjang. Tapi secara singkat: Mereka
mulai menulis dari internet, dan dari sana kisah sukses mereka pun
dimulai :)

Atau bila Anda hendak melihat bukti dari segi finansial, cobalah
berkenalan dengan Budi Putra. Mantan wartawan Tempo ini kini
berprofesi sebagai full time blogger. Ya, dia benar-benar mendapat
banyak penghasilan dari kegiatan menulis di blog.

Tulisan-tulisan Budi Putra yang dimuat di berbagai blog, memang tidak
menghasilkan uang. Tapi dari tulisan-tulisan itulah dia mendapat
kredibilitas dan dipercaya oleh banyak orang. Dari hal inilah dia
akhirnya banyak mendapat kepercayaan untuk menulis naskah-naskah yang
"ada duitnya". Banyak orang yang setelah membaca isi blog Budi Putra,
menghubungi dia lalu memintanya menulis dengan bayaran ratusan dolar!

Contoh lain: Coba bertandang ke Reviewme.com, sebuah website yang
membayar Anda untuk meresensi produk tertentu. Atau Google Adsense,
sebuah layanan penghasilan online, di mana Anda menulis di blog lalu
mendapat komisi dari iklan-iklan yang dimuat di blog tersebut.

Dan masih banyak contoh lainnya!

Saya kira, para penulis akan bisa mendapat banyak penghasilan dari
situs-situs seperti ini. Dan ini adalah fakta objektif tentang peluang
besar bagi para penulis di era Web 2.0.

Tapi sayangnya, MINDSET kebanyakan penulis kita masih berkutat di
seputar media cetak dan penerbit buku. Mereka masih berpikir bahwa
seseorang baru berhak disebut sebagai penulis hebat bila mereka sudah
menerbitkan ratusan buku, atau bila tulisan mereka sudah banyak dimuat
di media cetak.

Ya, pandangan seperti ini tidak keliru. Saya juga percaya dan setuju
bahwa penulis yang menerbitkan seratus buku dalam setahun adalah
orang-orang yang sangat layak untuk disebut sebagai penulis hebat.

Tapi di era teknologi canggih ini, di era Web 2.0, saya kira para
penulis - termasuk saya - harus mulai open minded. Wawasan kita harus
lebih terbuka. Kita harus sadar bahwa saat ini media dan sarana bagi
para penulis sudah sangat banyak, dan "kekuasaan" penerbit dan media
cetak tak lagi terlalu dominan.

Dan bagi saya pribadi:
Alhamdulillah saya sudah berhasil membuktikan bahwa era Web 2.0 telah
membawa berkah yang sangat luar biasa.

Bayangkan saja:
Saya bukan penulis produktif. Buku yang saya terbitkan baru tiga, dan
belum ada yang best seller. Naskah saya yang dimuat di media cetak pun
masih sangat sedikit.

Bila mengunakan pola pikir penulis konvensional, sudah dapat
dipastikan bahwa predikat saya saat ini adalah PENULIS YANG BELUM
SUKSES.

Tapi alhamdulillah, saya merasa bersyukur karena sudah mengenal dunia
internet sejak tahun 1998 lalu. Saya bukan hanya belajar menggunakan
internet. Saya juga belajar HTML, belajar desain web, belajar internet
marketing, dan masih banyak lagi. Dari sanalah, alhamdulillah karir
kepenulisan saya mulai menanjak.

Dari kiprah di internet, saya kemudian mendirikan Sekolah-Menulis
Online (SMO), rutin mengadakan kegiatan pelatihan penulisan di
berbagai kota, dan beberapa kegiatan lain. Alhamdulillah semuanya
sukses. Pendaftar selalu ramai. Saya kira, kesuksesan seperti ini
bukan disebabkan oleh "prestasi" saya di dunia offline, melainkan
oleh kiprah saya di internet selama ini.

* * *

Jadi bagi Anda yang hingga hari ini belum berhasil menembus media
cetak atau penerbit buku, kenapa tidak mengikui jejak Bayu Gawtama,
Raditya Dika, dan para penulis online lainnya?

Tulisan ini tidak panjang. Ini bukan buku. Karena itu, saya tentu tak
mungkin menjelaskan langkah demi langkah untuk berkirah di internet
bagi seorang penulis. Tapi secara singkat, saya bisa menyebutkan
beberapa langkah yang dapat Anda tempuh untuk bisa sukses sebagai
penulis di internet.

Buatlah blog dan belajarlah HTML walau hanya dasar-dasarnya saja.
.
Kenali dunia internet secara lebih serius. Anda yang ingin sukses
berjualan di Tanah Abang tentu harus mengenal Tanah Abang secara lebih
dekat. Maka bagi Anda yang ingin sukses sebagai penulis di internet,
tentu harus mengenal internet secara lebih dekat pula (demikian
menurut Nukman Luthfie).
.
Belajarlah tentang cara membangun personal branding atau "menjual
kemampuan diri" lewat internet. Saran saya, belajarlah internet
marketing!
.
Manfaatkan blog Anda secara maksimal untuk membangun eksistensi diri
serta memperkenalkan dan mempromosikan kemampuan diri Anda kepada
publik. Bila nanti Anda sudah rutin menulis, isi blog Anda sudah
sangat banyak, dan banyak orang yang suka membaca tulisan-tulisan di
blog Anda, maka Anda akan dianggap seorang pakar dengan kompetensi
yang tak perlu diragukan lagi. Bila kondisi ini sudah tercapai, maka
yakinlah bahwa sukses hanyalah soal waktu!
.
Aktiflah bergaul di situs-situs social networking, seperti Facebook,
Multiply, Twitter, dan sebagainya. Ini penting untuk membangun
jaringan Anda, baik dengan sesama penulis maupun dengan orang-orang
dari penerbit dan media cetak.
.
Belajar menulislah secara lebih mendalam di Sekolah-Menulis Online :)
Semoga terinspirasi, semoga bermanfaat. Salam Sukses!

Jonru
- Penulis, entrepreneur, blogger, trainer kepenulisan
- Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
- Founder PenulisLepas. com, BelajarMenulis. com, dan sejumlah website lainnya.
- Blog Pribadi: http://www.jonru. net & http://jonru. multiply. com
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts