Sabtu, 08 Agustus 2009

Empat Balita Tanpa Pembantu

Kok bisa? Ya harus bisa. Realitanya begitu. Seperti hari ini, balita tertua - alias suamiku tersayang (di bawah lima puluh tahun) - sedang sakit dan aleman. Kesabaran adalah sesuatu yang terus digedor sepanjang hari hingga mereka semua terlelap dan diriku hening di depan monitor.

Empat balita tanpa pembantu? Ya ya ya ..., maka buka internet dan entry posting di blog maupun situs jejaring menjadi kemewahan yang sangat. Apa daya keinginan untuk share lebih kuat dan khawatir segala yang berpendar di otak menguap seiring datangnya kantuk.

Sebelumnya harus klarifikasi dulu. Sungguh, tidak sedramatis apa yang dijudulkan. Tapi teorinya kan judul harus menohok, maka dibuat semenderita mungkin ... Ha ha, sungguh, dini hari mengetikkan ini, aku ada di titik bahagia. Lelah sungguh, tapi bahagia.

Balita pertama sudah disebut di depan. Balita, tapi tetap qowwamku, pemimpinku di rumah.
Balita berikutnya sebetulnya sudah lebih dari 5 tahun. Tsabitah tepatnya usia 5,5 tahun. Dan hari ke hari aku semakin bangga dengan 'kedewasaannya'. Sebetulnya sudah ga balita ...

Lalu Tsaqifa, pas 3 tahun. Mungkin karena ini memang usia anak yang paling 'menantang' bagi orangtua. Tsaqifa, si hidung bulat yang kusayangi, sering menguji emosi ... Tak terkecuali hari ini.

Terakhir baby Ukasyah alias Syahid, jadi teman setia ketika mengarungi Lampung Tengah maupun malam-malam ketika jemari menari di keyboard.

Empat kan?

***

Tanpa pembantu? Bagaimana mengelola rumah?

Mestinya biar lebih sip kutambah juga: tanpa mesin cuci bahkan tanpa dapur! (Kontrakan baru ini tipe 45 asli. Jadilah kami buat dapur darurat di belakang. Eh, berarti walau darurat sebenarnya punya dapur yak ..)

Poin pertama, kerjakan saja dan jangan berharap sempurna. Masak yang praktis-praktis saja, yang penting standar gizi terpenuhi. Ada protein dari lauk, ada vitamin mineral dari sayuran, dan karbohidrat dari nasi. Sudah.

Hari ini - karena kondisi kantong juga - tiada gulai cumi atau daging balado. Cukup dadar gemuk berisi kornet plus rajangan bawang bombay, tumis kangkung dan ... indomie rebus. Buat anak-anak, yang penting susu stand by. Menu begitu rupa, ketiga balita tidak ada yang protes dan alhamdulillah makan banyak (mungkin karena dipelototi juga. hehe ..).

Tak jarang, nasi siap di magic jar. Lauk ya beli sajalah ...

Cucian dan segala sesuatu yang dekat dengan air insya Allah siap kuhajar. Tapi untuk urusan menyetrika, sering berkibar bendera putih. Mending kugotong ke rumah ibu. Kalau tidak lelah, dan satu dari empat balita tidak minta perhatian lebih, pakaian yang sudah kering dari jemuran langsung dilipat rapi. Insya Allah tidak kusut, kecuali untuk bahan pakaian tertentu.

Piring gelas pemakaiannya harus efisien. Gelas-gelas pribadi untuk minum air putih tak bisa tidak, mesti dipake dari pagi sampe malem, kecuali sudah kotor kena minyak atau sejenisnya. Anak-anak bisa dikondisikan, walau kadang ratu ngomel harus memanjangkan bibir.

Mengepel lantai juga jadi pekerjaan rumah yang tak bisa disenantiasakan, kalau yang dimaksud ngepel entire floor of this tiny home, paling-paling localized ruang tengah yang memang merangkap ruang makan.

Rumah berantakan, bertebaran mainan dan pakaian? Ahh, pokoknya persis game babysitting mania, itu sudah pasti. Maka masuk poin kedua, libatkan anak-anak termasuk anak mertua. Juga poin ketiga, prinsip minimalis tapi perabot rumah tangga efektif sesuai fungsinya.

Tanpa pembantu bukan berarti kita kemudian merasa jadi pembantu. Just do it-lah. Justru dalam keadaan seperti ini saya baru benar-benar bisa merenungi mengapa Rasulullah SAW mengatakan jihadnya perempuan adalah di rumahnya sendiri, karena pekerjaan rumahtangga, mengasuh anak-anak, itu memang never ending assignment ya.

Pendelegasian dan berbagi tugas jadi satu poin penting. Alhamdulillah bapakke anak-anak bukan tipe alergi kerjaan rumah. Anak-anak juga kemudian bisa disituasikan lebih mandiri.

Dan nyambung ke poin ketiga, perabot minimalis tapi fungsional misalnya wadah/kontainer/rak khusus mainan anak sehingga mereka mudah merapikan mainannya sendiri. Dimana wadah pakaian kotor, di sebelah mana kalau mau cari gunting, dst bisa mudah.

Terakhir, hanya kepada Allah SWT saja tempat berserah dan mohon kekuatan. Anak-anak berantem, atau merengek minta sesuatu yang tak jelas, lalu suara tangisnya membelah lingkungan kompleks ... Huf, lelah fisik masih bisa direparasi dengan gizi dan istirahat, tapi kalau sudah lelah hati ... emosi sungguh begitu mudah dikilik-kilik untuk terlampiaskan dengan cara yang ngga good.

Maka, memang hanya Allah SWT tempat kembali ...

***

Jelas saya masih jauh dari expert untuk yang beginian. 6 tahun kemanjaan di rumah ibu dengan bantuan PRT, segenap fasilitas lengkap, lalu voi la! harus mandiri seperti ini menjadi episode yang butuh kecepatan belajar tingkat tinggi.

So, help me God ...
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts