Senin, 18 Januari 2010

Facebook Group: Kritisi Media, Jangan Telan Bulat-Bulat!

Tunai satu tugas yang tiada sesiapapun mewajibkannya kecuali diriku sendiri. Tinggal klik dan ketak-ketik, betapa sebetulnya kebaikan - ataupun keburukan - bisa muncul di monitor komputer kita, bisa menghunjam ke dalam otak kita, ke dalam otak anak-anak kita hanya dengan sebuah klik.


90 members, 3 hour after launch ... Semoga ada manfaatnya. Itu saja.

Bagi yang ingin bergabung, silakan meluncur ke Grup FB ini: Kritisi Media, Jangan Telan Bulat-Bulat!

[profile pict ketelek yang bikin orang keselek mau ketawa ini dipersembahkan oleh seorang professional graphic designer, sketches expertize - saaah ... serius ini: Dede Darmawan Saputra.

Silakan langsung kontak beliau untuk segala sesuatu terkait profesinya. Tuh De, udah dipromoin kan ... Dan bagi yang ingin mengopi gambar tersebut, salinlah dengan cara yang beradab: sebutkan sumbernya dan buatlah taut/link. Trims]

Media ...

Mungkin perlu determinasi ulang, apa saja kebutuhan pokok manusia era milenium kedua ini. Melihat berkerumunnya media di sekeliling kita, tak berlebihan bila dikatakan media telah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia modern.

Kesadaran bahwa media adalah realitas tangan kedua - bukan realitas yang sesungguhnya - mungkin tak selamanya mengendap di otak kita. Apalagi kesadaran bahwa media juga harus vis a vis dengan pemodal, pengiklan, dan begitu banyak pemilik kepentingan.

Berita yang satu suara dan mengabaikan keberagaman sudut pandang, masih tegaknya rumus "bad news is good news", pertanyaan soal profesionalisme para jurnalis - seiring dengan rendahnya upah mereka - merupakan sisi media yang berujung pada urgensi mengapa media penting untuk dikritisi.

Belum lagi bicara program-program dengan tag hiburan atau semi-hiburan yang tak jarang mengabaikan norma dan nir-edukasi, program atau acara anak yang justru tidak patut ditonton anak-anak, atau perdagangan anak yang diawali dari perkenalan di fesbuk ...

Grup ini tidak ditujukan untuk bermusuhan dengan siapapun kecuali dengan kebodohan. Sebagai konsumen media, jadilah konsumen yang cerdas, kritis, mencerna baik-baik apa yang dihidangkan media sebelum meng-iya-kannya.

Dengan semakin cerdasnya konsumen media, maka industri media juga didorong untuk menampilkan hanya yang terbaik bagi publik serta menyisihkan sampah-sampah dari deretan produk mereka.

Setuju kan?

Original posting:   http://dettifebrina.blogspot.com/
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts