Senin, 08 Maret 2010

Menteri yang Mau Bunuh Diri. Apa Iya?

Ada deduksi kebolak-balik yang memaksa otak karatan ini harus belajar ulang filsafat ilmu.

Apa iya, seseorang yang berbilang tahun jadi garda depan humas partai - artinya bukan hanya 'dekat' dengan wartawan, tapi juga berusaha fasih memahami sistematika dan isi kepala wartawan, kata demi kata apa saja yang paling tepat diucapkan - bahkan kemudian jadi public figure yang lagi-lagi dekat dengan urusan informasi, berani mengata-ngatai wartawan?

Bunuh diri kalau dia berani lakukan tindakan begitu konyol. Ini logika sederhana yang herannya tak ditelisik dengan cermat oleh redaktur Media Indonesia (MI) ...

Pertanyaan yang sahut menyahut di kepala ini kemudian jumpa ketepatannya di sini:

2010/2/25 Sirikit Syah <sirikitsyah@ yahoo.com >milis jurnalisme

Saya sulit percaya ada orang, pejabat, public figure, berani mengata-ngatai media seperti "Pers cari makan dengan melintir berita". Taruhannya amat berat (diserang oleh media adalah risiko terberat para public figure, bukan?).

Tapi saya percaya Tifatul mengatakan kepada seorang wartawan yang telah diprotesnya berkali-kali dengan kalimat bernada jengkel: "Jangan cari rezeki dengan cara seperti ini dong."

Ada dua hal yang berbeda dari kemungkinan di atas. Saya pikir, media massa jangan menyalahgunakan kekuasaannya (the power of media, the power of shaping public opinion), untuk mengatakan hal-hal yang tidak benar. Kalau Tifatul jengkel terhadap seorang wartawan, janganlah dia dianggap musuh pers Indonesia.
 
ss

(Maaf ya Bunda SS. Sejumlah salah ketik terasa begitu mengganggu hingga komentar itu kemudian tayang di blog ini setelah saya edit sana-sini.)

Sirikit Syah, bagi milister jurnalisme atau penggiat media literacy tentu nama yang sangat familiar. Bagi yang belum kenal dan mau kenal beliau lebih lanjut, silakan klik situs indonesiatera di sini.

***

Saya ingat, teman sesama redaktur - waktu dulu masih 'nguli di sebuah koran 'corong' - pernah minta statemen salah seorang politisi yang tengah berseberangan haluan dengan pemilik media kami. Berita-berita media kami memang selalu menohok lawan-lawan politik The Big Owner. Politisi ini muda, lembut, dan jadi favorit ibu-ibu karena ceramah-ceramahnya yang menyentuh hati.

Bukannya memberi statemen yang diminta, Hendri, teman saya itu, justru "dipaksa" si politisi muda duduk manis mendengarkan siraman ruhani tentang pentingnya menjaga kebersihan sumber penghasilan kita. Dan betapa Baginda Nabi SAW mencela orang yang berghibah - membicarakan aib/keburukan orang lain - sebanding dengan orang yang makan bangkai saudaranya.

Mirip sekali dengan cerita Mr. Tif dan wartawan MI, bukan?

Tapi saat itu reaksi Hendri jauh lebih matang. Ketika menceritakan pertemuan dengan politisi yang juga da'i itu, ia menutupnya dengan menepuk dahi. "Selesai dia ngomong, baru aku mikir. Iya ya, kok malah jadi aku yang keenakan dengerin dia ceramah."

Hendri tak serta merta menurunkan tulisan menuding si politisi muda sebagai orang yang melecehkan pers.

Fakta batas mati yang kejar mengejar dengan profesionalisme seorang jurnalis, apalagi wartawan harian ... Serta fakta bahwa media juga bagian dari industri. Oh, oh ...


Ke depan, ayo diskusi soal kredibilitas pers dan kasus tweet Mario Teguh. Fa insya Allah ...

Original post: http://dettifebrina.blogspost.com/
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts