Kamis, 08 Juli 2010

Pengkhianat

Pict. of Brutus's slaughtering Julius Caesar
Story of betrayal and crocodile's mouth (alias buaya-buaya mangap).

Menang atau kalah bisa jadi sangat penting. Tapi kepandaian untuk mengambil berjuta pelajaran di balik kekalahan pun kemenangan, tentu jauh lebih penting.

Di balik cerita tentang mental pemenang serta pecundang, tiap medan peperangan menyisakan satu karakter lagi. Tabirnya mungkin lambat terbuka. Tapi bila ia memang harus terbuka, tak satu makhluk jua dapat menahan tabir itu untuk terbuka. The Traitor. Si Pengkhianat.

Ketangguhan lawan tarung yang membuat juara bertahan terjerembab, nyerinya tidaklah masuk ke sumsum tulang. Bahkan kisah buaya-buaya mangap juga jadi kisah klasik betapa orang berkerumun untuk mengisap madu, bukan untuk jadi kontributor penyerbukan yang menyebabkan bunga-bunga mekar menjadi buah yang manis.

Orang yang selama ini dipercaya, tumbuh bersama, murid dari sang guru namun kemudian menikam gurunya sendiri, rasanya bak ditikam tepat di jantung, berkali-kali.

Dia dibuat percaya bahwa dia penting. Kepadanya dikatakan bahwa dia orang ring 1. Dia dijanjikan status penting ambtenaar. Yayasan prestisius menanti. Motor matic sudah dipakainya hilir mudik kesana kemari.

Terkaman buaya mangap memang menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi bila buaya mangap itu tadinya adalah anak rusa yang diasuh penuh kasih sayang.


Helaan napas sambil terus belajar. Terus belajar.
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts