Jumat, 24 September 2010

Mengobati Kecanduan Pornografi


Selain dipandang sebagai kelemahan moral, kecanduan pornografi juga merupakan penyakit
otak yang paling sulit untuk diobati. Ada beberapa yang bisa dilakukan untuk mengobati kecanduan pornografi.

Kecanduan pornografi adalah kecanduan yang paling sulit untuk diobati, karena kecanduan ini menyerang 'jantung' kemanusiaan. Hal ini karena seksualitas merupakan pendorong utama dari kepentingan manusia.

Layaknya kecanduan bahan kimia, pecandu pornografi cenderung menggantikan sesuatu hal yang penting dengan seks atau bentuk lain dari pornografi. Orang yang kecanduan pornografi biasanya menggunakan media seperti majalah, video porno atau yang paling sering adalah internet.

Kecanduan pornografi sama saja dengan kecanduan bahan kimia yang dikategorikan sebagai penyakit otak. Selain itu, otak manusia ternyata bisa tidak berfungsi jika terlalu sering melihat sesuatu yang berbau porno.

Dilansir dari Sexualrecovery, Kamis (23/9/2010), berikut beberapa gejala orang mengalami kecanduan pornografi:
  1. Ketidakmampuan untuk menghentikan perilaku kecanduannya, walaupun pernah mencoba sebelumnya
  2. Merasa tersinggung atau marah bila kegiatannya dihentikan
  3. Menyembunyikan atau berusaha untuk menjaga rahasia dari semua kegiatan pornografi yang dilakukannya
  4. Tetap melanjutkan kegiatan pornografi meski sudah kehilangan hal berharga dalam hidupnya, seperti hubungan asmara atau kehilangan pekerjaan
  5. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang berbau pornografi ketimbang hal lain yang lebih penting

Untuk dapat menghentikan kecanduan pornografi dibutuhkan kejujuran dan kesadaran. Pecandu pornografi harus mampu jujur mengakui bahwa ia kecanduan dan ingin menghentikan kebiasaannya tersebut.

Tidak seperti kecanduan alkohol atau narkoba, kecanduan pornografi lebih sulit untuk mendapatkan bantuan.

Tapi jika benar-benar ingin berhenti, berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

  1. Blokir perangkat lunak dalam komputer yang berhubungan dengan pornografi
  2. Pasang gambar atau foto orang-orang yang menginspirasi di sekitar komputer atau kamar tidur, seperti foto anak atau orang-orang yang Anda cintai.
  3. Pindahkan komputer ke ruangan umum di rumah selain kamar tidur, seperti ruang keluarga.
  4. Ketahui tanda-tanda kecanduan pornografi, baik tanda umum ataupun khusus
  5. Ketahui tahap kecanduan pornografi
  6. Memiliki rencana dan komitmen pencegahan kecanduan
  7. Buatlah sebuah komitmen yang harus Anda jalani bila melanggar komitmen yang sudah dibuat.
(mer/ir) Kamis, 23/09/2010 08:07 WIB Mengobati Kecanduan Pornografi Merry Wahyuningsih - detikHealth


Seorang teman, guru sekolah dasar, pernah membuat ilustrasi yang menarik tentang dampak pornografi pada anak-anak. Ia minta siswa-siswinya meremas-remas kertas, lalu kertas itu coba dirapikan lagi menjadi lembaran kertas yang bagus seperti semula.

"Apa yang terjadi pada kertasnya?"

"Rusak, Bu."

"Beginilah, Nak, yang terjadi pada otak kita kalau yang masuk ke dalamnya adalah gambar-gambar jorok, porno, yang tidak pantas dilihat oleh orang dewasa sekalipun. Apakah kertasnya bisa licin lagi sebagus sebelum diremas?"

"Tidak, Bu."  "Jadi kalau sudah rusak, nggak bisa dibenerin lagi ya, Bu?"

"Nggak bisa, Nak. Meski bagaimanapun kita perbaiki, tetap ada bekasnya."

Reaksi siswa beragam. Ada yang merengut, menerawang, dan tidak satu dua yang menangis.

Sesi itu diakhiri dengan membuang semua komik, majalah, dan film berkonten porno milik para siswa (Anda akan terkejut bila tahu betapa banyak komik maupun film kartun anak-anak yang muatan pornografisnya bahkan dominan ...) untuk kemudian dimusnahkan.

Di tengah serbuan visual dan verbal lucah (saat tulisan ini dibuat, di tivi berulangkali diputar iklan lagu "... baru kenal udah ngajak tidur - keong racun" atau "cinta satu malam, buatku melayang ..." yang dengan fasih ditirukan oleh si 6 tahun dan 4 tahun si buah hati), usaha para pendidik semacam ini mungkin bak menyiram seember air ke tengah lautan.

Namun tetap lebih baik daripada diam.

***

"Selain dipandang sebagai kelemahan moral, kecanduan pornografi juga merupakan penyakit otak yang paling sulit untuk diobati."
Jika hanya dianggap sebagai kelemahan moral, perdebatannya bisa panjang. Tapi jika sudah ada klaim medis, masih perlukah perdebatan diteruskan?

Berikut penjelasannya.


Penyakit Otak Disebabkan Kecanduan Pornografi

Kecanduan pornografi mungkin lebih sering dipandang sebagai suatu kelemahan moral atau bentuk hiburan semata. Tapi seorang ahli menyatakan kecanduan pornografi layaknya kecanduan bahan kimia, yang merupakan penyakit otak.

Kecanduan pornografi adalah kecanduan yang paling sulit untuk diobati, karena kecanduan ini menyerang 'jantung' kemanusiaan. Hal ini karena seksualitas merupakan pendorong utama dari kepentingan manusia.


"Pornografi adalah racun yang sempurna," ujar Gordon S. Bruin M.A., L.P.C, pendiri dan presiden InnerGold Counseling Services Inc., seperti dilansir dari HubPages, Senin (14/6/2010).


Bruin yang selama 18 tahun telah banyak menangani pasien kecanduan bahan kimia seperti alkohol, heroin, kokain, methamphetamine, marijuana, dan termasuk pornografi, memandang kecanduan pornografi sebagai penyakit otak layaknya kecanduan bahan kimia.


Kecanduan terjadi ketika otak secara fisik telah menguasai pikiran. Pikiran adalah intelijen yang frustrasi karena kehilangan kontrol. Ini adalah bagian yang menghasilkan perasaan benar atau salah, karena otak secara fisik tidak memiliki konsep benar atau salah.


Kecanduan adalah kondisi yang mana secara fisik dan kimia otak memaksa seseorang melakukan suatu perilaku tertentu tanpa adanya keterlibatan pikiran atau hati nurani.
Tapi karena kekuatan dari sistem limbik otak (salah satu sistem pada struktur otak) dan kapasitas untuk menaungi bagian moral dan rasional dari otak, banyak orang yang mengklaim bahwa pornografi adalah perilaku yang normal atau sebagai hiburan semata.

Pada dasarnya, satu-satunya perbedaan antara kecanduan narkoba, seperti heroin atau kokain dengan pornografi adalah cara memasuki sistem. Otak merespons informasi yang diterima melalui mata lebih cepat ketimbang dari sumber lain.

Informasi visual diproses di sistem limbik dalam waktu nanodetik (sepuluh pangkat minus sembilan detik). Inilah sebabnya mengapa kecanduan pornografi menjadi masalah besar.

Informasi visual diproses lebih cepat daripada informasi indera yang lain, bahkan respons heroin atau kokain sekalipun jauh lebih lambat.

Selain visual, hormon oksitosin juga berperan pada kecanduan pornografi. Oksitosin dapat menciptakan rasa bersatu dan kebersamaan selama berhubungan seksual.

Namun ketika hormon ini dilepaskan melalui hubungan seksual tanpa pasangan seperti cara-cara melihat gambar seksual alias pornografi, penerima oksiton dibiarkan merasa sendirian, depresi, dan bingung, walaupun disertai pelepasan dopamin (hormon pemicu rasa senang).

Oksitosin adalah suatu bahan kimia 'lem' yang mencari sesuatu ikatan. Pornografi adalah kekuatan oksitosin, yang menyebabkan perasaan kosong dan kebingungan bagi semua orang yang melakukannya. Dan ini membuat kecanduan pornografi sebagai penyakit otak. [Saya kopas dari website FK Unair. Silakan cek linknya di sini].


Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts