Jumat, 29 Oktober 2010

Dewasa Dari Muswil Ke Muswil (2)


Memorabilia Lima Tahunan Itu
Muswil PKS Di Mata Seorang Emak-Emak:
Untuk Dikenang dan Semoga Bisa Diambil Pelajaran
Chapter 2 
Mengasah Batu Mulia


Hadirin, penggalan di atas (please see Chapter 1 here) sepintas bukan episode yang indah. Dan episode-episode berikutnya juga secara kasat mata mungkin tak bisa disebut episode "menggali harta".

Ibarat orang-orang yang lalu lalang menginjak-injak sebuah batu besar berkalang tanah, akan berbeda dengan orang yang mengerti dan mengamati batu itu baik-baik, membawanya pulang, mencuci, dan mengasahnya hingga bisa ia bawa ke pasar internasional sebagai batu mulia.

Muswil dan begitu banyak momentum dakwah ibarat sebongkah besar batu mulia. Batu mulia berkalang tanah, berlumur lumpur, yang bagi mereka yang tak mengamatinya baik-baik cukuplah menjadi batu yang dilemparkan atau diinjak-injak.

Berikut satu episode lagi yang mudah-mudahan bisa diasah menjadi batu mulia.

Kemarau isu muswil karena kultur adem ayem tiap momen pergantian pemimpin yang sulit dicari hot news-nya mencapai titik puncak saat momentum pra-muswil yang sudah mengerahkan begitu banyak sumber daya akhirnya bisa juga terangkat ke media, namun dengan susah payah.

Ahad, sepekan sebelum muswil, disepakati - tepatnya diputuskan - menggulirkan pra-muswil "tanam pohon" di Kabupaten Pesawaran.
Undangan ke pers disiapkan, baik via sms, telepon, maupun jejaring.

Rilis sudahpun disetting sedemikian rupa. Nadhil didapuk jadi PJ kontak pers. Nashar bantu dokumentasi. Budi dapat tugas wawancara. Nda dan Bintun tangani notulen setiap kata yang keluar dari Ketua DPW serta pejabat pemerintah yang datang. Satu mobil khusus - lengkap dengan Mang Pardiman - untuk mengangkut para kuli flashdisk ke lokasi acara juga sudah sedia.

"Dil, tolong wartawan itu ditelpon satu-satu. Jangan hanya sms. Pastikan mereka berangkat."

Malam Ahad itupun jadi malam ahad "zhabu-zhabu!". Karena pulsa prabayar habis, maka pulsa pascabayarpun disedot demi lancarnya komunikasi baik ke awak humas maupun wartawan terundang (rasa-rasanya pulsa adalah persoalan kesekian bila main issue-nya adalah kejelasan koordinasi).

Sungguh Ahad yang detik ke detiknya bagai tanpa jeda. Padahal tiga agenda - tanpa menyertakan pra-muswil - sudah diiyakan sejak jauh hari.

"Agendaku 3 Ahad itu, Lin ..." jelasku pada Ibu Bendahara yang sempat kehilangan diriku di pinggir pantai hari itu (narsis tanda eksis). Salah satu agenda pukul 10 bisa mengundang pelototan cukup tajam bila kuabaikan dengan ngotot berangkat ke Pesawaran.

Dan jangan tak percaya ibu-ibu sekalian, ada agenda hari itu yang dimulai pukul 06.00 pagi di rumah, lengkap dengan segala kehebohan domestik di pagi hari. Selesai agenda pagi, barulah meluncur ke Untung Suropati mengecek kesiapan kawan-kawan humas.

Surprise ... surprise ... Hampir pukul 09.00 kulalui portal satpam DPW, Xenia hitam bersama Bintun dan Nadhil yang sudah rapi jali masih termangu manis menanti wartawan yang bakal ikut ke lokasi.

Nadhil. "Belum ada yang datang, Mbak."

"Baik, telpon semua wartawan yang sudah dikontak. Jangan hanya sms. Telpon. Pastikan, mereka berangkat atau tidak. Katakan kita bisa jemput." Berbagi tugas siapa yang bisa dikontak Nadhil dan siapa yang bisa kutelpon, aksi gerak cepat menelpon wartawanpun dilakukan.

Nelpon Si A, katanya yang diproyeksikan bukan ia, melainkan si X. Minta dikirimkan nomor si X, di seberang terdengar nada panggil namun tak jua bersambut. Prosedur standar: redial hingga lima kali. Bila tiada respon juga, segera telpon yang lain, lalu telpon kembali Mr X. Begitu seterusnya.

Lalu Deputy GM media Z, dia bilang akan kontak kantor dulu. Kukatakan, bisakah langsung tunjuk saja siapa yang bisa meliput. Memuaskan dahagaku, dijawabnya, 'Biasanya si D. Langsung saja hubungi D, Mbak. Tapi kalau D tak bisa tolong kirim rilis dan fotonya ke kantor.'

Ada lagi yang jawabannya agak berbeda, "Hari ini ada undangan pernikahan. Kebetulan masih kerabat Pak Pimum. Kami semua ga enak kalau nggak ke sana, Mbak. Gimana ya ..."

Tak satupun yang luput. Seluruh media yang nomor kontaknya tersimpan di ponselku dan Nadhil satu per satu ditelpon. Di-tel-pon. Seraya berulang kali mendengar hipotesis Nadhil tentang 'tidak menjual'nya isu lingkungan sebagai alasan malasnya wartawan meliput.

Iya Dil, isu lingkungan + yang angkat parpol pula = ke laut aje ... Tapi diskusinya sudah panjang dalam rapat-rapat kita yang selalu membahas sesuatu berulang-ulang itu. Apalagi kalau bepeha  sudah memutuskan.

Sekali lagi, just do our work, OK.

Singkat cerita, tak satupun yang bisa berangkat bersama Xenia hitam. Memang tak senihil itu, ada wartawan yang menyanggupi untuk langsung ke lokasi. Tak ayal, rencana melesat ke plan B, kirim rilis pasca acara dan menelpon - lagi - satu-persatu, memastikan rilis telah diterima setiap redaksi.

Lagi, kirim-mengirim rilis - karena dilakukan sore hari - tak bisa kutelateni. Kupastikan Ni sudah handle ini dengan baik. Agenda ketiga sudah menunggu jasadku hadir di sana. Ya benar, jasadku hadir, namun mungkin pikiran ini masih mengembara ke rilis yang harus masuk ke semua redaksi koran seantero Lampung.

Dan rapor humas untuk acara "tanam pohon" terpapar di koran keesokan harinya.

Sudah jadi sarapan, pagi-pagi sms masuk dari Mr. Secretary.

Di radar dan lampost ga ada beritanya. tribun saya belum cek. tolong siapkan iklan.
Memang belum sempat cek sendiri koran pagi. Seperti biasa, harus 'zhabu-zhabu!', baru bisa memikirkan yang lain. Tapi jika benar seperti yang dismskan, astagfirullah ... terbayang wajah anak-anak humas yang sudah berusaha belajar cepat. Sudah melakukan segala yang harus dan mungkin dilakukan, based on how they have to adapt in this brand new situation.

Tidak, tidak ... Harus cek sendiri. Setidaknya cari second opinion. Tak butuh waktu lama, Nadhil kirim laporan.

Di tribun ada tapi kecil. Di Lampost juga ada tapi ngambil dari antara. Di radar belum liat.
Selesai. Terbukti, second opinion yang berbeda sangat, bukan?

Setelah berbalas sms, keputusannya tetap saja: iklan. Baiklah. Dalam situasi begini, humas hanya operator saja. Tak ada peran sebagai pengambil kebijakan.

Senin sore pasca rapat panitia yang kini berjalan maraton, berjibaku lagi ngurusi iklan. Foto mana yang paling pas, apa captionnya, dst. Iklan tanam pohon siap ngejreng di koran Selasa.

Koran Selasa itupun akhirnya menurutku jadi kinda joke.

"Andainya kita lebih bersabar," tukas Ni memperlihatkan iklan "tanam pohon" yang mejeng hanya beberapa halaman dari berita yang sama, dengan posisi dan ukuran yang persis sama dengan iklan yang sudah kami bayar tak murah itu.

Jadi, di sebuah koran Selasa itu ada dua berita "tanam pohon". Satu berita hard news. Satu lagi iklan. Sama-sama berwarna, sama-sama headline. Sungguh sangat indah ...

Ada bagian dari diri kami yang ingin berseru, "Apa kubilang ...". Tapi bagian diri yang lain menahannya, "Sudahlah. Toh salah atau benar keputusan pasang iklan yang berjuta-juta itu bisa mereka lihat sendiri dari 'Si Koran Selasa' ...".

Sms seperti berhamburan masuk dari berbagai penjuru.
Sayang amat Mbak, pasang iklan itu. Keputusan siapa sih?
Mengapa bisa ada dua berita kita di koran QWERTY? Yang satunya iklan? Bayar berapa itu?
Jangan lupa berita-berita muswil kirim ke wilda ke email xyz.
... Membaca satu demi satu sms yang masuk saat rapat. Kirim berita ke wilda? Sungguh, seseorang dengan tingkat tajarrud, totalitas, dedikasi seperti Pak Munawardi memang layak membuatnya terbang mencium Hajar Aswad. "Sudah saya kirim ke wilda, Bu. Ngga papa kan kalo saya yang kirim?" begitu ujar Pak Mun.
Saya malu sekaligus haru. Itu seharusnya tugas saya.

(Khususon untuk Koori:  Jangan tanyakan apa yang didapat oleh orang-orang seperti ini, Ri. "Kok sampe begitu banget. Apa sih yang dicari?" katamu. Menyusuri sepuluh arkan al-bai'ah, jelas bahwa orang-orang seperti Pak Mun tak lagi memaknai tajarrud sekedar hafalan atau pengetahuan belaka.

Beliau sudah bertahun-tahun melakukannya.)

***

Kembali ke kejadian iklan tanam pohon. Batu mulia dari episode ini antara lain: Pers punya rumus dan logikanya sendiri. Kita bisa saja bekerja dan hanya bekerja, mengabaikan publisitas dan manajemen isu. Tak ubahnya orang yang merasa selalu bergerak, selalu melakukan sesuatu. Padahal sebenarnya yang dia lakukan adalah berlari mundur.
Bukankah rancu bicara keterbukaan, pluralitas, target 3 besar, dan yang semacam itu, jika masih setia bertahan pada logika kita sendiri?
Demikianpun, pada akhirnya ada batu mulia yang lain: takzim pada syuro tetap harus menjadi bingkai bahkan pemupus segala kekecewaan.

Satu pahala, Kawan. Itulah yang paling penting.


Bersambung: Chapter 3  Blessing in Disguise

Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts