Kamis, 09 Mei 2013

Khafdus Shaut ~ 'Merendahkan' Suara (1)



Khafdus Shaut ~ Khifdus Shaut*
"Merendahkan Suara ~ Menjaga Lisan"


Suaraaa ... dengarkanlah aku ...

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ - رواه الترمذيDari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang hal apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga? Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’ Lalu beliau ditanya tentang hal apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka? Beliau menjawab, ‘Lisan dan kemaluan.’ (HR. Turmudzi)


Imam Syahid Hasan al Banna dalam wasiat ke-10 menyatakan: "Janganlah kalian meninggikan suara yang memang tidak perlu." Orang yang mengeraskan suara di luar keperluan dianggap orang yang kurang akal.


Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat hendaknya dia berkata perkataan yang baik ataupun diam” (Hadis Riwayat Imam al-Bukhari no 6475 dan Imam Muslim no 47).

Jadi perintahnya bukan untuk diam, tapi justru BICARA. Tetapi bicaralah yang baik. 

Merendahkan suara bukan berarti ga tegas, merendahkan suara bukan berarti pelaaa...an sampe ga kedengeran, bukan berarti suaranya lemah pelan tapi menggoda pendengar. Ada juga memang merendahkan suara bukan untuk memenuhi sunnah Rasul SAW tapi malah menimbulkan sesuatu yang ga baik.

Allah SWT melarang istri-istri Nabi SAW bicara yang bisa menimbulkan pemahaman yang salah ke para sahabat. Coba, ini istri Nabi SAW ke para sahabat, lho.

Seperti perintah untuk ghadhul bashar (menundukkan pandangan), maksudnya bukan cuma suruh nunduk ga ngeliat, tapi hatinya juga. Sama dengan lisan. Maka merendahkan suara atau menjaga lisan erat kaitannya dengan hati.

Dari sebuah hadits panjang riwayat Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Mu'adz bin Jabal, salah seorang sahabat yang sangat sensitif tapi juga cerdas berdialog dengan Rasulullah SAW tentang urusan agama, antara lain soal puasa, sholat, jihad, dll tapi ditutup dengan konklusi begini:
Rasulullah: “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kunci semua itu?”Muadz: “Tentu wahai Rasulullah”.Maka beliau SAW memegang lidahnya, lalu bersabda :“Jagalah olehmu ini!”Muadz: “Wahai Nabi Allah, apakah kami akan disiksa dengan sebab perkataan yang kami ucapkan?”Rasulullah: Kata-kata seperti ini “Ibumu kehilangan kamu ya Muadz?"; Bukankah orang-orang itu tersungkur di Neraka diatas wajah-wajah mereka atau diatas hidung-hidung mereka, tidak lain disebabkan oleh ulah lisan-lisan mereka?
Jadi misalnya ada orang marah terus menyebutkan kata-kata seperti: "Kasian amat ibu kamu punya anak kayak kamu", atau sejenisnya dst, ini kata-kata yang tidak main-main timbangannya di akhirat.

Tentu saja tidak ada orang yang suka dengan orang yang bicaranya ketus, nadanya tinggi. Ga ada suami yang suka dengan istri yang ketus, ga ada anak yang suka dengan orangtua yang galak. Apa ada teman kita yang suka, yang punya hobi senang dibentak-bentak?

Suatu ketika turun wahyu Allah berikut:  ... لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوٰتَكُمْ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari."

Ketika QS Al Hujuraat ayat 2 ini turun, salah seorang sahabat yang suaranya memang keras, Tsabit bin Qais berhari-hari ga keluar rumah, menangis karena merasa gara-gara suara kerasnya maka hapuslah amal-amalnya. Ini cerita selanjutnya:
Nabi saw mencarinya, beliau mengutus seseorang mencari tahu tentang alasannya bersembunyi. Tsabit berkata, “Allah telah menurunkan ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi...” Aku adalah orang yang mengangkat suara di atas suara Nabi, amalku terhapus, aku termasuk penghuni Neraka.” 
Laki-laki tersebut kembali kepada Nabi saw dan menyampaikan apa yang dikatakan Tsabit. Maka Nabi bersabda, “Kembalilah kepadanya, katakan kepadanya,’Kamu bukan termasuk penghuni Neraka akan tetapi kamu di Surga.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Nabi saw menyampaikan berita gembira kepadanya bahwa dia termasuk penduduk surga.
Jadi, ternyata bukan soal besar kecilnya volume suara. "Meninggikan suara melebihi suara Nabi" di sini maknanya meninggikan hukum-hukum manusia dibandingkan hukum Allah SWT.

[Khafdus Shaut Part I]

* Berdasar taujih Ust. Tri Mulyono, Lc. Jalasah Ruhiy 9 Mei 2013
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts