Sabtu, 01 Juni 2013

Khafdus Shaut ~ 'Merendahkan' Suara (2)



Khafdus Shaut ~ Khifdus Shaut*
"Merendahkan Suara ~ Menjaga Lisan"

Merendahkan suara juga bagian dari adab sesama manusia. Kitab Riyadush Sholihin secara khusus juga berisi bab tentang 'Suara'. Dan salah satu kaidah yang ditegaskan di sana adalah: Ketika perkataan itu ada maslahatnya, maka 'suara'kan. Tapi kalau maslahatnya tidak ada atau maslahatnya sama saja, maka lebih baik diam.
Menjadi muslim saja sudah utama, tapi Rasulullah SAW pernah ditanya: "Siapakah orang yang paling utama di antara kaum muslimin?" Beliau SAW bersabda, "Orang yang saudara-saudaranya kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya."(Muttafaq 'alaih).


Orang yang menjaga lisan juga mendapat jaminan dari Rasulullah Saw untuk masuk ke surga. Rasulullah Saw bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d: “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088).

Dan hadits-hadits terkait lisan itu buanyaaaak sekali. Salah satunya tentang menjaga lisan dari marah. Hadits "laa taghdhob" di Arbain Nawawiyah hadits ke-16.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
[رواه البخاري]
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Hadits Riwayat Bukhori )
***

Lisan yang berzikir bahkan cukup menjadi pegangan dari sekian banyaknya syariat Islam.

Dari Abdulloh bin Basr r.a. ia berkata, “Seorang laki-laki pernah berkata kepada Rasululloh, ‘Wahai Rasululloh, sesungguhnya syariat Islam itu banyak maka beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan!’ Maka Rasul menjawab,
لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله
“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan berzikir pada Alloh.” (HR. Tirmidzi)

Jadi Ibu-ibu sekalian, semoga kita dimudahkan untuk bisa berzikir di setiap keadaan. Sedang di perjalanan, sedang membereskan rumah yang berantakan karena mainan anak-anak, sedang masak, lagi nunggu binaan yang ga dateng-dateng, lagi ngapain aja. Karena kata Rasulullah, cukuplah itu sebagai gambaran keseluruhan pelaksanaan syariat.

Coba kalau kita simak itu 'muwashofat'nya Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo, yang digambarkan di lagu "Tombo Ati":
  1. Baca Qur'an lan maknane
  2. Sholat wengi lakonono
  3. Wong kang sholeh kumpulono
  4. Kudu weteng ingkang luweh
  5. Dzikir wengi ingkang suwe
Coba lihat, itu muwashofatnya Sunan Kalijaga, baca Al Qur'an dengan maknanya. Kita sudah belum ya baca Qur'an sampai ke makna-maknanya? Dan baca Al Qur'an ini pekerjaan siapa? Pekerjaan lisan, kan? Ga bisa baca Qur'an mingkem, karena terkait tahsin tilawah.

Salah satu syarat penghafal Al Qur'an adalah betah berlama-lama membaca Qur'an. Kalau sudah terbiasa baca Al Qur'an hanya 5 menit, niscaya ga bakal kuat tilawah sampai 30 menit.

Lalu 'muwashofat' kelima, berdzikirlah yang lama. Betapa seringnya kita menelantarkan lisan kita. Dari jalan sampai ke sini saja, berapa lama lisan kita berdzikir, atau justru sebaliknya? Ini memang terkait dengan kebiasaan kita.

Kalau ketemu turunan baca subhanaLLah. Maha Suci Allah yang memudahkan perjalanan sehingga ga perlu ngegas. Ketemu tanjakan berdzikir aLLahu akbar. Walau jalannya menanjak tetap harus semangat: aLLahu akbar! Kalau jalannya rata alhamduliLLah. Jangan-jangan tahunya zikirnya astagfiruLLah saja, karena jalannya lobang semua [LOL ... LOL] ...

Lisan yang baik tentu akan sulit jika tidak diakarkan. Semoga lisan kita dijaga Allah SWT. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dalam diri kita, akan memudahkan atau akan menyulitkan bahkan hingga akhir hayat kita. Karena sudah refleks. Terjadi begitu saja. Sudah matinah, menjadi akhlak yang menempel.

Ibu-ibu ini kan biasanya suaranya ... (ga diterusin :)). Tapi kalau di forum ketika 'suara'nya dibutuhkan malah suka ga kedengeran.

***

Yang suaranya keras juga suatu ketika diperlukan. Suara ikhwan atau akhwat yang keras juga ada waktunya diperlukan, misalnya pas mati lampu. Pas sound (system) mati. :D

Ba'da Fathu Makkah, waktu perang Hunayn sesi I kaum muslimin yang jumlahnya banyak itu kocar kacir. Kaburo ... Rasulullah butuh mengumpulkan mereka. Maka siapa yang dipercaya untuk woro-woro? Tahu siapa? Ternyata Tsabit bin Qais yang pernah sampai menangis karena mengira amalnya sia-sia gara-gara suaranya yang keras (silakan baca di sini).

"Mana ahl baiatul Aqobah? Mana ahl baiatur Ridwan?" Semua dikumpulkan oleh Tsabit. Ga pakai speaker (ya eyalah Taaadz ...).

Jadi akhwat yang suaranya keras, itu perlu juga. Coba kalau di rumah pas ga ada suaminya, terus ada maling mau masuk. Kalau suaranya pelan kan repot.

Jadi sekali lagi khafdus shaut bukan soal volume suara, tapi timbangan bahwa apakah suaranya itu bermaslahat ataukah menimbulkan fitnah.


Kesimpulan

Seluruh anggota badan kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Tapi justru akan ada masanya lisan kita tak dimintai pertanggungjawaban lagi, yaitu di hari akhir kelak. Disebut hari akhir karena tidak ada hari lagi setelah hari itu.

Lisan kita akan diam. Rambut yang bicara, tangan bicara, bahkan pori-pori kitapun akan bicara.

Efek dari bahaya lisan adalah lebih menyakiti daripada efek fisik lainnya. Kalau dicubit biru, kalau dipukul berdarah. Kalau disakiti secara lisan, birunya ga nampak, darahnya ga menetes. Tapi atsar/bekasnya di hati bisa tahan lama.

Salah satu tugas hati adalah al-mahabbah - cinta. Kalau hati sudah tersakiti karena lisan, sulit diobati. Berapa pertengkaran, hal-hal buruk yang terjadi karena lisan. Berapa banyak hukum-hukum yang jatuh cukup dengan lisan. Cerai misalnya.

Peran suara dalam dakwah tentu sangat penting. Bahkan disebut mirip-mirip dengan sihir. Rasulullah SAW baca Al Qur'an disebut menyihir manusia.

Wallahu alam bish shawab []

* Berdasar taujih Ust. Tri Mulyono, Lc. Jalasah Ruhiy 9 Mei 2013
    Share:

    welcome to detti's blog

    communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

    Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

    Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

    Popular Posts