Jumat, 28 Maret 2014

Anugerah Itu Bernama Super Team [Catatan Caleg Naif 5]


- if you found it unpleasant, please note this one as a very personnal posting. Simply stop reading. Thank you :) -

Empat tahun lalu.

Ada satu hutang yang semoga bisa dianggap terbayar dengan tulisan ini. Empat tahun lalu momen pergantian pemimpin di DPW PKS Lampung – dan juga DPW-DPW lain: musyawarah wilayah (muswil). Muswil yang menjadi catatan perjuangan dan pendewasaan *gak pake halah* ... Cekidot all lessons and the dramas ... here, here, here, and there.

Dari serial catatan perjalanan mengelola muswil 2010, posting terakhir gak sukses saya selesaikan. Padahal itu seharusnya jadi semacam gratitude posting, ungkapan syukur dan terimakasih pada semua anggota tim yang telah menyukseskan lini humas. Sebagian besar dari mereka sudah beterbangan di bumi Allah. Sebagian lagi masih bersama.

Dan saya ikut bahagia [walau tak menyebut nama dan jika kalian membaca, ketahuilah saya sungguh bersyukur Allah pernah kirimkan orang-orang macam kalian].

Lalu kini, saya tak ingin kehilangan gratitude posting lagi.

***

Kembali, Allah SWT Maha Baik mengirimkan tim komposisi ini. Tim yang membuat saya sukarela melakukan standing applause, juga sukses melelehkan air mata seharian [sweet surprise ini penyebabnya; watch here. It was indeed so so sweet, guys ...], tim yang pertama kali memberi saya panggilan: Bu’e dan Mbok’e  – moga Allah ijabah doa di tiap ketukan keyboard ini untuk kalian dan keluarga.

Untuk sebuah tim yang tiap anggotanya bergerak bukan berdasar berapa fee yang didapat – bahkan sangat bisa jadi harus mengikhlaskan sebagian uang jajan dan belanja keluarga untuk aktivitas partai – maka tiap amanah bagi mereka adalah peluang amal.

Dan karena mereka sudah menjelma menjadi satu keluarga, maka sakit dan bahagia mereka juga tak terhindarkan menjadi sakit dan bahagiaku. Ada perih ketika usai meliput mukhoyyam dan apel siaga akhir tahun lalu, satu demi satu bergelimpangan di rumah sakit. Salah satunya masih harus bed rest hingga kini. Ada perih mengingat bahwa di antara mereka adalah kepala keluarga.

Ada kepala keluarga yang batitanya sedang sakit, tapi justru memilih menginap bermalam-malam di DPW karena tuntutan amanah.

Ada kepala keluarga yang istrinya baru melahirkan anak pertama, berada nun di seberang sana pula. Namun ia memilih di sini. Di sini hingga 9 April berlalu. “Gak papa, Mbak. Arkan (nama bayi mungilnya, det.) sudah saya bisikin, kata Wak Detti setelah 9 April pahala amalnya beda. Jadi Abi di Lampung dulu, ya, Nak.”

Itu mungkin gurauan. Tapi gurauan yang sejujurnya sedikit menyesakkan ...

Maka bukan hanya pada kalian para sahabatku, anggota keluargaku, aku ingin berterimakasih. Namun juga pada istri-istri kalian yang dengan keikhlasan luar biasa merelakan kalian ada di sini. Tetap di sini.

Juga pada para saudariku yang bertahan, padahal mereka adalah istri seseorang. Punya amanah yang sangat bisa dipermaklumkan jika minta rukshah untuk mengkhidmati suami dan keluarga. Namun masih jua mengirimkan teks: kapan rapat atau kumpul lagi, Mbak? Apa yang bisa dibantu?

...

Kemudian ada ar-ruhul jadiid season 2014 ini. “Anak-anak”ku yang sudah besar. Dengan segala keceriaan dan energi yang tak henti mengalir.

Ketika para tetua ini sibuk dengan kerumitan, kalianlah yang membuat semua kelihatan lebih mudah. Ketika di rapat langitan warna yang tampak seakan hanya hitam, putih, kelabu, maka kalian hadirkan pelangi.

Sekedar mendengar kelakar khas jomblowan-jomblowati, ada ngambek atau kadang ingin sendiri. Semua jadi nuansa bianglala. Jikapun ada, peduli maupun kesalku mungkin tak ubahnya saat kulakukan itu pada Tsabita, Tsaqifa, dan Ukasyah :)

Jalan kalian masih sangat panjang. Aku tahu bahwa kalian, sebagaimana mungkin diriku sendiri, takkan selamanya ada di sini. Ada awan-awan lain yang harus ditembus. Ada dunia yang lebih besar. Tiada lain sepotong harap, kebersamaan di sini jadi cakrawala baru yang membuat kalian kaya dengan bekal. Menuju awan-awan. Menuju bintang.

Semoga kalian pandai mengambil yang baik-baik saja dari kami yang berlumur kesalahan ini.

Pada semua termasuk yang tak terkisahkan satu demi satu [pada tim palu gada – click the story here, juga my lifetime partner dan tiga mutiara jiwa titipan Allah untuk Umi ...] ana uhibbukum fillah. Kalian luar biasa!

...

***

Tim Media Kampanye PKS Lampung di GOR Saburai (22/3) bareng tim Humas DPP PKS Pak Dedi Supriadi dkk. [photo taken by Teguh]

Ajaran pentingnya kekokohan pribadi yang berpadu dengan kekuatan tim sudah hidup menjadi bagian dari belulang dan haemoglobin kami.

Salah satu pelajaran berharga dari amal jama’i adalah kesediaan menekan ego diri. Tak ada Si Hebat, tanpa tim yang hebat. Tak ada yang boleh merasa menjadi legenda hidup: 'jika bukan karena aku, tak ada lagi yang bisa melakukannya.' [saya harus berterimakasih pada Mr. Mardani Ali Sera atas ingatan "legenda hidup" ... Jazakallah, Sir.]

Lapangan itu terlalu luas untuk ditapaki sendiri. Bola itu sepi jika dimainkan hanya oleh sepasang kaki. Ego diri harus mewujud dedikasi. Bukan sekedar pengakuan dangkal atas Si Hebat.

Dan pada para anggota super team, hanya doa tiada putus, di surgaNya kelak kita dapat bertemu dengan bahagia karena di dunia pernah bersepakat menjadi tim yang mengajak pada kebaikan. Aamiin 3x. []

- again,  please note this one as a very personnal posting. Personnal one which I’d like to share. Semoga kebaikan saja yang terserap, meninggalkan keburukan hanya untuk yang menulisnya. Allahumma aamiin. -


Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts