Senin, 14 April 2014

Tiga Langkah Di Depan Isu

3 Langkah Di Depan Isu
[Catatan Caleg Naif 6]

@dettife


Sepekan terakhir menjelang pencoblosan, frekuensi seliweran isu menderas. Tak hanya di udara, namun juga berkarung-karung selebaran. Hitam maupun putih. Kertas-kertas putih yang isinya tetap sangat hitam.

Sepekan terakhir saat perhitungan suara belum lagi usai, kesabaran harus berkejaran dengan kejelian. Dalam sehari bisa lebih dari dua digit pertanyaan tentang ini pun itu. Benarkah isu caleg non muslim? Juga isu syiah nun di sana? Apalagi itu, caleg yang minta kembali dana politik? Masak iya ada caleg PKS begitu? Pasti fitnah. Gara-gara berita ini ada teman saya sekeluarga mau golput atau minimal tidak bakal pilih PKS ... etc, etc.

Bukan cuma soal isu, namun nomor telepon ketua DPD atau ketua advokasi, juga tanya soal transfer liqo atau komplain kelakuan binaan (:D). Di saat-saat sedemikian. Semua tanya, baik yang menanti jawaban dengan tabah maupun yang marah-marah berprasangka BBM di-endchat atau left group karena kesal :)

Mungkin sudah resiko humas dianggap tahu segala. Haha ... Melalui posting ini, pada ustadz/ustadzah dan kawan-kawan yang bertanya sekali lagi mohon maaf bila tak semua tanya bisa direspon.

***

Bukan sekedar klaim bahwa kader PKS rerata well-informed. Isu dan berita bersisian dengan minimal satu juz sehari plus mawad liqo. Menimbang gempuran selalu dan utamanya berhembus lewat isu, di sebuah forum, saya sempat usulkan agar *literasi media* menjadi salah satu bagian kurikulum tarbiyah.

Bayanat atau klarifikasi dalam tempo cepat tentu akan sangat membantu kader meneruskan isu-isu - khususnya yang negatif - ke siapapun yang bertanya. Namun situasi tentu tak bisa selalu se-ideal itu. Klarifikasi tak selalu bisa diharap secepat apdetan web piyungan.

Bijak Jawa 'ojo kagetan, ojo gumunan' penting diadopsi apalagi mengingat pengalaman kader PKS yang sudah menghadapi isu-isu lain yang jauh lebih dahsyat.

Demikianlah maka kader bukan hanya harus diajari bersabar menunggu klarifikasi, namun sekaligus secara mandiri pandai menglasifikasi dan menyeleksi berita.

Terkejut dengan berita caleg divonis pidana karena money politic? Juga bersegera gembira membaca brodkes vonis bebas LHI? Atau misalnya kebiasaan syahwatul brodkes, dengan ceroboh setiap brodkes beranak pinak tanpa sebelumnya mencari tahu kebenarannya?

***

Berusaha meletakkan diri selalu berada di depan isu. Berikut tiga prinsip ringkas yang sebaiknya dilakukan setiap menerima berita.

Pertama, selalu kedepankan prinsip tabayyun. Tak sulit untuk mengetahui apakah sebuah isu hoax atau nyata. Senantiasalah mencari link beritanya. Darimana berasal? Apakah sumbernya kredibel? Obyektif dan adil kepada siapapun - bahkan kepada lawan politik.

Kedua, jika sumbernya -dianggap- kredibel, perhatikan dan teliti ulang konten beritanya. Bagaimana konteks situasinya? Apakah pihak yang terberitakan diberi ruang jawab yang sama? Media massa yang dianggap kredibelpun masih punya peluang melakukan 'kesalahan'. Ihwal pengambilan keputusan suatu berita tayang atau tidak di suatu media, bagaimana tone yang dipilih dan lebih luas lagi apa itu konsep framing (pembingkaian), dst, semoga bisa kita diskusikan di kesempatan lain.

Singkatnya, sulit menemukan presume of innocence ditegakkan dalam pemberitaan (mohon saya dikoreksi). Seseorang bersalah sebelum terbukti tak bersalah. Terbukti tak bersalahpun, opini telanjur terbentuk negatif. Sebaliknya Anda pun patut curiga bila seseorang - secara berlebihan - diberitakan dengan citra yang selalu positif.

Itulah salah satu prinsip literasi media: kritisi, jangan telan bulat-bulat. Katanya kader PKS well informed, masak tiap baca berita dengan judul provokatif yang didahulukan sikap mudah terprovokasi-nya?

Ketiga, mulailah berpikiran terbuka. Publik telanjur punya stempel PKS sebagai partai yang harus tanpa cela. It's OK jika politik uang dilakukan partai lain, sekotor apapun, sekasar apapun. Tapi tidak boleh terjadi di PKS. PKS harus fairplay. Partai lain boleh unfair - dan tetap menang pemilu.

Mulailah berpikir terbuka bahwa kita dididik jadi orang baik, tapi peluang salah menunjukkan bahwa kita masih manusia. Jika tidak puas berada di jamaah manusia yang mencoba baik ini, saya akan sangat senang jika antum bisa menunjukkan komunitas mana yang bisa menegakkan mekanisme baik-buruk, reward-punishment yang jauh lebih baik, sempurna melampaui standar manusia ... jika ada :).

Untuk para ikhwan pun akhwat, berita-berita lain masih akan beterbangan di hadapan. Maafkan jika ada qiyadah yang tak selalu segera mampu menjawab isu demi isu. Setidaknya upgrade diri menjadi lebih literatif. [Mengapa juga harus tiga langkah? Boleh diganti lima atau sepuluh atau berapapun. Bukan apa-apa. Sekedar bentuk takzim pada "tiga" yang masih berjuang #menjagasuara ^^].

Dan sebagaimana posting-posting naif sebelumnya, posting inipun sangat membuka diri pada dialog dan kritik. Afwan atas keterbatasan. []

"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." (QS Huud: 88)
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts