Kamis, 27 November 2014

Yang Dimasak Dengan Cinta


Kalimat itu meluncur lagi.

Diingatkan oleh Tsabita, gadis sulungku (kini kelas 5 SD), pada suatu pagi sebelum ia berangkat sekolah. Aku cuma sempat menyiapkan nasi goreng sosis dengan orak arik telur sebagai bekalnya. Pagi itu ku sudah ada agenda pk. 08.00 WIB.

"Bita senang kalo Umi masak. Masakan Umi pasti enak, karena sebelumnya baca basmallah dan dimasak dengan cinta."

Aku terdiam. Bukan karena menyesapi ├Ękspektasinya supaya Umi lebih sering masak. Bukan karena aku tak terlalu percaya diri bahwa masakanku selalu enak. Tapi karena kalimat itu dikutip dari gurunya yang telah tiada.

Saat itu juga kukirimkan doa agar Allah beri rahmat bagi almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. Allahummaghfirlahu .. Ya Allah, sebagaimana hamba ingin diampuni, sayangi pulalah saudara-saudara kami walau mereka dalam keadaan menzalimi diri sendiri ...

***

Pict note: udang tepung, bening bayam, goreng tempe, sambel korek, dan penyet terong. Menu siang ini untuk yang sedang sakit padahal sebentar lagi harus berangkat nyetir ke Bandung. *as simple as I can cook*
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts