Senin, 21 Desember 2015

Memaafkan

Ketika ramai-ramai bicara ibu.

Ketika tiada daya meraba makna diri sebagai anak dari ibuku. Juga sebagai ibu dari anak-anakku.

Di saat ramai bicara ibu, aku justru merasa begitu.

Malu mengklaim birrul walidain pada ibu yang melahirkanku; dan amat jauh dari kategori ibu yang baik bagi anak-anak suamiku.

Begitulah.

***

Mungkin karena itu.

Mungkin karena dalam relasi ibu-anak kita, duhai Ibu, anehnya kecewa dan mengecewakan menjadi perihal yang dipergilirkan.

Mungkin karena sejak dulu, bahkan setelah dilembutkan oleh cahaya tarbiyah, anakmu ini masih jua terlalu keras kepala.

Mungkin karena Ibu - terlahir jadi anak pejabat dan kemudian berbilang tahun jadi istri pejabat - begitu sempurna, anggun, rapi, disiplin, aktif, perfeksionis, maka aku justru ingin menjadi kebalikan dari sebagiannya, tapi ironinya mengkopas habis sebagian lainnya.

Mungkin karena rasa-rasanya seperti sebagian besar anak perempuan, ayah adalah sosok yang lebih hangat dan dekat. Dan mungkin karena wajah almarhum ayah tercetak jelas di air mukaku. Setelah, tiap bicara ayah, segala rasa sakit yang dengan enggan tak akan kita bahas lagi itu ...

Mungkin karena aku benar-benar ingin ibu tahu betapa menyelesaikan kuliah adalah sesungguh-sungguh persembahanku, untuk ibu.

Mungkin karena pada setiap kerabat dan tetamu, ibu harus meluahkan kekecewaan soal si bungsu ini, yang tak pernah mau bahkan untuk sekedar ikut tes CPNS. Sekedar ikut untuk menyenangkan hati Ibu.

Berulangkali. Berkali-kali. "detti" dan "PNS". Pasti Ibu sekecewa itu. Dan mungkin mustahil berharap Ibu bangga karena pilihanku untuk ada di sini. Di hidupku yang sekarang.

Mungkin karena bagi kita, Ibu, saat aku dipinang lalu mendengarkan akad itu, aku masih tetap ingin berbakti padamu. Dan memohon janganlah diberi pilihan sulit antara suamiku atau Ibuku [karena itu tentu amat-amat berat ... karena agama jelas menuntunku kepada siapa].

Mungkin karena bagiku, di usia setua ini, masih sulit memahami mengapa ibu selalu memilih melakukan hal lain daripada di sisi anak perempuan satu-satunya yang tengah menyebut-nyebut dirinya, di setiap proses melahirkan cucu-cucunya.

Karena di setiap persalinan demi persalinan itu, entah mengapa [tentu karena Allah jua], airmata ini meleleh karena Ibu yang memenuhi isi kepala ... Mengingati beginilah payahnya Ibu dulu melahirkanku.

Mungkin karena Ibu lebih memilih tiga kali membesuk teman pejabat Ibu dibandingkan sekali saja ke putri Ibu sendiri yang sama terbaring di rumah sakit ... Dan karena banyak urusan remeh temeh seperti ini aku harus memastikan diriku sendiri bahwa memaafkan harus jadi upayaku untuk "berdamai" dengan kecewa yang sangat itu. Dan upayaku agar tetap mentakzimi Ibu.

Bahwa pasti Ibu punya alasan memilih begitu.

Mungkin karena aku berharap bisa menuliskan kata-kata indah, melantunkan doa-doa terbaik. Bukan hanya tiap menjelang Hari Ibu.

Mungkin karena di sudut hati aku berharap episode kebersamaan kita tidak dipenuhi banyak drama. Itu saja.

Hingga mungkin ... mungkin ... karena kita, Ibu, di atas segala kecewa itu, sama-sama terlalu egois untuk setulus hati saling memaafkan.

Padahal kita mungkin sudah dekat dengan akhir kebersamaan. Padahal seharusnya sisa waktu ini diisi dengan kenangan-kenangan terindah. Aku dan Ibu. Ibu, menantu, dan cucu-cucu Ibu. Mas-mas, kita semua, sebagai keluarga.

Maka meski berulang pernah terucap dan tetap tak mampu menyandingi segala jerih dan kepedihanmu: Ibu, detti minta maaf ... karena bagaimanapun, Ibu adalah surgaku.

***

Ya Allah ... aku ikhlas jika memang begini jalan birrul walidain-ku. Karomahku ini, Ya Allah ... jaga ia. Muliakan ia. Hapus semua sesak hatinya. Ampuni segala khilafnya. Masukkan ia ke jannahMu.

Bahagiakan ia di sisa usia hingga kelak ia berjumpa akhiratnya.

Kabulkan, Yaa Rabb.

Aamiin.

[21122015 | 20.08 WIB]

Next insya aLLah: Untuk Tsabita.

Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts