Kamis, 06 April 2017

Pengendalian Diri (Mujahadatu Li Nafsihi)


Pengendalian diri tidak linier dengan kemampuan akademis. Bisa saja ada orang yang secara akademis sangat luar biasa, namun tidak bisa mengendalikan diri. Ini karena pengendalian diri memang lebih terkait dengan kecerdasan emosional.

Ada profesor yang kalau marah kebun binatang keluar semua. Tapi ada lulusan SD yang ekspresi marahnya bisa jauh lebih bijaksana. Dan kecerdasan emosional ini ga begitu saja terbentuk saat lahir. Harus diasah. Tentu yang terbaik jika kecerdasan intelektual bisa bersanding dengan kecerdasan emosionalnya. Cerdas intelektual maupun emosional.

Marshmallow experiment - di Stanford Univ. USA thn 1960-an sering jadi rujukan eksperimen pengendalian diri. Para peneliti menguji anak-anak umur 4 tahun/usia TK untuk melihat ketahanan mereka mengendalikan keinginan. Masuk satu per satu ke dalam ruangan, jika bertahan 1/4 jam bisa menahan ga makan marshmallow, maka jatah marshmallow-nya ditambah 2x lipat. Yang berhasil menahan diri cuma 1/3 dari jumlah subyek penelitian.

Ini memang eksperimen ability to delay needs; eksperimen kemampuan menunda keinginan.

Lalu subyek penelitian ini diteliti lagi 14 thn berlalu kira-kira mereka lulus SMA mau masuk kuliah - SAT scholastic assesment test nya lbh tinggi 200 poin. Diteliti lagi pada usia 30 tahun. Jauh lebih sukses. Dan sebaliknya terjadi pada anak-anak yang ga bisa mengendalikan diri.

Ini antara lain menjadi dasar bahwa kesuksesan tidak semata-mata dari kesuksesan akademis tapi justru lebih karena kecerdasan emosional. Self control.

Secara umum, PENGENDALIAN DIRI didefinisikan sebagai tindakan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya di masa kini maupun masa yang akan datang.

Definisi agamanya adalah menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama dan senantiasa taat pada Allah SWT. Terjaga dari maksiat dan bersungguh-sungguh melakukan kewajiban-kewajiban.

Di Quran Surat At Tahrim ayat 6 jelas bahwa tujuan pengendalian diri supaya kita tetap dlm koridor ketaatan pada Allah SWT.

Orang yang bisa mengendalikan diri - mampu meletakkan potensi-potensi ruhiyahnya di atas potensi nafsunya. Di terminologi nafsul insan - jiwa manusia, ada yang ruhnya didominasi hawa-nya, disebut NAFSUL AMARAH. Ada yang ruhnya senantiasa bertarung dengan hawa, disebut NAFSUL LAWWAMAH. Ada yang ruhnya mendominasi hawanya - yang seperti ini yang disebut NAFSUL MUTHMAINNAH, jiwa yang tenang.

Dan untuk mencapai nafsul muthmainnah ini tentu bukan gampang.

Maka Allah turunkan nabi dan rasul sebagai contoh bagaimana cara mengendalikan hawa tadi. Indikator capaian kita ya tentu saja menjadi nafsul muthmainnah walaupun secara ideal belum bisa sampai betul-betul ke situ. Kalau kita petakan posisi kita mungkin ada yang masih nafsul lawwamah. Insya allah di sini ga ada yang termasuk nafsul amarah, ya.

Pengendalian diri ini memang masuk dalam mujahadatun nafs - mujahidu li nafsihi. Kesungguhan untuk mengendalikan diri sendiri.

HR Muslim dari Hudzaifah ibn Yaman: Kata Rasul SAW, fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran.

Jadi nafsu yang hitam dan yang putih itu saling anyam menganyam. Yang menang terlihat dari mana yang dominan. Hitam, putih, atau abu-abu?

Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan oleh Wahab Bin Munabbih: “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakaria a.s, lalu Nabi Zakaria berkata kepada iblis: “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu iblis menjawab:
1. Golongan pertama dari manusia ialah yang seperti kamu ini (para nabi dan rasul). Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).
2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerahkan diri mereka bulat-bulat kepada kami.
3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdaya dan mencapai hajat kami, tetapi ia segera mohon ampun dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai."

Jadi untuk golongan pertama ini mereka - iblis - ga terlalu tertarik menggoda karena golongan ma'shum. Golongan kedua ga usah digoda juga sudah lebih dari iblis. Sampai ada pameo: Iblis sendiri aja udah ngeri ngeliat dosa-dosa manusia. Dan iblis justru takut melihat golongan ketiga. Yang bertarung antara benar dan salah, melakukan kesalahan, tapi lalu bertobat.

Beberapa bentuk pengendalian diri:

1. Pengendalian diri terhadap rasa marah.
Rasul mencontohkan bahwa rasa marah itu bagian dari fitrah manusia, tapi bagaimana agar rasa marah itu tidak keluar dari ajaran islam. Kata rasul SAW saat marah maka sesungguhnya setan sedang bersama kita. Coba kalau sedang merah bercermin atau difoto, wajahnya ya kira-kira seperti yang membersamai itu. Makanya ganjaran bagi orang yang bisa mengendalikan marah itu luar biasa. Laa taghdob fa lakal jannah. Surga.

Kata Rasul SAW kalo lagi marah: 1. Diam. 2. Berganti posisi yang lebih rendah: duduk atau berbaring. 3. Berwudhu atau mandi sekalian.

2. Mengendalikan rasa frustasi atau kecewa
Kalau hidup ga ada kecewanya mungkin kita ga bakal tahu bagaimana kenikmatan hidup itu. QS Ar Ra'du: 28 - banyak-banyak ingat Allah, akan menghilangkan rasa frustasi/gundah. Frustasi berasal dari jiwa yang kosong, ga bahagia. Makanya kita diajarkan agar menyucikan jiwa. Thariqat shufiyah. Membiasakan berdzikir seperti sufi. Berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring.

3. Mengendalikan syahwat.
Kalau wanita misal: syahwat lisan. Kalau laki-laki syahwat pandangan.
Pangkal terjerumus pada maksiat adalah karena ga bisa menahan syahwat pada saat pertama. Dulu kakek saya sering mengingatkan, "Sebelum berbuat, coba banyak pikir dulu." Tapi karena masih kecil belum mengerti. Setelah SMP, SMA baru saya pikir-pikir petuah kakek saya banyak benarnya.
*merasakan muraqabatullah, pengawasan Allah setiap saat.

4. Mengendalikan emosi saat informasi simpang-siur. Misal ada isu apa di media. Langsung merespon. Padahal jauh dari kebenaran. - tabayyun, cek dan ricek. Harus punya kecerdasan literasi. Jangan langsung dipercaya.

Apa saja sarana yang bisa kita lakukan dalam pengendalian diri:
1. Sholat. Sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Orang yang benar-benar menjaga sholatnya pasti terjaga dari hal-hal lain. Sholat yang bukan hanya hadir fisik, tapi juga hatinya.
2. Shaum. Salah satu tujuan puasa yang utama adalah pengendalian diri baik dari maksiat secara keseluruhan maupun dari yang mubah atau syubhat. Shaum juga membantu menundukkan pandangan dan mengendalikan nafsu bagi yang belum mampu menikah.
3. Dzikir. Bukan hanya dengan lisan. Dzikir juga bisa dengan amal-amal, dengan kerja-kerja. Berdoa juga termasuk dzikir. Diam pun bisa dzikir. Dzikir itulah yang membuat kita tenang.
Indikator keberhasilan pengendalian diri:
1. Wara - menjaga diri - dari yang syubhat dan mubah. Misal: makan itu mubah, tapi kalau berlebihan tidak baik. Berpakaian itu mubah tapi kalo ujub, untuk bermegah-megah, berbangga-bangga, ya ga dibolehkan.
2. Bersabar atas prilaku buruk orang lain terhadap kita, khususnya terhadap saudara sendiri. Salamatus shadr - selemah-lemah ukhuwah: berlapangdada pada kesalahan saudara kita. Kalau semisal ada saudara kita membuat tersinggung, ikhlaskan saja. Semoga menjadi kafarat bagi dosa-dosa kita.
3. Mampu mengendalikan emosi secara umum. Apalagi bagi da'i. Da'i kok temperamental ya bukan da'i.
4. Merendahkan suara; bukan berarti kalo ngomong harus pelan-pelan terus, tapi ini lebih terkait dengan adab berbicara. Dengan siapa kita bicara. Meninggikan suara karena menganggap diri lebih benar, lebih pintar, sangat tidak diperbolehkan apalagi terhadap guru dan orangtua, terlarang dalam agama.
5. Mendorong diri senantiasa berinfak. Ini bentuk pengendalian diri dari ketamakan atau kikir terhadap harta. Shodaqoh dan infak salah satu cara meniadakan kikir dan tamak harta.
6. Membiasakan diri melakukan dzikir harian.

[]

Taujih "Pengendalian Diri"
Oleh Dr. Amrul, S.T., M.T.
Taklim jalasah ruhiy PPM-DH B. Lampung, Sabtu 23 Januari 2016

pict: AyoLebihBaik
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts