Senin, 03 April 2017

Pseudo

pict: tsaqifa, labuhan ratu - b. lampung
Much note to myself ...

PSEUDO

Baru 22 tahun terbina dan membina, tapi rasa-rasanya sudah di tahap tak lagi mudah tersedak dengan binaan yang berbagai-bagai ...

Dari yang culun, hingga kritikus ulung. Dari yang tanpa babibu mengundang resepsi nikah, hingga yang tetiba hamil 5 bulan (baca: menikah diam-diam). Dari yang memutus hubungan dengan ortu, hingga yang tiap liqo kesurupan. Dari yang dulunya pezina, hingga yang beberapa kali mencoba bunuh diri.

Apatah lagi yang "sekedar" pacaran dengan berbagai varian dan levelnya ...

Problem yang terjadi di luar kendali binaan seperti eks korban perkosaan, ortu bukan muslim, ayah pelaku KDRT, tentu saja layak termaafkan. Bahkan sebagian butuh diterapi.

Namun jika yang terjadi karena ketiadaan kendali diri, sedih ini tetap saja meruak ...

Sedih karena mereka terbina, hadir liqo, dipanggil akhwat atau ukhti, jilbabnya rapi, tapi sejatinya pseudo. Pseudo akhwat. Di ikhwan pun setali tiga uang.

Karena akhwat tarbiyah memang bukan hanya dikenali dari jilbab menutup dada dan berkauskaki. Disebut ikhwan tarbiyah bukan sekedar karena berjenggot dan bicara ana, antum, afwan.

Ikut dalam proses tarbiyah, berarti mengakui eksistensi orang lain, mengakui keterbatasan diri, tidak egois, bisa bekerjasama, menghargai sistem, mau berbagi, berkorban, menghargai ilmu, sabar memerolehnya, dan bersedia berproses bersama orang lain.

Sungguh salah jika ada yang menilai tak ada beda orang yang ikut halaqah tarbiyah dengan yang tidak. Menilai sempit bahwa tarbiyah adalah menambah koleksi ilmu semata. Padahal tarbiyah punya sekian banyak makna yang tak bisa dibuka oleh mereka yang memiliki kesombongan.

Karena kata kunci tarbiyah adalah: PERUBAHAN.

Terseleksi dari kategori pseudo, manakala akhwat dan ikhwan ini BERUBAH dan mewujud paripurna, sebagai buah dari tarbiyahnya. Sukses mengumpulkan kebaikan-kebaikan, meminimalkan potensi-potensi destruktif. Si egosentris berubah menjadi anggota tim. Kroco mumet berubah menjadi inisiator. Tukang PHP-in lawan jenis berubah menjadi pemuja hubungan halal.

From zero to hero, kata @pkshol ... Semua PERUBAHAN konstruktif akibat proses tarbiyahnya.
Jika hadir tapi statis, berubah tapi hanya tampilan luar, bergerak tapi merusak, maka yang saya sedihkan ... jangan-jangan tarbiyahnya juga pseudo tarbiyah.

Maka tarbiyah tak lagi jadi pembeda. Tarbiyah gagal menjelma solusi. Pseudo tarbiyah, menghasilkan pseudo ikhwan dan pseudo akhwat ...

Hasan Al Banna pernah berkata: Kam fiina walaisa minna, wa kam minna walaisa fiina. Berapa banyak orang yang bersama kita, tapi sebenarnya bukan golongan kita. Berapa banyak yang sebenarnya masuk golongan kita, tetapi mereka tidak bersama kita.

Dan bagi saya, itulah kegagalan dalam hidup, manakala menatap wajah binaan setiap pekan namun kata-kata tak menambah kebaikan ...

Allahumma, lindungi kami.

~ @dettife | 11052015

[Terinspirasi dari tulisan Arsan Nurrokhman, Lentera Jogja, Desember 2005]
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts