Kamis, 06 April 2017

Semut, Cicak, dan Keberpihakan


Ketika Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke kobaran api yang disiapkan oleh Namrud, konon ada dua ekor binatang yang berperan. Kedua binatang tersebut adalah semut dan cicak.

Semut berlari-lari dengan susah payah berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as dengan membawa butiran air di ujung mulutnya. Perilaku semut tersebut membuat semua binatang heran dan bertanya-tanya, sehingga seekor gagak bertanya.

Gagak: "Wahai semut, kamu mau apa di sekitar kobaran api itu?"

Semut : "Aku mau memadamkan api agar Nabi Ibrahim as tidak terbakar!"

Gagak: "Semut bodoh, tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu."

Semut : "Mungkin setetes air tidak akan bisa memadamkan api, tapi agar di hadapan Allah SWT aku dapat membuktikan di pihak mana aku berada."

Karena jawaban semut akhirnya seluruh hewan melata ikut membantu membawa air, kecuali cicakCicak justru ikut meniup api yang dibuat oleh Namrud agar semakin berkobar.

Tiupan cicak tentu tidak akan bisa membesarkan kobaran api. Lalu mengapa cicak melakukannya? Ternyata sama dengan semut. Cicakmelakukan itu agar semua tahu di pihak mana ia berada.

***

"Dahulu ia (cicak) meniup api yang membakar Nabi Ibrahim as." (~ HR. Bukhari sahih dari Ummu Syarik). Kisah fabel semut dan cicak diolah dari berbagai sumber.

***

Allah Maha Tahu bagaimana rasa hati ini tak bisa berangkat di momen 212 karena harus menemani dua buah hati yang ujian akhir semester. Tapi sungguh bersyukur sangat abi mereka ada di barisan itu.

#archive 
published di instagram & facebook 5 Desember 2016
pict dari futurism.com
Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts