Minggu, 21 Mei 2017

Diskursus Pengukuran 7 Juta Status


Posting di blog ini berisi penjelasan lanjut dari posting-posting sambil lalu di medsos dan kompasiana. Untuk menyanggah dan berkomunikasi tentang isu terkait, semua kanal komunikasi dipersila; untuk terhubung di FB, path, atau google+, di versi desktop langsung aja pencet button di sebelah kanan atas screen.

Kalau ada yang belum ngeh dengan isu yang dibahas ini, karena masih mabok honeymoon misalnya ;p , monggo tengok grafis di bawah. Ada beberapa varian, tapi beberapa hari itu seliwar seliwir posting gerakan 7 juta status atau sejenisnya.

***

Ga ngajak berdebat di wilayah ideologis atau keberpihakan (jika kepo soal keberpihakan pun, sila gulir/scroll linimassa saya di FB).

Semata buka diskusi soal teknis.

Keseharian kami di Departemen Riset dan Media Monitoring - bersama teman-teman di Departemen Media Baru - adalah "mengukur" dan "memantau". Jadi: analisis tone, google trend, metrik, digital clip n doc, valuasi berita, update rank, update pageviews, dan sejenisnya sudah menjadi 'siksaan' tersendiri (haha).

Ketika sejumlah posting Gerakan 7 Juta Status bermunculan di facebook - sekali lagi facebook, ya - dengan akhir kalimat begini: kopas, jangan share agar tercapai 7 juta; saya sempat bertanya-tanya, itu ngukurnya pake apa, ya?

Graph API yang bisa mengukur impresi pun hanya bisa dipakai di fanpage dan iklan, bukan akun reguler. Dan yang bisa baca nilai impresi itu kan hanya yang meng-admin-i fanpage. Terlihat misalnya dari "views": People who saw this post.

Untuk fanpage yang ga kita adminin ya ga bisa.

*dalam kasus ini nilai impresi yang dimaksud misalnya: berapa banyak yang malam Minggu ini update status dengan keyword "galau" (haaaatchim ..). Kita pengen tahu berapa banyak orang yang nyebutin kata "galau" di postingan hari itu, jebret lalu keluar datanya.

Ga bisa, facebook belum menyediakan layanan macam itu.

[impresi jenis ini juga disebut PTAT - People Talking About This. Sampai saat ini - tolong koreksi kalau saya salah - belum ada aplikasi berbayar sekalipun yang bisa membaca impresi ini di facebook. Di facebook lho, ya.

Ada sih layanan facebook trend, tapi cuma bisa dipakai di region-region tertentu dan Indonesia ga termasuk di antaranya :((]

Yang rada-rada dekat dengan metrik macam itu di facebook, mungkin dari banyak-banyakan jumlah anggota grup. Dulu kan sering tuh: Gerakan 10 Triliun Facebookers Tuntut Akhiri Pembullyan Jomblo, misalnya - yang sekarang kecenderungannya sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan twitter yang lebih mudah masuk jaring metrik dengan ataupun tanpa hashtag/tanda pagar dan bukan hanya dilihat dari trending topic, facebook sampai saat ini tampaknya belum menyediakan layanan seperti itu. Twitter yang konon mulai redup pamornya masih sangat kepake untuk kebutuhan metrik dan analisis.

Apalagi kalau pakai mesin monitoring premium berbayar.

Kalau ada yang pernah lihat di debat pilkada baru lalu ada tv yang nampilin hasil monitoring persepsi dan preferensi netizen. Nah itu pake twitter. Saya pernah tanya ke Mba Rustika Herlambang, yang perusahaan monitoringnya dipake tv itu, apakah ada hasil persepsi dan preferensi dari facebook, dia ga bisa jawab.

Ya, karena memang enggak/belum ada. Seriously, kalo ada aplikasi atau mesin monitoring macam itu, seriously, mau saya jadiin bahan tesis dah.

Ini ada beberapa metrik di medsos beserta beberapa aplikasi gratisannya (eh, kebaca ga ya. Kecil memang pixelnya. Atau boleh search di pinterest). Btw, aplikasi yang ada di infografis ini ga ada yag bener-bener bisa baca PTAT. Quintly sebagaimana yang disebut di situ, useless. Agorapulse -versi gratisan - juga cuma bisa monitoring fanpage.

Monggo coba aja download dan trial sendiri.



Lalu ada juga yang keukeuh soal hashtag/tagar # di facebook. "Di facebook juga ada kok hashtag, makanya posting statusnya jangan lupa pakai hashtag #kamibersamahrs dst ..".

Well, Mba. hestek di facebook itu nyaris macam jadi asesoris saja. Ga seperti hestek di twitter yang secara algoritmis masuk dalam bacaan tren, sehingga ada yang disebut trending topic. Itu adanya di twitter. 

Kalo di fb, postingan-nya mau pake hestek mau engga, ya ga ngaruh. 

***

Thus, bagus juga mungkin ini jadi inputnya Mas Zuckerberg. Buat orang-orang monitoring macam sayah, jelas layanan metrik macam itu di facebook bagai musim semi setelah paceklik .. ga nyambung yess..

Ke Surabaya nyeruput rawon (jauh amat), Yang ga setuju ya sumonggo mawon.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/detti.febrina/diskursus-pengukuran-7-juta-status_5920ef929397738b048b4568

Keren jika dibully karena mempertahankan prinsip (bela ulama misalnya) lalu dengan percaya diri menunjukkan keberpihakan kita di publik, tapi kan sedih kalau dibully karena metodologi dan logika yang naif. Sekali lagi maaf. Ga ada lain, semoga posting ini manfaat; dan masih suangat terbuka terhadap kritik.
Salam monitoring. 

Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts