Kamis, 14 September 2017

Teliti Literasi Foto Hoax Rohingya

Teliti Literasi dari Kasus Foto Hoax Rohingya
Detti Febrina | @dettife* 06092017


Apa bahayanya menyebarkan foto-foto hoax pada isu Rohingya? Selain sebagian besar terkategori disturbing pictures/gambar yang tidak nyaman untuk dilihat, namun yang paling berbahaya adalah pengaburan fakta kemanusiaan yang sungguh terjadi di Rakhine State. Alih-alih ingin berbagi kepedulian, ikut menyebarkan foto-foto hoax Rohingya berbahaya karena justru menisbikan empati akan kezaliman yang nyata berlaku.

Kasus salah posting mantan Menkominfo Tifatul Sembiring, sudah diakui oleh yang bersangkutan sebagai kesalahan, adalah contoh segar. Lihat cepatnya diskusi terdistraksi dari bagaimana ringankan derita Rohingya pada bagaimana merundung mantan Menkominfo yang bisa kepleset juga posting hoax.

Pertama-tama yang seharusnya sudah selesai untuk jadi debat adalah fakta kejadian. Organisasi kemanusiaan di bawah United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada Februari 2017 memublikasi dokumentasi perkosaan massal, pembunuhan - termasuk pada bayi dan anak-anak, penganiayaan brutal, penghilangan manusia, dan banyak tindak kekerasan tingkat berat yang dilakukan angkatan bersenjata Myanmar http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=56678#.Wa-bVNgxXYU . [yes, dengan alasan kredibilitas sengaja dipilihkan link dari UN/PBB].

Artinya, isu kemanusiaan Rohingya itu fakta. Bukan hoax. Dari banyak literatur yang bisa diverifikasi, kezaliman ini bahkan sudah bertahun-tahun.

Maka poin kritisnya adalah kemampuan memisahkan hoax dengan kebenaran.

***

Sudah banyak situs maupun grafis yang memberi edukasi tentang bagaimana cara kita mengkritisi hoax/fake news.

"Kritis" sendiri adalah kata kunci dan niscaya dalam literasi informasi.

Rumusnya sederhana: kritisi setiap informasi yang Anda terima, termasuk tentang Rohingya. Jika surat Al-Hujurat ayat 6 dibutuhkan jadi reminder, maka ingatlah bahwa di ayat yang turun 14 abad lalu itu, bahaya hoax disebut sebagai musibah.

Iya kalau musibahnya tertuju pada pelaku kezaliman, jika pada pihak yang terzalimi sama saja kita menimpakan musibah dua kali. Dan itu 'hanya' karena ikut menyebarkan hoax.

Salah satu cara paling populer mengecek foto hoax adalah dengan menggunakan google image reverse. Sila simak langkah-langkahnya di sini http://jateng.tribunnews.com/amp/2017/05/08/begini-cara-google-mengecek-foto-video-apakah-hoax-asli-atau-palsu-baru-ataukah-lama

Selain google, bisa juga memanfaatkan situs https://tineye.com . Dengan memilih "oldest" pada kotak filter, Anda bisa menemukan siapa pengunggah pertama foto tersebut. Pengunggah pertama dapat menunjukkan pada kejadian apa konteks foto tersebut terjadi.

Berikut foto-foto hoax maupun foto kejadian benar terkait Rohingya yang dihimpun tim Crisis Center for Rohingya (CC4R); digrafiskan oleh teman-teman @pksart dengan mengaburkan gambar-gambar yang dinilai terlalu sadis (grafis susulan insya allah akan kami susulkan pula).

Ayo bantu Rohingya dengan tidak ikut menyebarkan foto hoax.

*@dettife | berkhidmat di lingkaran riset dan monitoring media; membantu pengelolaan isu di Crisis Center for Rohingya (CC4R).

Note: 10 foto hoax Rohingya sudah pula diposting Andy Windarto di laman facebooknya. Ga jadi saya share karena banyak disturbing picture, ya. Salam. Moga manfaat.









Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts