Senin, 20 November 2017

Bicara Setara

Flagstaff Garden
Beberapa teman awardees di Flagstaff Garden, Melbourne. detti's
Saya berjanji akan menulis dan berbagi, sepulang shortcourse Australia Awards untuk tema "Developing Leadership for Islamic Women Leader" (15 September-1 Oktober 2017) lalu.
Ini salah satunya.
Berdasarkan fakta bahwa awardees (para peraih award) berasal dari latar belakang institusi atau organisasi islam - mayoritas NU dan 10 orang dari Makassar - maka diskursus islam dan kesetaraan gender jadi tak terelakkan.
Namun sejak pre-course tiga hari di Makassar, hingga jelang usainya studi dua pekan di Australia tak sekali jua saya dengar ayat itu disebut tiap bicara gender equity.
Dalam diskusi yang lumayan hangat menghadirkan para kyai, profesor, doktor, dan ahli agama di Makassar yang dikutip selalu "ar rijaalu qowwamuuna 'alan nisaa .." (Quran Surat AnNisaa ayat 34).
Mungkin karena isu yang terangkat soal qaid. Qawwam. Leadership. Mungkin.
Hari terakhir kelas di Deakin University, Collins St Melbourne, yang sekonyong-konyong menjadi kelas Feminis Transformatif, penyajinya Mba Lies Marcoes notabene sesama awardee yang mengidentifikasi diri sebagai feminis liberal, saya sampaikan di forum - termasuk pada dua mentor Australian Dr. Rebecca Barlow dan Annemarie Ferguson - bahwa selain tentang keqowwaman laki-laki, kitabullah Al Qur'an juga punya ayat itu, ayat yang tersurat - bukan tersirat - bicara soal kesetaraan.
Al Ahzab (33) ayat 35.
"Innal muslimiina wal muslimaat, wal mukminiina wal mukminaat .."

Berikut terjemahan lengkapnya: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Sepuluh aspek peribadahan yang tersurat, bukan tersirat, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah.
"Dan ayat inilah yang saya mintakan sebagai mahar pernikahan pada suami saya."
Statemen yang tak urung berbuah gasps and mumblings (kesiap dan gumaman). Oke, good signs. Saya lanjut.
"33:35 itu semoga jadi pengingat bagi saya pun suami bahwa pada dasarnya kelamin tak membuat yang satu menjadi sub ordinat bagi yang lain."
Adapun perbedaan tanggungjawab memang disebabkan masing-masing berbeda peran. Harfiah bahwa laki-laki sampai kapanpun tak akan bisa menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Tentu ada asbab mengapa perempuanlah yang diberi peran maternal yang mulia ini.
Dan mungkin seperti yang dimaksud awardee dari PP Nasyiatul Aisyiyah, Rossy Siti Rahmawaty, feminisme ditakuti karena sering ditemukan praktek kebablasan. Jadi lesbian, leadership melampaui laki-laki, benci laki-laki, tak mau punya anak, punya anak tapi enggan disusui, enggan mengasuh anak, atau laku ekstrim serupa.
Paparan itu lalu saya tutup dengan mengutip ucapan Mba Lies sendiri bahwa it's ok bila feminisme punya banyak tafsir. Tak perlu satu tafsir dipaksakan untuk tafsir yang lain.
Di luar kelas beberapa pesan masuk, intinya mendukung paparan 33:35 yang nyaris tenggelam oleh arus pembicaraan feminisme transformatif  Sambil menyeruput ristretto kopi level 10, Bu Nurhayati Aziz, Ketua PW Aisyiyah Sulawesi Selatan beri saya hifive (tos) seraya bilang: "memang harus ada yang bicara seperti mba detti di forum tadi. Takut jadi liar tak terkendali."
*****
Di jenak itulah makin terang bahwa bincang kita soal leadership muslimah, atau muslimah dan kesetaraan gender tak akan bisa dihomogenkan. Dan saya hanya bisa mengira-ngira mengapa pemerintah Australia tertarik memberikan award untuk tema ini: islamic women leadership (dan bukan kebetulan kami berangkat bersamaan dengan teman-teman awardees dari tema kontraterorisme. Kedua kelompok ini bertemu di kesempatan dinner di Canberra).
Saya pribadi tak pernah menjuduli diri sebagai feminis. Namun juga memilih untuk tidak vis a vis dengan feminisme.
Mengapa? Karena ketidakadilan bisa hadir dalam banyak bentuk. Tersebab kelamin, rupa, level sosial.
Dan pada saat yang sama 'perlawanan' tidak harus selalu dilakukan dengan berteriak. Ada kalanya memupuk pembuktian jauh lebih penting.
Wallahu 'alam.

#archive 04102017 dan masih banyak yang terserak dan belum tersimpan di bilik ini. Semoga Allah berikan usia ..

Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts